Submitted by Indonesia-saram on

Dalam suatu acara yang diadakan untuk seorang staf yang berulang tahun di kantor kami , kami mengadakan sejumlah permainan yang diakhiri dengan doa. Namun sebelum berdoa, rekan kami itu menyampaikan harapan-harapannya. Dan ketika ia menyampaikan hal-hal tersebut, saya menangkap sesuatu yang menarik.

Dalam tuturannya, ia menyebutkan bahwa kuliahnya kadangkala terasa memberatkan. Kalau mengerjakan tugas, seringkali ia harus tidur sampai pagi. Nah, "tidur sampai pagi" inilah yang menarik untuk dibicarakan. Mari kita lihat.

Secara normal, setiap orang akan tidur setelah hari malam. Biasanya setelah lelah beraktivitas seharian, tubuh memerlukan istirahat. Dibutuhkan setidaknya delapan jam untuk tidur dan memulihkan kondisi tubuh ke keadaan semula. Tentu saja untuk orang-orang tertentu, tidur kurang dari delapan jam sudah menjadi hal yang biasa. Dan umumnya, karena tidur di malam hari, kita akan kembali bangun pada pagi hari, tentunya dengan tubuh yang lebih fit. (Tentu saja kalau kita tidur dengan cukup dan memang menjaga kondisi tubuh kita.)

Nah, mari kita kembali ke "tidur sampai pagi" itu. Kalau kita melihat apa yang umumnya kita lakukan, siapa pun pasti akan tidur sampai pagi karena kita selalu bangun di pagi hari. Ketika berangkat tidur malam hari, kita akan terlelap terus (tentunya kalau kita tidak punya penyakit yang memungkinkan kita terbangun) dan baru bangun di pagi hari. Dengan demikian, kita memang tidur sampai pagi, kecuali kita baru bangun siang-siang.

Tentu saja hal tersebut berbeda dengan apa yang dimaksud oleh penuturnya. Berdasarkan tuturan yang disampaikan, saya menangkapnya sebagai tidur larut atau baru berangkat tidur setelah larut malam atau malah dini hari. Hal ini dipertegas dengan informasi bahwa tugas-tugas kuliahnya cenderung memaksanya bekerja hingga larut malam. Karena baru selesai dini hari, barulah ia dapat tidur pada dini hari. Kiranya inilah yang membuat rekan tersebut mengatakan "tidur sampai pagi" bukannya "tidur larut" atau "tidur dini hari".