Submitted by PlainBread on

Kepalaku menempel di kaca etalase toko sepatu. Sebuah toko yang berada di Pasar Baru, Jakarta Pusat. Menatap tak berkedip sepasang sepatu basket yang terpajang dibaliknya. Sepatu yang mirip dengan sepatu yang dipakai oleh banyak temanku di sekolah.

 

"Ma, belikan sepatu yang itu ya,"kataku kepada ibuku yang tiba-tiba ada di sebelah kananku. Kedua mataku pasti berbinar saat itu.

Ibuku yang baru saja keluar dari toko sepatu wanita di seberang, menggandeng tanganku dan kami bersama melangkah masuk ke toko itu. Hatiku berdebar. Apakah beliau akan membelikanku sepatu baru? 

Hari itu tepat dua minggu sebelum tanggal dua puluh lima Desember. Semua toko menawarkan diskon besar-besaran. Salah satu kebiasaan keluarga kami adalah berbelanja sepatu dan baju untuk menyambut hari raya. Sebuah kebiasaan yang dilakukan banyak orang.

Ibuku meraih sepasang sepatu yang tadi aku tunjuk. Seperti biasa dalam membeli sesuatu, beliau langsung melihat tempelan harga yang terikat di lubang tali sepatu itu. Seratus delapan puluh ribu rupiah. Beliau tersenyum.

"Teman-temanmu pakai sepatu ini ya?" Tanya beliau sambil tersenyum. Dia seakan bisa membaca isi pikiranku.

Aku mengangguk. Dalam hitungan detik, aku sudah memeluk kedua sepatu itu tepat di depan dadaku. Seakan keduanya sudah menjadi kepunyaanku.

Ibuku langsung duduk di tengah ruangan toko, di tempat duduk yang sengaja dipersiapkan bagi pembeli untuk mencoba sepatu yang mereka sukai.

Begitu melihatnya duduk, aku seperti bisa menebak apa yang akan dikatakan beliau. Apalagi saat itu toko tersebut memutar lagu Cranberries, "Ode to My Family". Rasanya aku mau menangis.

"Kamu tidak perlu sepatu dengan harga yang mahal seperti ini. Uangnya bisa kita pakai untuk membeli buku dan alat tulis buat kamu dan adikmu." 

Biasanya Ibuku terlihat cantik setiap kali dia menjelaskan suatu hal dengan pelan dan lembut. Tapi kali itu dia sama sekali tidak terlihat cantik di mataku.

"Tapi mama kan punya duit untuk beli sepatu ini buat aku."

Aku tidak mengerti jawabannya. Keluarga kami bukanlah keluarga miskin papa, walaupun juga bukan keluarga yang memiliki harta cukup untuk tujuh turunan,

"Iya, punya. Tapi kan mama pernah bilang, kalau kita juga punya banyak kebutuhan." Jawabnya untuk meyakinkan bahwa aku harus bisa mengerti.

Pelayan toko datang menghampiri kami. Menanyakan apakah aku mau mencoba sepatu tersebut sesuai dengan ukuran kakiku.

Ibuku menjawab dengan senyumnya yang khas,"Kami tidak akan membeli sepatu ini. Tapi dia boleh mencobanya 'kan, mbak?" 

Pelayan tersebut mengiyakan. Juga tersenyum.

Kadang aku berpikir, senyuman yang dilakukan oleh para wanita, apalagi wanita setengah baya, sepertinya adalah kode rahasia di mana hanya mereka yang tahu artinya.

Aku mencobanya. Bahkan berjalan berkeliling di dalam toko sambil memakai sepasang sepatu tersebut.

Lima menit sudah. Aku bingung apakah kesempatan aku mencoba sepatu itu adalah kebaikan yang ditawarkan kepadaku, atau malah membuat aku semakin kecewa karena akhirnya tidak mendapatkan apa yang aku inginkan.

Meninggalkan toko sepatu itu, aku dan ibuku menemui ayahku yang berada di sebuah toko arloji. Tampak beliau sedang melihat-lihat berbagai jam tangan yang dipajang.

