SAMBUNGAN dari PENDAHULUAN (BAGIAN 11-2)-AKHIR BAGIAN 11
![]()
Konsep Setan pada Era Sekarang di Negeri Tercinta Indonesia
Melalui Para Pendeta dan Pengkhotbah
Tidak dapat dipungkiri bahwa konsep Setan, yaitu mengenai sepak terjang dan asal muasal setan yang didengar hampir semua masyarakat (Kristen) di Indonesia adalah berasal dari ‘kendaraan’ agamanya dan dalam hal ini adalah dari para pembicara (pendeta) nya.
Daftar Pendeta dan Pengkotbah Kristen (berpengaruh) di Indonesia:
1. H.L Senduk
Pdt Prof Dr Ho Lukas Senduk, lebih dikenal dengan sebutan HL Senduk atau Om Ho, terlahir Ho Liong Seng (Ternate, 4 Agustus 1917-Jakarta, 26 Februari 2008) adalah seorang hamba Tuhan dan pendiri Gereja Bethel Indonesia.
Pdt HL Senduk adalah anak pertama dari lima bersaudara, tiga pria dan dua wanita yaitu: Ho Goat Go, Ho Goat Song (wafat tahun 1947), Ho Liong Hoat, dan Ho Liong Goan (wafat tahun 1989). la mengikuti pendidikan sekolah dasar di HIS (Hollands Inlandsche School) dan sekolah lanjutan tingkat pertama di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) di Manado.
Ayah Om Ho, Ho Koei Sioe (wafat tahun 1965), adalah seorang pedagang berwarga negara Singapura, yang memulai usahanya di Ternate, dan kemudian pindah ke Manado, pada awal abad ke-20. Ayahnya menganut kepercayaan Kong Hu Cu. la menjadi Kristen saat menjelang ajalnya. Ayahnya pernah menjadi "kapitan", yaitu pemimpin para pedagang keturunan Cina di Manado. Ibunya, Tjan Oen Nio (Oemi, wafat tahun 1972), seorang keturunan Tionghoa yang memiliki hubungan dengan kerajaan Ternate, juga seorang pemeluk Kong Hu Cu. Pada masa tuanya ia menjadi pengikut Yesus. Keadaan ekonomi mereka cukup baik; termasuk keluarga pertama yang memiliki mobil di Manado.
Pada umur 16 tahun, Ho merantau ke Ambon. Di sana ia bekerja di perusahaan minyak BPM (Batavsche Petroleum Maatschappij). Di sini, ia menjadi pengikut Yesus. Ia menerima baptisan Yesus pada tanggal 19 April 1935. Baptisan Roh Kudus dialaminya seminggu kemudian, 26 April 1935. Ia menjadi anggota Gereja Pantekosta (De Pinkster Gemeente in Nederlandsche Indie).
Pendidikan dan pekerjaan
Pada tahun 1936, ia memutuskan untuk belajar di Surabaya, di sekolah Alkitab Netherlands Indies Bible Institute (NIBI). Di sana ia tinggal di rumah gurunya, Pdt Frans Gerald van Gessel. Setamat dari pendidikan, tahun 1939, ia memutuskan untuk merintis jemaat di Banda Neira, Maluku. Waktu itu, tahun 1937, Gereja Pantekosta berubah nama menjadi "De Pinkster Kerk in Nederlandsch Indie". Setahun kemudian, tahun 1940, ia kembali ke Surabaya. Sambil melayani, ia kembali bekerja di perusahaan ekspor-impor "Borsumij". Tanggal 26 September 1940, ia menikah dengan Helen Theska (The Koan Nio, wafat tahun 1992). Pada tahun itu juga perusahaannya memindahkan ia ke Jakarta.
Di Jakarta, ia bekerja di Borsumij sampai tahun 1942, dan berhenti bersamaan dengan masuknya penjajah Jepang. Ia melanjutkan mata pencahariannya dengan menjadi pedagang kecil, yaitu menjual kacang, limun, dan telur. Sementara itu, ia terlibat dalam pelayanan di jemaat, dalam bidang anak dan pemuda. Pada masa pendudukan Jepang, Gereja Pantekosta berubah nama menjadi Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI). Ia menjadi sekretaris pimpinan pusat (Badan Pengurus Umum) GPdI ketika itu. Pada tahun 1945-1946, ia ditugaskan menggembalakan jemaat Pantekosta di Tasikmalaya, Jawa Barat. Kembali ke Jakarta ia tetap dalam layanan jemaat. Dan di tahun 1950, ia ditugaskan menggembalakan jemaat GPDI di Petamburan, Jakarta. Ia dan istri dikaruniakan tiga anak: Hanna Hosiany Senduk (1944), Steve Hosea Senduk (1947), dan Inge Hosiany Senduk (1954). Mereka juga mengangkat Hadi Satyagraha dan Yosia Satyagraha sebagai anak mereka.
