Submitted by anakpatirsa on

        Tiga hal sudah lenyap dari kota ini.

        Satu, pisang goreng.

        Sudah kukelilingi kota untuk mencarinya. Hanya kutemukan dua, satu di samping gedung pertemuan Tambun Bungai, dekat lapangan Sanaman Mantikei, tempat mangkalnya para bencong. Satunya lagi di jalan Yos Sudarso, dekat kampus, hanya seratus meter dari tempat kosku dulu. Harganya seribu rupiah sepotong. Pisang molen lebih murah, seratus rupiah sebiji, seukuran ujung kelingking.

        Dulu aku begitu mengenal pisang goreng. Bila saudaraku membelinya, sebelum menghabiskan satu potong, aku sudah tahu di mana mereka membelinya; setelah menghabiskan sepuluh potong, aku sudah tahu siapa yang menggorengnya. Aku bisa mengetahuinya karena begitu mengenal kota ini. Mengenal semua jalan dan gangnya. Mengenal semua jalan dan gang yang ada pisang gorengnya.

        Tiga tahun aku menjadi penjual kayu bakar. Tiga tahun itu, bersama dua anak tante aku mengelilingi kota ini. Setiap sore, dengan mobil pickup, kami menuju Tangkiling melewati Jalan Cilik Riwut. Di kilometer 1, di depan Pasar Kahayan, kami membeli pisang goreng. Perjalanan selanjutnya tidak terasa karena sambil makan pisang goreng. Di kilometer 17 kami kembali berhenti, membeli kayu bakar seharga 75 rupiah seikat. Selanjutnya kembali ke kota, mengelilinginya. Menjual kayu bakar seharga 100 rupiah seikat.

        Mengelilingi kota setiap hari bukanlah pekerjaan yang tidak membosankan. Tidak ada yang bisa dilakukan kecuali melihat kiri dan kanan jalan, serta menghitung penjual pisang goreng. Dan melihat siapa-siapa di antaranya yang sedang berlibur.

        Aku juga mengenal beberapa tempat yang hanya menjual pisang goreng. Sejenis pasar gorengan. Deretan meja dekat rumah sakit yang paling kukenal. Pernah aku ke sana setiap hari selama hampir sebulan gara-gara adik laki-lakiku masuk rumah sakit. Ia mematahkan kakinya ketika menyeberangi bundaran, Bundaran Besar. Bundaran yang menjadi pertemuan lima jalan utama, hanya orang kampung yang berani menyeberanginya.

        Semua sudah berubah. Pasar pisang goreng dekat rumah sakit itu sudah menjadi kompleks pertokoan. Puluhan meja di pinggir jalan depan Pasar Kahayan sudah tidak ada, tertutup pagar seng. Deretan warung pisang goreng di Jalan Yos Sudarso, di depan kampus, juga sudah tidak ada, sudah menjadi warung internet.

        Penjual pisang goreng sudah tidak ada lagi. Menurut cerita, ada yang mati di samping wajannya.

        Sisanya pergi, dan tidak akan kembali.

***

        Tiga hal sudah lenyap dari kota ini.

        Dua, teriakan “sate”.

        Aku tidak mendengarnya lagi. Teriakan itu begitu khas, kami tidak akan pernah bisa menirukannya. Teriakan itu meramaikan setiap jalan. Seperti teriakan kodok yang selalu terdengar dari kubangan setelah hujan berhenti, teriakan itu selalu ada setiap malam.

        Mereka berkeliaran di seluruh pelosok kota. Ada yang tinggal begitu jauh dari tempatnya berjualan, sehingga harus mendorong geroboknya sebelum jam empat sore. Baru setelah sampai di wilayahnya, berteriak, “Sate … Sate.”

        Aku jarang membeli sate, aku tidak bisa mengetahui penjualnya yang mana hanya dengan mencicipinya. Tetapi aku bisa mendengar teriakan penjual sate dari jarak ratusan meter.

        Teriakan itu tidak pernah kudengar di Jogja atau Solo. Di sana ada juga penjual sate. Gerobaknya unik, berbentuk kapal. Mereka tidak bisa berteriak “sate … sate”, mereka hanya bisa memukul kentongan kecil. Bunyinya “dug... dug.... (atau ”ting … ting” bila yang dipukul mangkok).

        Tetapi sekarang, di kota ini pun teriakan itu tidak lagi terdengar.

        Kutanya, mengapa?

        Katanya tukang sate sudah tidak ada. Katanya ada yang mati ketika mendorong gerobaknya.

***

        Tiga hal sudah lenyap dari kota ini.

        Tiga, becak.

        Bagiku sebuah kenangan, kenangan menaikinya pertama kali. Ayah memangkuku padahal aku ingin duduk di sampingnya. Namun tempat asing membuatku menjadi penurut. Aku takut hilang.

        Saat itu sebuah sepeda motor mendahului kami, bau asapnya lain dari yang biasa. Bertahun-tahun, setiap kali mencium bau yang sama lagi, aku melihat kembali apa yang kulihat saat pertama kali naik becak: jalan, rumah, orang dan apapun yang tertangkap mataku.

        Bau itu memicu sesuatu.

        Kenangan lain tentang becak ada di masa yang sama. Ayah membawaku ke kampung orang tuanya. Ketika kembali ke kota, saat merapat ke dermaga, kapal paman harus bergerak di antara dua kapal yang sedang bertambat. Semua orang mengeluarkan tangannya, menahan kapal yang ada di kiri atau kanannya. Aku juga ikut mengeluarkan tanganku.

        Tidak banyak yang kuingat setelah itu. Kurasakan ayah menggendongku, membawaku naik sebuah becak, lalu aku tertidur. Ketika bangun, ayah tidak ada dan aku berbaring di sebuah ruangan asing berbau aneh. Bau yang kemudian membuatku selalu melihat seorang laki-laki yang ada warna putih di lututnya. Ia memiringkan kepalanya ke arahku, wanita yang berdiri di samping mendekatkan mangkuk ke mukanya. Lelaki itu memuntahkan cairan berwarna merah yang sangat banyak.

        Baru ketika Dein, adik laki-lakiku masuk rumah sakit gara-gara bundaran, aku tahu saat itu umurku masih tiga tahun. Ayah menceritakan kepada semua orang yang menjengguk adikku, dulu ia juga pernah terpaksa mengantarkan anak laki-lakinya yang lain gara-gara ikut-ikutan memegang kapal yang sedang merapat. Dan harus tinggal di kota ini selama sebulan. Itu terjadi bulan Juni ’80. Bulan dan tahun didapat setelah para pendengar bersama-sama menghitung liburan panjang kedua setelah seorang menteri membuat semua murid harus tinggal di kelasnya selama satu setengah tahun.

        Bila mereka bisa menghitungnya gara-gara pernah tinggal di kelas selama delapan belas bulan, maka aku mengingatnya hanya dengan melihat telunjuk kananku yang bengkok. Bila melihat jari yang pernah patah itu, aku ingat tukang becak yang memegangku sebelum ayah naik, sebelum aku pingsan.

        Tetapi sekarang tidak ada lagi tukang becak di kota ini.

***

        Tiga hal sudah lenyap dari kota ini: pisang goreng, sate dan becak.