"Pa, aku mau sepatu baru yang tadi aku lihat. Tapi mama bilang harganya kemahalan."Aku mengadu. Mengadu tentang apa yang baru terjadi, juga mengadu domba orang tuaku. Entah dari mana aku belajar hal tersebut.

Aku dengar mereka saling bertanya jawab mengenai sepatu yang aku inginkan. Hasilnya sudah bisa diduga. Seperti biasa, kalau sudah masalah uang dan belanja, ayahku menyerahkan keputusan kepada ibuku.

"Tapi aku gak mau terus-terusan pakai sepatu Bata." Jelasku setengah memohon. Aku rasa ini senjataku terakhir supaya mereka bisa mengubah pikiran mereka.

Ayahku tersenyum,"Iya, kali ini sepatu baru kamu gak akan Bata lagi." 

Ayahku benar. Sepatu baru yang dibelikan mereka untukku malam itu bukan Bata.

Tetapi sepasang sepatu bermerk Eagle.

 

Tiga tahun berlalu. Aku sudah SMA. Kelas satu, tepatnya. Tapi sekolahku yang baru ini termasuk agak bebas. Tidak lagi harus setiap hari berseragam, termasuk soal sepatu. Ada yang memakai sepatu berwarna merah, biru, kuning, bahkan ada yang memakai sepatu berwarna-warni.

Karena sepatu dan berbagai hal lainnya, persahabatan di sekolah tersebut terbagi-bagi. Aku termasuk ke dalam kelompok yang berpenampilan biasa saja. Kelompok yang tidak memakai sepatu berharga mahal, apalagi menyetir mobil untuk pergi ke sekolah.

Aku masih ingat di mana ada satu kelompok di sekolah kami yang terkenal karena mereka memakai sepatu yang seragam, bermerk Converse. Aku baru tahu dari membaca majalah yang dibawa oleh salah satu mereka, bahwa harga sepatu tersebut lebih mahal dari sepatu Bata atau Eagle. Belajar dari pengalaman, aku sudah tahu bahwa aku tidak akan dibelikan sepatu Converse jika aku memintanya kepada orang tuaku.

 

Temanku yang biasanya memakai sepatu Eagle seperti diriku, suatu hari datang ke sekolah memakai sepatu mirip seperti Converse. Darinya aku tahu bahwa harga sepatu yang dipakainya tidak jauh semahal sepatu Converse. Sepatu tersebut bermerk Warrior. Bahkan di Pasar Pagi di dekat rumahku, ada beberapa toko sepatu yang menjual sepatu Warrior. Harganya tidak jauh berbeda dengan harga sepatu Bata atau Eagle.

Tidak sampai sebulan, sudah ada beberapa orang yang memakai sepatu Warrior. Termasuk diriku. Perbedaan semakin tampak, terutama di antara yang memakai sepatu Warrior dan yang memakai sepatu Converse.

Bahkan pernah suatu hari kedua kelompok ini bertanding bola basket. Apakah kelompokku menang walaupun memakai sepatu murah? Sayangnya, kelompok yang menang walaupun memakai sepatu murah tampaknya hanya terjadi di dalam sebuah film atau di sebuah novel. Kelompokku kalah telak, biarpun sudah jatuh bangun menghadapi teman-teman kami yang memakai sepatu Converse.

Sampai saat itu, aku tetap tidak mengerti kenapa orang tuaku tidak pernah mau membelikanku sepatu basket seperti Nike, Reebok, Adidas, bahkan sepatu Converse yang harganya agak lebih murah dari lainnya.

 

Kalau aku tidak salah, bukan saja sepatu basket yang digemari oleh remaja-remaja seusiaku. Ada juga sepatu berbahan kulit. Bermerk Dr Martens. Sebagian pelajar di sekolahku menyebutnya dengan istilah Docmar. Ada juga yang memakai istilah DM. Bahkan ada yang menyebutnya dengan istilah sepatu Pak Dokter. Istilah yang terakhir ini datang dari para pelajar di kelompokku, kelompok yang sehari-harinya memakai sepatu yang berharga di bawah lima puluh ribu. Yang memakai sepatu Dr Martens memang jadi kelihatan gagah. Bahkan tidak jarang teman-temanku yang wanita di sekolah yang lain juga memakainya. Penampilan mereka jadi jauh lebih menarik. Aku sudah bisa menebak, harganya pasti tidak murah.