Mendirikan Gereja
Karena merasa tidak cocok dengan rekan kerja lainnya, pada 9-10 Agustus 1952, di Surabaya, Ho dan beberapa rekannya, mendirikan Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS). Ia menjadi ketuanya (Ketua Badan Penghubung) sejak tahun 1955. Pada masa kepemimpinannya GBIS menjadi anggota DGI (Dewan Gereja-gereja di Indonesia, sekarang PGI). Bersamaan dengan itu (1952), ia membentuk yayasan Bethel yang bertugas sebagai pendukung kegiatan gereja dalam pelayanan penginjilan, pendidikan teologi, pendidikan umum, kesehatan, dan sosial lainnya.
Kursus Sekolah Penginjil Bethel (SPB) diselenggarakan sejak tanggal 7 April 1956. Sekolah Pendidikan Guru Agama (Kristen) Protestan dimulai pada tahun 1968, yang sempat berubah nama menjadi Sekolah Menengah Agama Kristen (SMAK) dan kini bernama Sekolah Menengah Theologia Bethel (SMTB). Pada tahun 1968 juga dimulai Akademi Theologia Bethel (ATB). SP, PGA, dan ATB dikenal sebagai Seminari Bethel (SB).
Ia juga aktif di LAI (Lembaga Alkitab Indonesia) sebagai anggota Badan Pengurus selama tahun 1966-1980. Ia merintis dan pembangun kerja sama dengan salah satu Gereja Pantekosta terbesar di Amerika mulai tahun 1967, yaitu COG (Church of God) yang berpusat di Cleveland, Tennessee, Amerika Serikat. Pendidikan sekolah lanjutan atas diteruskannya melalui pendidikan jarak jauh, dan berhasil tamat dari HBS/LOI (Hogere Buger School/Leid se Onderwijs Instelling) negeri Belanda. Ia mengikuti kursus tertulis jurnalistik dan publisistik dari Leiden dan Rotterdam negeri Belanda untuk mendukung program penerbitan majalah Penyuluh. Setelah itu ia meneruskan pendidikan perguruan tingginya melalui studi jarak jauh di sekolah teologi "Americas Bible College" dan "American Divinity School" Chicago, Amerika, dan dianugerahi gelar D.D. (Doctor of Divinity) pada tahun 1968. Di tahun 1960-an ia mengubah nama menjadi Ho Lukas Senduk.
Jemaat "Eben Haezer" di Jl. Wahid Hasyim 67 Jakarta didirikan pada tahun 1958, dulu disebut Jemaat "Asem Lama". Beberapa Jemaat yang didirikannya lagi yaitu antara lain: Karang Anyar, Rangkasbitung, dan Sukabumi.
Mendirikan GBI
Pada 6 Oktober 1970, di Wisma Oikumene, Sukabumi, Jawa Barat, ia bersama beberapa temannya mendirikan GBI (Gereja Bethel Indonesia) karena tidak dapat bekerja sama dengan rekan-rekan lainnya. Ia menjadi ketuanya pada Sidang Sinode II, di Jakarta, tahun 1972. Tugas ini, ia kerjakan sampai tahun 1994, Sidang Sinode X GBI, di Jakarta. Selanjutnya ia melayani sebagai Ketua BPR, Badan Pembina Rohani GBI.
STE (Sekolah Theologia Extension) didirikannya pada tahun 1972; buku-buku pelajaran ditulisnya sendiri. Ia sempat merintis jemaat baru di Vlaardingen, Belanda selama tahun 1975-1977; sekarang dilayani oleh Dr. S.K. The, Rev. Adrian Koppens dan Ir Steve H Senduk. Tahun 1981, ATB mulai menyelenggarakan program Strata Satu dan merubah nama menjadi Institut Theologia dan Keguruan Indonesia (ITKI) pada tahun 1983. Program Strata Dua dimulai pada tahun 1991. SB pada tahun 1983 berubah nama menjadi Lembaga Pendidikan Theologia Bethel Jakarta (LPTBJ). Ia turut membangun perumahan sederhana di Tangerang pada tahun 1988 melalui YPK (Yayasan Pemukiman Kemanusiaan) yang bekerja sama dengan HFHI (Habitat for Humanity International) di Americus, Georgia, Amerika. la dipilih menjadi anggota Badan Pengurus COG selama 1989-1992; untuk itu ia harus berada di Cleveland selama sebulan setiap tahun. Pada tahun 1990, ia mendapat gelar Profesor Emeritus dari Sekolah Teologi COG. Tahun 1998, ia membuka pelayanan pendidikan teologi jarak jauh melalui Sekolah Tinggi Teologi Terbuka Nusantara.
