Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Surat Jerami

victorc's picture

Surat Jerami

Oleh Victor Christianto

 

Shalom aleikhem,

Para pembaca yang terkasih, dalam artikel sebelumnya penulis menegaskan bahwa Injil Kasih Karunia yang ditawarkan oleh Yesus Kristus bukan berarti suatu anugerah yang murahan. 

Namun mungkin ada yang bertanya: loh kan anugerah keselamatan itu gratis? Gratis ya gratis, tidak perlu dengan syarat apa apa...

Ya memang benar, dan saya mengamini sepenuhnya hal pembenaran oleh iman (justification by faith alone, JBFA).

Namun, meski saya sungguh bersyukur untuk seorang Martin Luther yang menjadi nabi pada masanya, berdiri dengan tegar melawan kesewenang-wenangan para pejabat Gerejawi yang menyimpang pada saat itu, namun saya kira Gereja saat ini juga mesti menggumuli panggilan sesuai dengan konteks dan problem yang dihadapi masyarakat secara riil. Tidak banyak manfaatnya hanya mengulang-ulang JBFA, kalau kita justru tidak membuka telinga akan pergumulan masyarakat saat ini.

Salah satu hal yang saya kira Martin Luther kurang peka adalah kecamannya terhadap Surat Yakobus yang disebutnya surat jerami. Entah apakah pada masa itu Luther sedang mati-matian mempertahankan dalil JBFA, atau mungkin ada juga unsur kejengkelan bahwa sepertinya Surat Yakobus seperti menegaskan bahwa tidak cukup hanya oleh iman, orang juga perlu perbuatan baik. Sehingga generasi sesudahnya orang mulai membedakan antara Injil Rahmat (ala Surat Roma) dan Injil Karya (ala Surat Yakobus).

 

Makna Pistis

Penulis pernah berbincang dengan seorang yang paham bahasa Ibrani maupun Yunani, dan menurut beliau: kata pistis yang digunakan oleh Rasul Paulus dalam surat-suratnya memang telah memuat unsur kesetiaan atau setia dalam ketaatan kepada Tuhan. Atau dalam bahasa Inggris, faith itu sangat dekat dengan faithfulness -- seperti dalam lagu How Great Thy Faithfulness.

Namun Rasul Yakobus, yang juga disebut salah satu sokoguru jemaat Gereja perdana pada masa itu, menggunakan kata "iman" dalam pemahaman alam berpikir Yahudi - yang tidak serta merta berhubungan dengan kesetiaan. Karena itu ia bermaksud menandaskan bahwa iman tanpa karya adalah sia-sia. Jadi apakah Surat Yakobus membantah JBFA? Saya kira kita tidak perlu terburu-buru menyimpulkan hal seperti itu; namun demikian hal ini memang memerlukan kajian yang teliti.

Satu hal yang jelas adalah bahwa pemikiran Rasul Paulus yang menuliskan "dari iman memimpin kepada iman" (Rom. 1:17) justru mengutip dari Kitab Habakuk, sehingga tidak benar bahwa pengajaran Rasul Paulus dipengaruhi oleh Helenisme. 

Yang lebih tepat barangkali adalah pengajaran Rasul Paulus sepenuhnya berakar pada pemahaman Taurat yang sangat baik (sebagai salah satu lulusan dari sekolah kerabian dari guru Gamaliel), namun akar Yahudi itu sudah tercerahkan oleh perjumpaannya dengan Yesus, Sang Mesias yang hidup. Itu sebabnya, Rasul Paulus suatu kali menuliskan bahwa apa yang dahulu berharga baginya (seperti gelar Farisi, pengikut Taurat yang sangat ketat dsb), namun semuanya dianggapnya sampah. Terutama karena ia telah menemukan Yesus yang bangkit.

 

Apakah mungkin seseorang diselamatkan oleh perbuatan baiknya?

Lalu kita sampai pada pertanyaan ini: mungkinkah seseorang diselamatkan oleh perbuatan baik atau karyanya di dunia?   

Penulis percaya bahwa pada Hari Penghakiman terakhir nanti, seperti ditulis dalam Kitab Wahyu, semua kitab akan dibuka di hadapan Bapa di surga. Dan sejauh yang saya ketahui, para Rabbi yang terkemuka seperti Rabbi Kaduri almarhum, mengakui bahwa Mesias yang sejati adalah Yahoshua Hamashiah (2)-(3). Mungkin karena mendekati akhir hidup beliau, Rabbi Kaduri menyadari bahwa tidak ada jaminan keselamatan melalui Taurat Musa. Dan pengampunan dosa hanya datang dari Yesus Kristus.

