Submitted by ground on

“Pada mulanya Allah…(Kej.1:1)”. Allah-lah permulaan; penyebab; pencipta dari apa yang tidak kita lihat menjadi kita lihat. Dia menciptakan langit dan bumi-dan segala apa yang kita lihat dan yang tidak kita lihat. Pada mulanya, Dia mencipta dengan perintah firmanNya. Ini bukanlah MUJIZAT atau Tanda atau Keajaiban, karena semua itu tadi terjadi setelah penciptaan awal selesai. Ini mengenai PENCIPTAAN. Menciptakan semesta alam; galaksi ke galaksi….jadi bumi hanyalah bagian kecilnya. Kitab Kejadian lebih menitik-beratkan kepada penciptaan di sebuah planet bernama BUMI (--di atas , di dalam dan di bawahnya), ketimbang menceritakan mengenai penciptaan galaksi-galaksi. Dan hingga hari ke enam Ia menciptakan semuanya, dan semua yang Ia lihat itu dikatakan “sungguh amat baik”!

Dari hari pertama hingga ke enam, semua itu adalah PEKERJAAN yang ‘sama klasifikasinya’ yaitu PENCIPTAAN. Namun di hari ke tujuh Dia melakukan hal yang berbeda dibandingkan yang sebelumnya, yaitu: “memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu”. Di hari ke tujuh, Dia berhenti melakukan pekerjaan PENCIPTAAN-Nya.

Apakah Dia benar-benar berhenti dalam arti istilah/term manusia yaitu BERHENTI /STOP bekerja? Saya percaya...Dia tidak ‘berhenti’. Di Ibrani dikatakan Dia “menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan.” (sustaining the universe with his powerful word –GNB). Dia tidak hanya menciptakan, Dia juga menopang hingga masa sekarang dan ke depan. Dia mencipta dengan firmanNya yang berkuasa, Dia juga menopangnya dengan firmanNya yang berkuasa. Apakah Dia menopang dalam arti istilah kata kerja manusia yaitu menopang dengan usaha kekuatan? Tidak, Dia menopang semesta sekaligus istirahat dalam peristirahatanNYa. Dia berhenti dan menguduskan hari ke tujuh itu. Dan hari peristirahatan itu menjadi POLA yang juga kita harus ikuti dalam hidup kita. Janji tempat peristirahatanNya masih berlaku bagi kita di masa sekarang ini (Ibr.3:1-11).

Balik lagi ke ‘jalur’....Dia menciptakan segalanya. Maka itu ‘besertaan’ dengan hukum-hukum alam. Nama-nama hukum alam adalah nama yang diberikan manusia kepada pola-pola pasti yang ada di alam yang diciptakanNya. Contoh: Hukum Gravitasi, hukum aeorodinamis, hukum Hukum alam adalah akibat dari PENCIPTAAN yang mana PENCIPTAAN itu juga adalah akibat dari TUHAN sendiri (Sang Penyebab-THE CAUSE). Hukum alam yang kita kenali sekarang adalah sedikit dari BUKTI BESAR akan firmanNya yang menopang segala sesuatu. Bila tidak demikian, maka seluruh semesta ini akan hancur bertabrakan dan tentu Dia akan didapati tidak berdaulat sama sekali. Namun bagaimanapun Dia tetap tidak “terkurung” dalam hukum alam itu, karena Dialah The Cause dan PENCIPTA. Masih ada banyak MISTERI yang kita TIDAK AKAN PERNAH TAHU, selain yang sudah terungkap maupun beberapa lagi yang akan terungkap oleh manusia.

Kita merasa pasti bahwa Dia TIDAK LAGI MENCIPTAKAN sesuatu (setelah PENCIPTAAN itu) yang tidak kita pernah ketahui atau ‘rasakan’ dengan indera kita maupun yang tidak bisa kita ‘rasakan’ dengan indera kita hingga Dia datang kembali. Namun juga Dia tetap bekerja dan menopang segalanya. Meskipun segalanya telah selesai dan berjalan ‘NORMAL’, namun Dia tetap ‘bekerja’ di dalam apa yang diciptakanNya. Dia tetap dapat mengintervensi secara khusus dalam waktu khusus demi tujuan khusus di dunia yang sudah jatuh ini, yang mana –bagi saya—itulah MUJIZAT atau TANDA atau KEAJAIBAN. Apakah intervensiNya karena Dia ‘tiba-tiba ada perubahan rencana yang tidak diketahuiNya sebelumnya atau karena Dia ada sedikit kegagalan pengawasan dalam ‘bisnis mengurus semesta dan isinya’? Tidak, pemikiran demikian tentu merendahkan diriNya. Tidak ada satu titik atau atompun yang bergerak di luar pengetahuanNya dan rencanaNya. Dia bertindak dalam HIKMAT TANPA BATAS dan Tindakan yang PRESISInya SEMPURNA. Intervensi Allah adalah istilah dari manusia yang dibatasi oleh waktu dan pengetahuannya terhadap apa yang dialaminya. Karena tidak ada kejadian apapun yang perlu dilihat atau diketahui sebelumnya oleh Allah. Jadi intervensi Allah bukan karena ada kecelakaan yang tidak diketahuiNya atau terlewat dariNya. Tetapi bagi Allah, intervensi itu adalah bagian caraNya untuk menyatakan kemuliaanNya; untuk berbicara kepada manusia/umatNya; untuk menjawab doa anak-anakNya; untuk menghakimi; dan seterusnya.