Pada masa kepemimpinannya, GBI menjadi anggota Dewan Pantekosta Indonesia (DPI), mendirikan Persekutuan Injili Indonesia (PII), dan masuk anggota Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI).
Akhir hayat
Pdt HL Senduk berpulang pada 26 Februari 2008, setelah lebih dahulu ditinggal istrinya tercinta, dan meninggalkan visi 10000 gereja GBI bagi generasi berikutnya.
2. Romo Mangun Wijaya
Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, Pr. (lahir di Ambarawa, Kabupaten Semarang, 6 Mei 1929 – meninggal di Jakarta, 10 Februari 1999 pada umur 69 tahun), dikenal sebagai rohaniwan, budayawan, arsitek, penulis, aktivis dan pembela wong cilik (bahasa Jawa untuk "rakyat kecil"). Ia juga dikenal dengan panggilan populernya, Rama Mangun (atau dibaca "Romo Mangun" dalam bahasa Jawa).
Romo Mangun adalah anak sulung dari 12 bersaudara pasangan suami istri Yulianus Sumadi dan Serafin Kamdaniyah.
3. Niko Njotorahardjo (Healing Movement)
Pak Niko sebagaimana ia akrab disapa, lahir di Bondowoso, Jawa Timur, 20 Februari 1949. Ia adalah seorang pendeta dan tokoh gereja di Indonesia. Saat ini beliau adalah Gembala Sidang dari GBI Jl. Gatot Subroto Jakarta.
Awal pelayanannya, beliau dipercaya sebagai Worship Leader dan diusulkan menjadi Pendeta oleh Pdt. DR. Abraham Alex Tanuseputra (Pendiri GBI Bethany). Pada tahun 1988 dipercayakan oleh Pejabat GBI Bethany yang berpusat di Surabaya dibawah Pdt. DR. Abraham Alex Tanuseputra, untuk membuka dan menggembalakan GBI Bethany di wilayah Indonesia Bagian Barat. Hal ini ditandai dengan Ibadah Perdana GBI Bethany Jakarta pada hari Minggu, 4 September 1988 di Gedung Wisma Karsa Pemuda, Senayan. Dalam kelanjutannya, GBI Bethany wilayah Barat di bawah penggembalaan Pdt Niko berkembang sangat pesat baik dari jumlah cabang yang telah mencapai sekitar 800an cabang gereja lokal di dalam negeri dan luar negeri, 6000 kelompok Family Altar dengan sekitar 250 ribu jemaat.
Saat ini Pdt. Niko menjabat sebagai Pengarah Jaringan Doa Nasional dan anggota Majelis Penasehat Sinode Gereja Bethel Indonesia dan juga menjabat sebagai Ketua Umum Persekutuan & Pelayanan Hamba Tuhan Garis Depan PPHTGD.
Pada SPGI 2010, terjadi rekonsiliasi antara Pdt. Dr. Ir. Niko Njotorahardjo dengan Pdt. Prof. DR. Abraham Alex Tanuseputra dan Pdt. DR. Ir. Timotius Arifin Tedjasukmana sehingga terjadi unity/kesatuan hati kembali di antara mereka, para pemimpin Bethany setelah sempat terjadi ketidakharmonisan diantara mereka.
Saat ini Pdt. Dr. Ir. Niko Njotorahardjo sudah banyak melakukan Kebaktian Kebangkitan Rohani atau yang biasanya disebut dengan KKR, dan sering dinamakan dengan Healing Movement Crusade, dan telah banyak jiwa-jiwa yang telah dimenangkan. Dia merupakan Penasehat Church of GOD yang tergabung dalam The Council of Eighteen Church of GOD selain itu dia juga memiliki kekhasan dalam menyampaikan khotbah serta lagu-lagu gubahannya selalu menjadi jawara di dunia musik ‘rohani’.
