Submitted by henso on

Suatu saat seorang pendeta berkotbah tentang "mati bagi Tuhan" dan dia mendasarkannya pada Kisah Para Rasul 7 : 54 - 60.
Selesai kotbah, dia menantang jemaat untuk berani mati bagi Kristus. Sebagian jemaat dengan menagis maju dan berkomitmen untuk berani memegang imannya, walau kematian menjuadi resikonya.
Setelah ibadah, terjadi diskusi antara 2 jemaat:
Jemaat 1 : "Kok Lo gak maju? Biasanya lo giat banget tuh nginjilin orang".
Jemaat 2 : Lo juga. Kan lo pengurus?
J1 : Kalo menurut gw, hidup bagi Tuhan jauh lebih penting dari pada mati  bagi Tuhan. Kan ada ayatnya di Fil 1 : 21.
J2 : Kalo menurut gw, bukan soal itu. Masalahnya adalah kita mesti pake hikmat dalam menghadapi kesulitan. Menurut aku stefanus kurang berhikmat dalam menginjil sehingga harus mati konyol seperti itu. Itukan Masuk sorga sih, tapi apa harus begitu-begitu amat?
J1 : Berhikmat bagaimana? Bagaimana kalo kamu menghadapi pilihan semacam itu? Menyangkal Yesus atau mati?
J2 : Aku yakin Tuhan akan memberikan hikmat seperti kasus yang dihadapi CS. Lewis ( pengarang kisah Narnia ). Suatu saat dia dihadapkan pada pilihan, "injak salib atau mati ditembak". Jika dia menolak menginjak salib, maka dia dan rekan rekannya akan ditembak. Dengan tenang CS Lewis menginjak, bahkan meludahi salib yang sudah ada di lantai itu. Karena melihat bahwa pimpinan rombongan sudah berani menginjak salib, maka para pengancamnya itu melepaskan rombongan itu. Teman temannya penasaran dan bertanya "bagaimana mungkin seorang teolog sekaliber kamu berani menyangkal Tuhan Yesus?" lalu CS. Lewis menjawab dengan sentai "Siapa bilang aku menyangkal Yesus? yang aku injak adalah salibnya penjahat dikanan kiri Tuhan Yesus.
Nah, itu hikmat Tuhan kan?
J1 : wah, kalo begitu Stefanus kurang berhikmat ya...
J2 : Ya kali. Dia kan cuma majelis untuk diakonia, pantas kurang mengerti hikmat Tuhan..

kedua jemaat itu terus berdiskusi tentang stefanus.

Aku berpikir, betapa ngawurnya 2 jemaat tadi. Mereka telah salah menafsirkan kasus stefanus. Stefanus adalah martir Tuhan pertama yang terbunuh bukan karena mati konyol, tetapi karena mempertahankan imannya.
Masalah terhadap J2 adalah sbb :
1. Lukas dengan jelas menyatakan bahwa Stefanus adalah orang yang penuh Roh Kudus, penuh hikmat dan kuasa ( Kis 6:5 dan 8; 7:55 ).
2. Allah sendiri menghargai dia, sehingga Yesus nampak berdiri disebelah kanan Allah Bapa ( Kis 7 : 55 - 56 ). Biasanya Alkitab menulis Yesus duduk disebelah kanan Allah Bapa. Tetapi kali ini Lukas mencatat bahwa Yesus berdiri. Mengapa Dia berdiri? menurut Pdt. Stephen Tong, Yesus berdiri untuk menyambut saksinya yang berani mengorbankan nyawanya bagi Dia.
3. Paulus juga menyatakan bahwa Stefanus adalah Martir Allah yang benar. ( Kis 22 : 20 ).

Masalah CS Lewis, ada 2 hal yang harus diperhatikan :
1. Dia lolos karena hikmatnya dan karena kebodohan pengancamnya. Bagi pengancamnya, salib harus = Yesus. Mereka tidak tahu bahwa salib dipakai oleh tentara Romawi untuk menghukum banyak orang, termasuk penjahat.
2. Lewis sama sekali tidak menyatakan penyangkalannya. Tindakannyalah yang ditafsirkan sebagai penyangkalan oleh musuh dan rekan rekannya. Dan Allah mengijinkan itu terjadi. Sementara Stefanus saat itu menghadapi ujian iman secara langsung, frontal dan sangat terbuka. Dia dibunuh karena pernyataan iman dan doktrin yang dia pegang.

Dengan demikian, 2 kasus itu seharusnya menjadi sebuah refleksi kita hari hari ini.
Jika kita diperhadapkan pada situasi seperti Stefanus, bisakah kita bertahan walau harus dibunuh? Atau kita lari dari keadaan dengan alasan hikmat.
Akankah kita menyangkali Tuhan? Atau kita akan menyerhkan nyawa seandainya memang harus demikian.
Aku selalu berdoa, "Tuhan, jika aku harus mati dengan cara demikian, berikan aku kekuatan untuk tidak menyangkali Engkau. Namun jikalau boleh, jangan bawa aku kepada situasi yang demikian."

"Karena bagiku Hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan"

Soli Deo Gloria.