Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

For such a time as this: suatu pembacaan pasca-kolonial

victorc's picture

"For such a time as this": suatu pembacaan pasca-kolonial

 

Shalom aleikhem, 

Bapak ibu dan saudara-saudari terkasih yang membaca artikel kami sebelumnya (1), mungkin ada yang bertanya-tanya dari mana asal frasa "mungkin justru untuk saat-saat seperti ini..." yang penulis gunakan. 

Para pembaca yang belum mengenali sumber frase kutipan tersebut, dapat membacanya di teks berikut di PL:

 

Ester 4:14

"Sebab sekalipun engkau pada saat ini berdiam diri saja, bagi orang Yahudi akan timbul juga pertolongan dan kelepasan dari pihak lain, dan engkau dengan kaum keluargamu akan binasa. Siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu."

Versi KJV adalah sebagai berikut:

Esther 4:14

"For if thou altogether holdest thy peace at this time, then shall there enlargement and deliverance arise to the Jews from another place; but thou and thy father's house shall be destroyed: and who knoweth whether thou art come to the kingdom for such a time as this?"

 

Latar-belakang pembacaan tersebut

Yang mendorong penulis menggunakan frase dari ayat tersebut, adalah mengingat korban yang telah cukup banyak baik pra-vaksinasi maupun pasca-vaksinasi (sejauh yang penulis ketahui, sudah mencapai 1117 orang di berbagai negara, lihat (1)). Dan besar kemungkinan akan terus bertambah junmlah tersebut, terutama karena penggunaan metode vaksin yang cenderung bersifat eksperimental.

Memang telah ada berbagai kajian teologi yang menggunakan metode pembacaan pasca-kolonial, khususnya mengenai kitab Esther (2)-(3).

Namun yang memotivasi penulis bukanlah sekadar mengutip berbagai kajian pasca-kolonialisme tersebut, melainkan dari beberapa tayangan dari seorang youtuber muda yang nasionalis. Salah satu di antara tayangan youtuber/IG-nya memuat temuan terbaru yang cukup menghebohkan di Eropa, yaitu kera yang berjalan tegak yang disebut Danuvius Guggenmosi yang ditemukan di Allgau, Bayern (5)(5a)(5b).

Diduga temuan tersebut merupakan nenek moyang dari bangsa Jerman. Dan jika benar demikian maka akan mematahkan anggapan umum bahwa semua manusia berasal dari Afrika (out of Africa hypothesis). (5)

Danuvius

Ilustrasi 1. Danuvius Guggenmosi (sumber: ref. 5a)

 

Yang menarik di sini, adalah temuan baru tersebut tampaknya menunjukkan bahwa bisa jadi pada zaman dahulu kera dan manusia pernah hidup saling berdampingan, seperti kisah wangsa kera yang kita kenal di kisah epik Ramayana.

Apakah benar demikian?

Dan apakah hal tersebut dapat menjelaskan berbagai candi besar di Nusantara yang dibangun oleh para leluhur kita zaman lampau, seperti Candi Borobudur dll, padahal dahulu belum ada buldoser atau ekskavator?

Jika benar ada peradaban kuno yang cukup maju, apakah mungkin hal ini berhubungan dengan teori yang dipaparkan oleh Stephen Oppenheimer: Eden in the East? (4)

Hal-hal inilah yang mendorong penulis untuk menerapkan frase dari kitab Esther di atas untuk konteks bangsa ini, artinya mari kita lebih menyadari pelbagai keanekaragaman hayati (biodiversity) yang Tuhan berikan sebagai berkah bagi bangsa ini, siapa tahu dapat berguna sebagai solusi bagi masalah-masalah kesehatan di pelbagai penjuru dunia.

Tentu perlu penelitian lanjutan dalam hubungannya dengan ethnomedicine, maupun sains lainnya, yang bertolak dari kelimpahan yang Tuhan berikan di Nusantara ini untuk kita semua.

Tuhan memberkati para pembaca sekalian.

 

versi 1.0: 14 februari 2021, pk. 0.32

VC


Bacaan lanjutan:

(1) V. Christianto. Catatan pinggir seputar kovid-19, imunitas dan solusi alternatif. url: Catatan pinggir seputar kovid-19, imunitas, dan solusi alternatif | SABDA Space - Komunitas Blogger Kristen

(2) J.J. Spoelstra. A postcolonial reading of Esther 8-9. OTE 28/1 (2015). url: http://www.scielo.org.za/scielo.php?script=sci_arttext&pid=S1010-99192015000100010

(3) C.S.S. Hatzaw. De Gruyter, 2021. url: https://www.degruyter.com/document/doi/10.1515/opth-2020-0144/html

(4) Stephen Oppenheimer. Eden in the East. url: Eden in the East: Benua Yang Tenggelam Di Asia Tenggara by Stephen Oppenheimer (goodreads.com)

(5) Artikel NewScientist tentang Danuvius Guggenmosi, url: Did apes first walk upright on two legs in Europe, not Africa? | New Scientist, (5a) Lihat juga: Danuvius, Kera Prasejarah yang Ubah Pandangan Tentang Evolusi Manusia | IPTEK: Laporan seputar sains dan teknologi dan lingkungan | DW | 08.11.2019; (5b) Menschenaffen Bayern: "Danuvius guggenmosi" im Allgäu gefunden | Bayern 1 | Radio | BR.de

__________________

Dari hamba yang tidak berguna (Lih. Lukas 17:10)

Prepare for the Second Coming of Jesus Christ.