4. Gilbert Lumoindong (GL Ministry)
Gilbert lahir di Jakarta, 23 Desember 1966 merupakan seorang pendeta asal Indonesia yang terkenal sebagai salah satu pembawa acara "Penyegaran Rohani Agama Kristen" di RCTI pada tahun 1992-1997.
Saat masih kecil, Gilbert sempat mengalami sakit syaraf yang ia derita sampai usia 10 tahun sebelum kemudian ia sembuh dan memutuskan untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Pada usia 17 tahun Gilbert mulai aktif sebagai pengkhotbah di beberapa organisasi pemuda Kristen.
Gilbert kemudian kuliah di Lembaga Pendidikan Teologi dan Indonesia dan lulus diploma pada tahun 1990. Ia kemudian melanjutkan studi teologinya di Institut Teologi dan Pendidikan Indonesia.
Nama Gilbert Lumoindong mulai dikenal saat ia bergabung dalam pelayanan Gospel Overseas (GO) Studio dan menjadi host acara siaran penyegaran rohani Kristen Protestan di RCTI di tahun 1991. Tak dipungkiri, karena seringnya muncul di layar televisi, pamornya pun kian meningkat. Apalagi, ia juga sering mendapat permintaan untuk menjadi pembicara di berbagai KKR dan acara-acara rohani lainnya.
Pengkhotbah yang menyampaikan khotbahnya dengan jenaka ini adalah Pendeta yang paling sering mengadakan KKR yang bukan hanya diadakan oleh gerejanya sendiri (GBI Glow) tetapi juga diundang oleh gereja-gereja serta persekutuan inter-denominasi baik di dalam ataupun di luar negeri. Sebuah majalah Kristen bahkan menyebutnya sebagai "Tele-vangelis" karena dia sangat memaksimalkan sarana-sarana penginjilan seperti TV dan Radio.
Saat ini ia masih aktif sebagai pengkhotbah baik di stasiun TV maupun radio dan memimpin sekitar 8.000 jemaat yang tergabung dalam GBI Glow Fellowship Centre.
5. Franz Magnis Suseno
Prof. Dr. Dr.-h.c. Franz Magnis-Suseno, SJ (nama asli: Franz Graf von Magnis atau nama lengkapnya Maria Franz Anton Valerian Benedictus Ferdinand von Magnis (lahir di Eckersdorf, Silesia, Jerman-Nazi (kini Bo?ków, Nowa Ruda, Polandia), 26 Mei 1936. Ia adalah seorang tokoh Katolik dan budayawan Indonesia. Ia berasal dari sebuah keluarga bangsawan. Magnis-Suseno juga dikenal sebagai seorang Direktur Program Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara.
Sebagai seorang pastur Magnis-Suseno memiliki panggilan akrab Romo Magnis. Magnis-Suseno datang ke Indonesia pada tahun 1961 pada usia 25 tahun untuk belajar filsafat dan teologi di Yogyakarta. Tiba di Indonesia, dia langsung mempelajari bahasa Jawa untuk membantunya berkomunikasi dengan warga setempat. Setelah ditahbiskan menjadi Pastor, ia ditugaskan untuk belajar filsafat di Jerman sampai memperoleh gelar doktor di bidang filsafat dengan disertasi mengenai Karl Marx.
Sebelum menjadi warganegara Indonesia pada tahun 1977, Magnis-Suseno adalah seorang warga Jerman yang bernama Franz Graf von Magnis. Saat berganti kewarganegaraan, dia menambahkan 'Suseno' di belakang namanya.
Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan dalam bentuk buku dan artikel. Buku "Etika Jawa" dituliskan setelah ia menjalani sabbatical year di Paroki Hati Kudus Yesus di Sukoharjo Jawa Tengah. Buku lain yang sangat berpengaruh adalah "Etika politik" yang menjadi acuan pokok bagi mahasiswa filsafat dan ilmu politik di Indonesia. Magnis dikenal kalangan ilmiah sebagai seorang cendekiawan yang cerdas dan bersahabat dengan semua orang tanpa pandang bulu. Banyak kandidat doktor yang merasa dibantu dalam menyelesaikan disertasinya.
Franz Magnis mendapat gelar doktor kehormatan di bidang teologi dari Universitas Luzern, Swiss.
6. Yesaya Pariadji
Pak Pariadji, sebagaimana ia akrab disapa saat ini menggembalakan sebuah gereja dengan denominasi sendiri yang disebut Gereja Tiberia Indonesia (GTI).
Sebelum berdiri sendiri sebagai sebuah sinode, Tiberias merupakan salah satu jemaat yang tergabung dalam wadah sinode Gereja Bethel Indonesia (GBI), sehingga disebut sebagai GBI Tiberias.
