Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Pokoke "feel good be nice"?

victorc's picture

Pokoke "feel good be nice"?

 

Oleh Victor Christianto

Tim Sahabat Pemulihan LGBTQ

 

Shalom aleikhem,

Ketika di artikel sebelumnya penulis menyampaikan bahwa persahabatan Daud dan Yonatan tidak identik dengan hubungan gay, dan juga bahwa kami membentuk Tim Sahabat Pemulihan LGBTQ, mungkin ada di antara pembaca yang bergumam: kok seperti kurang kerjaan ya, mengurusi orang-orang LGBTQ? 

Ya, di tim Sahabat Pemulihan LGBTQ, kami berusaha tidak hanya menyalahkan, namun mencari akar masalahnya. Kadang- kadang kami membahas juga isyu-isyu terkini misalnya selebritas yang pindah gender alias menjadi transgender (seperti OL dan DR).

Yang unik justru DR yang mengaku lebih nyaman dengan kondisi transgender setelah menjadi Nasrani. Lho ini piye ? Cerita punya cerita, akhirnya kami menjumpai gejala bahwa kekristenan pada era postmo ini kerap direduksi menjadi prinsip "feel good be nice.* Artinya kadang pendeta mungkin memberi kesan bahwa tidak apa menjadi transgender atau lesbi yang penting pelakunya "nyaman" dengan hal tersebut.*

 

***

Mungkin para pembaca ada yang bertanya: memangnya ada hamba Tuhan yang menganjurkan perilaku LGBTQ? Jangan salah. Kira kira bulan lalu, seorang sahabat dan juga anggota tim Sahabat Pemulihan LGBTQ menelpon penulis, dan bercerita bahwa ada sekelompok pemuda di gereja tempat beliau bernaung yang menjumpai  seorang pendeta yang memiliki hubungan sesama jenis.**

Salah satu ciri khas adalah penggunaan panggilan khusus seperti: MyBoo, Butchy, kepada "pasangan" sesama jenisnya.

Memang ada ciri-ciri khas yang mudah dikenali sebagai tanda tanda awal perilaku LGBTQ. Misalnya kalau yang gay, ada ciri:

- kaos v neck

- anting di telinga kiri

- cincin di jari kelingking

Memang kalau ada laki-laki menggunakan kaos v neck, belum tentu dia gay. Namun itu salah satu indikator awal.

 

Penutup

Memang kita sedang memasuki masa-masa akhir zaman. Hendaklah kita menjaga hidup kita agar tidak ikut-ikutan pola dan tingkah langkah dunia ini.

Tuhan menguatkan para pembaca sekalian.

 

Ayat nats untuk kita renungkan bersama:

 

1 Petrus 4:2-3 (TB) " ...supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah. 

Sebab telah cukup banyak waktu kamu pergunakan untuk melakukan kehendak orang-orang yang tidak mengenal Allah. Kamu telah hidup dalam rupa-rupa hawa nafsu, keinginan, kemabukan, pesta pora, perjamuan minum dan penyembahan berhala yang terlarang."

 

Amin.

 

Versi 1.0: 24 April 2021, pk. 12:56

VC

 

Catatan:

*Mengenai kekristenan feel good be nice ini sudah kami bahas dalam sesi webinar bulan Maret lalu. Sila melihat di channel YouTube : Sahabat Pemulihan.

**Pendeta tersebut seorang wanita.

 

Bacaan:

(1) Feel good Christianity. Url: https://www.google.com/amp/s/www.genecurl.com/podcast/2019/5/9/feel-good-christianity%3fformat=amp

(2) Lihat komentar Terry Galloway di: What does "feel-good Christianity" actually mean, as some pastors preach? (ebible.com)

"There are many terms that are related to "feel-good" Christianity but all of them are some form of false teaching. Some others that are answered well on the Gotquestions.org web site are prosperity gospel (http://www.gotquestions.org/prosperity-gospel.html), cheap grace, antinomianism, hyper-grace and easy believism. "Feel good" Christianity is preaching a gospel different from the true gospel that starts with no one is good and no one seeks God. (Psalm 14:3, Psalm 53:3, Romans 3:11-12) In order to be popular and big churches, they don't want anyone to feel bad which goes against the preaching of truth."

__________________

Dari hamba yang tidak berguna (Lih. Lukas 17:10)

Prepare for the Second Coming of Jesus Christ.