Aku cukup memakai sepatu Eagle atau Warrior. Bahkan pernah sesekali aku memakai sepatu DragonFly, atau kata temanku, sepatu Shaolin. Bentuknya yang pipih dan sederhana memang membuat sepatu tersebut mirip dengan sepatu yang dipakai para bhiksu Shaolin di film-film Kung Fu. Harganya bahkan lebih murah daripada sepatu Eagle atau Warrior.

 

Kalau dulu aku mencoba sepatu basket di sebuah toko, berbeda dengan sepatu Pak Dokter. Aku mencoba memakai sepatu milik salah seorang teman baikku. Namanya Artha. Walaupun dia memiliki semua sepatu yang aku inginkan, mulai dari sepatu basket yang bermerk, Converse sampai Dr Martens, tapi dia orangnya baik hati dan tidak sombong (bahkan suka menabung, menurut pengakuannya).

 

Suatu hari dia mengunjungi rumahku untuk bersama-sama mengerjakan tugas rumah. Ibuku yang sedang ada di rumah, menyambutnya dengan cara yang menurut aku sedikit aneh.

"Wah, ini toh yang namanya Artha. Kamu siapanya Pak Cipto Mangun Kusumo, nak?" Sapa Ibuku.

Bikin malu saja. Ketahuan kalau aku menceritakan kepada ibuku mengenai si Artha.

"Saya cucunya, tante". Jawabnya sambil malu-malu.

Beberapa hari setelah kedatangannya, aku bertanya kepada ibuku, apakah aku juga seperti Artha, keturunan pahlawan, raja atau pangeran. Ibuku menyebutkan suatu nama, suatu nama yang kedengarannya tidak begitu asing bagiku.

Beberapa bulan kemudian, sewaktu aku berada di Perpustakaan Nasional yang ada di jalan Salemba, aku baru mengetahui bahwa nama tersebut disebut-sebut di dalam beberapa buku dan surat kabar cetakan lama, atau mungkin bisa dibilang kuno. Bukan pahlawan, apalagi seorang raja. Tapi malah dikatakan sebagai seorang pemberontak besar dan sempat masuk penjara. Semoga ibuku mengada-ada tentang hal itu.

Di kamarku, aku bertanya apa aku boleh memakai sepatunya. Mungkin kedengaran aneh buat si Artha, tapi aku tidak peduli. Aku mencoba dan berkaca di dalam kamarku. Bau kaki temanku tercium dari dalam sepatunya juga tidak aku pedulikan.

"Enak ya,"Kataku saat itu. Yah, namanya juga sepatu mahal, demikian pikirku. Dia hanya menyahut,"Kalau enak makan aja." Kami berdua tertawa.

Setiap kali dia ditanya berapa harga sepatu-sepatu yang dimilikinya, dia selalu mengaku tidak tahu. Entah dia bilang itu pemberian paman, tante, sepupu, atau relasi orang tuanya sehingga dia tidak tahu harganya. Untungnya dia tidak pernah bilang dia mendapatkan sepatu tersebut di jalan, karena kalau begitu tidak akan ada yang pecaya dengan alasan-alasannya.

 

Persahabatan kami bertambah akrab juga karena sepatu tersebut. Suatu hari sepulang sekolah, dia dihadang oleh segerombolan pemuda dari SMA lain, tepatnya dari sebuah sekolah teknik. Saat itu aku tahu dia pergi ke sekolah memakai sepatu Dr Martens.

Itu yang aku sesalkan. Walaupun setiap hari dia naik bus atau metromini seperti diriku, dia selalu memakai sepatu-sepatunya yang berharga mahal. Aku pernah mengingatkannya, kalau dia tidak hati-hati sepatunya bisa diminta paksa. Dipalak, begitu istilah orang Jakarta. Dan akhirnya benar-benar terjadi.

Saat itu saatnya semua pelajar pulang sekolah. Salah seorang pelajar sekolah kami berlari-lari ke arah sekolah sambil berteriak,"Artha jatuh, dikeroyok anak-anak STM!" sambil menyebut nama sebuah sekolah.