Intervensi Allah adalah mujizat, tanda & keajaiban bagi manusia, manusia yang sudah jatuh maupun yang sudah dibaharui. Namun bagi Dia itu adalah hal yang sama mudahnya dengan PENCIPTAAN pada awalnya dan tidak keluar dari Rencana BesarNya karena HIKMATNYA tanpa batas itu dan TINDAKANNYA yang presisinya sempurna. Intervensi Allah dalam bentuk mujizat, tanda & keajaiban adalah bukti bahwa Dia terlibat aktif dalam hidup manusia (tetap bekerja), bukti kedaulatanNya mengatasi ciptaanNya dalam bentuk apapun, bukti kekuatan kuasaNya, dan untuk mempermalukan yang berhikmat dari dunia ini.

Mujizat; tanda; keajaiban—meskipun beberapa darinya dapat diverifikasi dengan ilmu pengetahuan manusia, namun tetap tidak akan mampu menjelaskan alasan dan cara kerjanya. Contoh saja: pembentukan bayi di dalam rahim, meskipun pada beberapa hal telah banyak dijelaskan ilmu pengetahuan, tetap masih banyak misteri mengenai hal itu tentang dari apa yang tidak ada menjadi ada. Allah dipuji karena menyimpan misteri, ‘raja’ (saintis; pemikir; pemimpin;...dst) dipuji karena menyelidiki rahasia.

Mujizat; tanda; keajaiban—yang dikerjakan Tuhan baik melalui manusia maupun langsung olehNya seringkali terjadi sekali saja dalam sejarah ataupun berulangkali tetapi beranekaragam bentuk. Banyak dari manusia inginkan Dia melakukan tanda dan keajaiban yang sesuai dengan imajinasi liar manusia, bahkan hingga imajinasi terliar yang sanggup dipikirkan manusia. Namun Tuhan tidak membiarkan diriNya terkunci dan didikte sekalipun oleh manusia. Apa yang Dia lakukan begitu unik dan benar-benar merendahkan hikmat manusia. Sewaktu Dia menyatakan mujizat; tanda ; keajaiban tertentu seringkali itu artinya Dia SANGAT SERIUS berbicara bagi seseorang atau sekelompok orang atau bahkan hingga bangsa-bangsa. Sebenarnya mujizat, tanda dan keajaiban yang tertulis di alkitab memiliki arti yang terus harus kita sadari dan selidiki dengan bantuan Roh Kudus. Pengetahuan manusia dalam menyelidiki soal bagaimana terjadinya itu tidak memiliki otoritas apapun untuk menghakimi mujizat; tanda; keajaiban itu. Mujizat; tanda; keajaiban itu sendiri yang menghakimi, bukan hasil penelitian (yang hasilnya terbatas) mengenai mereka itu. Penelitian yang hasilnya terbatas itu seharusnya mendorong kita untuk semakin merendahkan diri, memujiNya dan takut kepadaNya.

Intervensi Allah dalam bentuk mujizat; tanda; keajaiban setelah PENCIPTAAN hanya semakin menunjukkan dan menyatakan bahwa Dia BEBAS melakukan apa saja (kecuali dosa) kapan saja untuk membawa pada Rencana kekalNya tanpa GANGGUAN atau BATASAN dari APAPUN bahkan oleh hukum-hukum alam yang dikenali manusia. Tidak ada apapun yang dapat menghentikanNya. Dia tidak sedang melanggar hukum alam yang dikenal manusia, karena hukum alam itu hanyalah akibat dan Dia BERDAULAT. Hukum alam yang dikenal hanya berlaku bagi CIPTAAN bukan bagi PENCIPTA. Dan Dia tidak sedang melanggar ketetapanNya mengenai hukum alam ini karena kita TIDAK MENGETAHUI SEMUANYA dan karena DIA membuat ketetapan-ketetapanNya untuk manusia bukan untukNya karena Dialah SUMBER OTORITAS. Dia tidak memerlukan ketetapan apapun karena Dia memang sebagaimana adanya Dia....tetap dan tidak pernah berubah dari dulu, sekarang sampai selama-lamanya.

Jadi sekarang apakah memang bermanfaat dalam memahami secara ilmiah bagaimana terjadinya mujizat-mujizat di alkitab? Atau lebih baik percaya ‘buta’ saja? Saya pikir, kedua-duanya sama-sama berpusat pada “peristiwa mujizat” dalam cara berbeda. Berusaha memahami cara terjadi ataupun percaya ‘buta’ pada mujizat bukan hal yang penting prioritasnya dan jawaban yang ada sering tidak memuaskan dan malah bisa mengalihkan perhatian kita kepada maksud yang lebih penting yaitu apa yang Tuhan mau katakan dengan adanya mujizat (tanda dan keajaiban) itu kepada kita secara pribadi dan atau bersama-sama (Ibr.2:1-4; Ibr.3:7-12) .

Heb 2:1-4 Karena itu harus lebih teliti kita memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut dibawa arus. Sebab kalau firman yang dikatakan dengan perantaraan malaikat-malaikat tetap berlaku, dan setiap pelanggaran dan ketidaktaatan mendapat balasan yang setimpal, bagaimanakah kita akan luput