Dengan kata lain, semua orang akan dihakimi oleh kitab yang dianut masing-masing. Jika misalnya dalam Hindu atau Buddha...Anda percaya bahwa dengan mematikan keinginan Anda akan mencapai Nirwana, ya Anda akan dihakimi apakah Anda telah mencapai standar kitab Anda tersebut.

Dalam hubungan ini, ijinkan penulis mengutip suatu percakapan yang kabarnya pernah terjadi antara para pendeta Brahman dengan Siddharta Gautama (Buddha). Gautama Buddha hidup sekitar 500 tahun sebelum Masehi, kira-kira pada masa yang sama dengan nabi Yeremia. Waktu itu para pendeta Brahman bertanya, apakah menurut Gautama Buddha mereka akan mencapai Nirwana? 

Buddha menjawab: "Tidak."

Lalu mereka melanjutkan, kira-kira begini: "Lalu apakah ajaran yang Engkau ajarkan juga membawa kepada Nirwana?"

Buddha menjawab lagi : "Tidak."

Para pendeta Brahman itu jadi bingung, lalu bertanya : "Kalau demikian, siapakah yang akan dapat membawa umat manusia pada keselamatan yang kekal?"

Buddha menjawab : "Bukan aku, tapi ada seseorang yang kelak akan datang."

Para pendeta Brahman itu kemudian bertanya lagi : "Apakah ciri-cirinya orang tersebut, sehingga kami akan dapat mengenalinya kelak?"

Buddha menjawab : "Ciri-ciri sang penyelamat sejati itu adalah : ada semacam lubang bekas paku di tangan dan kakinya."

Percakapan di atas memang menjadi perdebatan apakah betul pernah terjadi atau tidak (5), namun kabar yang saya peroleh catatan tersebut sudah tidak lagi dapat ditemukan di salinan Kitab Suci manapun, namun masih bisa ditelusuri di ensiklopedia Budhisme. Dan juga kabarnya, masih ada tertulis di dinding di salah satu wihara di Thailand. Ada seorang kenalan penulis yang kebetulan dosen di Thailand, dan penulis pernah bergurau kalau kenalan dosen tersebut dapat menemukan sisi dinding yang memuat percakapan tersebut di atas.

Satu hal yang juga menarik untuk dicatat, mengenai tangan dan kaki yang berlubang paku itu juga bisa dijumpai dalam Tetragrammaton: YHWH. Bila 4 huruf sakral ini dibaca dalam Ancient Pictographic Hebrew, maka akan terbaca: Yod He Vow He, artinya: "Lihat tangan, lihat paku."(6)

Jadi apakah benar dalam Yudaisme tidak dikenal ajaran mengenai keselamatan oleh iman ? Penulis tidak berpikir demikian, namun barangkali yang benar adalah ini: semuanya adalah anugrah, "pertobatan" juga anugerah, bahkan "iman" untuk menerima anugerah itu sendiri adalah juga anugerah. Meminjam diktum Luther yang terkenal: Sola Gracia, Sola Fide, Sola Scriptura, Solus Christos.(7)

 

Penutup

Demikian sekelumit ulasan ini kiranya berguna bagi para pembaca. Satu hal yang jelas adalah bahwa Kedatangan Yesus kali kedua telah sangat dekat. Dan jika Anda mau merendahkan diri dan datang kepadaNya untuk mohon pengampunan dosa di bawah kaki SalibNya, maka Ia akan menyelamatkan Anda pada Hari Penghakiman kelak.

Soli Deo Gloria.

 

Versi 1.0: 14 Mei 2021, pk. 20:14

VC

 

Bacaan:

(1) Totalitas penyertaan Tuhan | SABDA Space - Komunitas Blogger Kristen

(2) (PDF) The True Name of Messiah (review on Rabbi Kaduri's prophecy) | V. Christianto - Academia.edu

(3) https://www.sabdaspace.org/mesias

(4) Konsep Iman dalam Kitab Ibrani 11 dan Konsep iman menurut Kitab Yakobus (chapizzta.blogspot.com)

(5) Memang percakapan tersebut, juga bagaimana sebaiknya menginterpretasikannya, terus menjadi perdebatan: dhamma musings: Buddha Prophesized Jesus? (sdhammika.blogspot.com)

(6) Ancient Pictographic Hebrew: paleo hebrew letters and their meaning | The Ancient Hebrew Name For God Contains The Message Of The Gospel Of ... | Ancient hebrew, Hebrew names, Hebrew writing (pinterest.com)

(7) Sola gratia - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

__________________

Dari hamba yang tidak berguna (Lih. Lukas 17:10)

Prepare for the Second Coming of Jesus Christ.