Beberapa orang yang aku tahu sekelompok dengan Artha karena sama-sama memakai sepatu basket yang mahal, malah berlari menghindar. Muka mereka pucat ketakutan. Beberapa dari mereka setahuku malah pernah bertaruh sesuatu dengan mempertaruhkan kunci mobil mereka. Mungkin orang tua mereka punya banyak pesawat, sehingga tidak membutuhkan mobil lagi.

 

Sambil melangkah cepat aku bertanya kepada orang yang berteriak itu, di mana si Artha. Dia hanya menunjuk arahnya. Singkat cerita, aku melihat dirinya sudah terduduk di jalan raya, dan tampak jelas kakinya hanya mengenakan kaos kaki. Sepatunya sudah hilang.

Dari ratusan pelajar yang baru saja pulang seusai sekolah, hanya tiga orang yang berada di sampingnya, termasuk diriku. Sekolah kami tidak pernah berkelahi dengan sekolah lain. Kalau pun berkelahi, biasanya satu lawan satu. Tidak pernah main keroyokan apalagi tawuran, istilah yang digunakan pelajar di Jakarta untuk perkelahian yang melibatkan puluhan atau ratusan orang.

Saat itu jelas tidak sebanding. Kami hanya berempat termasuk dirinya. Muka Artha terlihat merah, jelas kalau dia dipukuli dulu sebelum dipalak. Yang datang dari arah berlawanan bertambah banyak dan beberapa membawa rantai, penggaris besi, bahkan ada yang mengayun-ayunkan linggis.

Walaupun saat itu aku tahu aku tergabung dalam kelompok bela diri, dan kesemua temanku di situ juga begitu, tapi cuma hanya di film atau di cerita silat bahwa pertarungan seperti ini akan dimenangkan oleh kelompok yang jumlah orangnya sedikit. Semua pelajaran bela diri yang aku peroleh tidak bisa aku ingat saat itu. Yang aku ingat adalah memasang kuda-kuda kaki dan tangan yang kokoh. Tampaknya itu juga yang dilakukan kedua orang pelajar yang lain di sebelahku, sehingga kami bertiga membentuk garis memagari Artha.

Aku hanya bisa bergumam,"Tuhan, tolong kami." Bukan apa-apa, saat itu aku lagi pendekatan ke seorang gadis di sekolah lain yang pernah dikenalkan kepadaku beberapa minggu sebelumnya. Rasanya tidak adil kalau aku mati di saat aku belum memacarinya.

Entah kenapa, mereka semua -yang beberapa dari mereka sudah mulai melempari batu- tampak berlari menjauhi kami. Doaku dijawab! Saat itu aku pikir ada berlaksa-laksa malaikat dari sorga turun melindungi kami.

Ketika aku menoleh ke belakang, ternyata ada puluhan pelajar dari sekolah lain yang sudah berlari menuju ke arah mereka. Jumlahnya kelihatan jelas lebih banyak. Ternyata mereka yang berlari di belakang kami berasal dari sebuah sekolah yang kami tahu sudah bertahun-tahun bermusuhan dengan sekolah tempat para pelajar yang mencuri sepatu Artha.

 

Itulah sekelumit kisahku mengenai sepatu. Mengapa aku menceritakannya? Karena pagi ini istriku membawa bingkisan, entah apa isinya. Dia duduk di sebelahku, dan menyerahkannya kepadaku.

"Ini hasil dari gaji pertamaku. Sebagian besar aku berikan ke gereja dan aku kirim ke papa mama, sisanya aku belikan ini untukmu."

Dia tersenyum.

Berbunga-bunga rasanya, karena untuk ulang tahunku saja aku jarang mendapat hadiah. Maklum, keluargaku tidak begitu terbiasa merayakan ulang tahun. Tidak ada angin, tidak ada hujan, apalagi ulang tahun, tapi hari ini mendapat sebuah kado. Begitu aku buka, aku tambah berbunga-bunga.

Sepatu Pak Dokter!

 

Terima kasih, ya :)