Submitted by Andy Ryanto on
Bagiku yang jauh ini, mengikuti perkembangan di tanah air belakangan ini merupakan hiburan tersendiri, rasanya seperti menonton serial mini seri dimana setiap episodenya selalu disertai klimaks yang kemudian menyisakan rasa penasaran sebagai pengantar ke episode berikutnya. Salah satu judul episode yang paling dinikmati adalah Cicak vs Buaya, benar-benar menegangkan. Kemudian dilanjutkan dengan episode Century yang tidak kalah serunya, dan sekarang sedang menikmati episode Markus. Untunglah tidak ada yang protes karena penggunaan istilah Markus, bayangkan kemungkinan yang terjadi jika yang digunakan istilah yang menyerupai sebuah nama di kitab suci lain.
 
Kasus Gayus yang diduga terlibat Markus mengingatkan kepada Zakheus, maka segera kucari cerita Zakheus di Injil Markus….eh kok tidak ada, mungkin Markus lupa menuliskannya, ya sudahlah tidak perlu dipermasahkan, karena toh Injil sudah tidak bisa ganggu gugat. Dan untuk gampangnya kumasukkan kata kunci ‘Zakheus’ di menu cari yang ada di online bible ‘Sabda’, ternyata Zakheus ada di Lukas.
Apa persamaan Zhakeus, Markus, Gayus, dan Yesus? Yang jelas sama-sama namanya berakhiran ‘us-us’. Dan paling menarik adalah Zhakeus dan Gayus, mereka sama-sama petugas pajak dan juga sama-sama koruptor , yang satu tidak dicatat dalam Injil Markus, yang satu terlibat Markus. Mereka sama-sama lari, yang satu lari dan memanjat pohon, yang satu lari dan terbang ke Singapura.   Yang satu bertemu Yesus, yang satu (mungkin) tidak.
 
Injil tidak mencatat berapa dana Zakheus yang ada di rekening atau di gentong penyimpanan uang. Tetapi jika dilihat dari persentase dana yang berhasil dimanipulasi oleh keduanya, dapat dipastikan hampir 100 % kekayaan Gayus yang terakhir adalah hasil korupsi perpajakkan, sedangkan Zakheus kemungkinan paling banyak hanya 12,5% kekayaannya hasil dari korupsi yang sama. Berdasarkan Lukas 19:8 , hitung-hitungan sederhananya begini: Zakheus tentu tidak akan memberikan semua hartanya baik kepada orang miskin maupun korban tindak pidana korupsinya. Atau anggap saja, ia berbuat demikian, maka seandainya harta terakhir Zakheus tercatat di SPT tahunan Rp 80 milyar, Rp 40 milyar akan diberikan kepada orang miskin, sisanya Rp 40 milyar (4 kali lipat) akan diberikan kembali kepada para wajib pajak yang berhasil diperasnya yaitu sebanyak Rp 10 milyar. Dengan demikian kekayaan Zakheus yang tidak halal diperkirakan tidak lebih dari Rp 10 milyar atau 12,5% dari total harta terakhir yang dimilikinya.
 
Bagaimana dengan Gayus? Menurut laporan media, total jenderal gaji terakhirnya sebulan sekitar 12,1 juta dengan masa kerja 5 tahun. Kalaupun gajinya dari bulan pertama kerja sama terus sampai gaji terakhir, serta tidak dipakai sama sekali dan hanya ditabung tanpa memperhitungkan bunga maka total harta dari gajinya 726 juta. Tetapi, berapa dana terakhir yang ada di rekeningnya, tidak kurang dari Rp 25 milyar! Ini belum termasuk Alpard, Mercedes, Ford everest, istana di Kelapa Gading, serta aset-aset yang belum terungkap lainnya. Kalau Gayus bertemu Yesus di Singapura, sudah pasti ia tidak berani berjanji, sekalipun cuma janji iman, seperti Zakheus. Bagaimana mungkin ia bisa memberi setengah hartanya kepada orang miskin dan mengembalikan empat kali lipat untuk korban pemerasannya jika semua hartanya hampir 100% persen hasil korupsi. Mana ada koruptor yang akhirnya malah nombok? Kalaupun ada, itu namanya koruptor ghendeng, sudah koruptor – ghendeng lagi. Dan lagi pula apa jadinya kalau orang-orang miskin diketahui menerima aliran dana dari Gayus, mungkin KPK harus pindah kantor ke Gelora Bung Karno untuk melakukan pemeriksaan dan penahanan.
 
Jika saja kedatangan pertama Yesus adalah sekarang ini, mungkin Dia akan bertemu Gayus bukan Zakheus. Bisa jadi bagian Injil yang mencatat peristiwa ini akan berpasal-pasal, tidak hanya beberapa beberapa ayat. Tak dapat dihindari bahwa Yesus pun akan diduga oleh Bareskrim Polri menerima aliran dana dari Gayus, karena ada bukti rekaman yang beredar di Youtube bahwa Yesus pernah bertamu dan makan bersama di rumah Gayus. Selain itu, satgas anti-markus akan membidik Yesus dengan dugaan sebagai bagian dari jaringan markus yang sudah sistemik di Dirjen perpajakan. Indikasi lainnya adalah mengingat hanya sebagai mantan pengusaha kecil furniture, Yesus satu-satunya penyelenggara KKR atau tablig akbar yang pernah memberi makan gratis 1 potong roti besar + 1 ekor ikan. Jika satu paket (roti+ikan) saja sudah Rp 25,000,  maka hanya untuk makan, belum termasuk minum, paling tidak dibutuhkan Rp 125 juta. Ini belum termasuk juga sewa tempat, keamanan, sound system, operasional panita, dan iklan. Di luar kasus ini saja, Yesus masih harus menghadapi ancaman pidana penodaan agama, kasus-kasus pembakaran rumah ibadah, percecokan internal di antara para pengikutNya, tuduhan internasional mengenai pelecehan seks terhadap anak-anak oleh para pembantuNya, dan bahkan juga sedang diintai dengan sangkaan UU anti teroris.
 
Dan tiba-tiba semua menjadi jelas dan terang bagiku bahwa kalau sedang membaca Alkitab harus fokus jangan sambil membaca kompas.com atau detik.com apalagi sambil mendengarkan Elshinta-streaming, akibatnya terjadi ekses dari karunia imajinasi. Ampuni aku ya Bapa!