Pak Pariadji awalnya adalah seorang non-Kristen dan orang yang sangat sukses dalam karirnya dalam pemerintahan dan bisnis. Pada tahun 1985, ia mengalami pertemuan supranatural dengan Tuhan Yesus, di mana Tuhan mengundangnya untuk melihat Kerajaan Surga dan menyuruh dia untuk membaca Alkitab. Pada awalnya dia menolak dan kemudian mulai membaca Alkitab ketika ia sakit dan lumpuh. Setelah itu, ia disembuhkan secara ajaib.
Dia menerima tugas khusus dari Tuhan untuk mendirikan sebuah gereja yang bernama Tiberias, seperti di gereja mula-mula, di mana orang yang mendapatkan kesembuhan dan perubahan hidup. Pengabaran itu dilakukan melalui sarana Perjamuan Kudus dan Minyak Urapan.
Gereja Tiberias sendiri berdiri pada 17 Agustus 1990. Awalnya Pak Pariadji menjual aset-aset berharganya untuk kemudian mendirikan Gereja Bethel Indonesia Jemaat Tiberias. Pengkhotbah-pengkhotbah yang pernah berkhotbah di gereja ini pada awal perjalannya sangat banyak. Ada beberapa nama pendeta yang sempat menjadi pembicara di Gereja Tiberias seperti Pdt. Erastus Sabdono, Pdt. John Hartmann, Pdt. Franky Pantouw, Pdt. Ara Siahaan, Pdt. Samuel Sie, Pdt. Gilbert Lumoindong, Pdt. Yuda D. Mailool, dan Pdt. Josua Tumakaka. Bahkan sampai saat ini beberapa nama seperti Pdt. Petrus Octavianus, Pdt. Sudarmadji Said, Pdt. Dolf Mailangkay, Pdt. John Adhiguna masih tercatat sebagai pembicara tetap di Tiberias.
Setelah adanya keputusan dari sinode GBI, bahwa nama-nama jemaat seperti Tiberias ini harus dihilangkan, kemudian Pdt. DR. Yesaya Pariadji, sebagai gembala sidang GBI Tiberias, memisahkan diri dan membentuk sinode sendiri. Gereja Tiberias Indonesia mempunyai wadah pelayanan untuk kaum muda dengan nama "Boanerges Youth Ministry", berpusat di Balai Sarbini, Jakarta.
Gereja Tiberias Indonesia (GTI) setelah Tiberias menjadi sebuah gereja dengan sinode sendiri atau Tiberias Ministry adalah salah satu sinode gereja Kristen Protestan di Indonesia dengan salah satu ciri khasnya adalah pelayanan Kesembuhan Ilahi melalui perjamuan kudus dan minyak urapan.
7. Stephen Tong
(bahasa Tionghoa dalam pinyin: Tang Chongrong) adalah seorang pendeta Kristen yang dilahirkan di Xiamen, provinsi Fujian, Republik Rakyat Cina pada 1940. Ia kemudian menjadi warganegara Indonesia dan saat ini tinggal di Jakarta dan sejak usia 17 tahun telah dipanggil untuk menjadi penginjil. Ia adalah salah satu tokoh teologi Reformed terkemuka, mengadakan seminar-seminar di seluruh dunia secara teratur setiap tahun. Ia juga mendirikan Stephen Tong Evangelistic Ministries International (STEMI) dan anggota International Consultants of the Lausanne Committee of World Evangelization. Selain seorang pendeta, ia juga seorang komposer, konduktor, artis, dan arsitek.
Pdt. Stephen Tong selama 25 tahun mengajar teologi dan filosofi di Seminari Alkitab Asia Tenggara di Malang dan saat ini mengajar di Sekolah Tinggi Teologi Reformed Injili Indonesia (STTRII) di Jakarta yang ia dirikan. Ia telah menulis lebih dari 75 buku.
Pada tahun 1990 ia mendirikan Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII), termasuk sebuah seminari, Institut Reformed, Jakarta Oratorio Society, departemen literatur, dan pusat penerjemahan teologi, serta pusat aktivitas-aktivitas evangelistik, seminar, dan konseling. Pada tahun 1996 Pdt. Tong mendirikan Reformed Institute for Christianity and 21st Century di Washington D.C., Amerika Serikat.
Ia dikenal sebagai pengritik keras gerakan Karismatik, New Age Movement, Postmodernisme, Seni Kontemporer, psikologi, budaya Barat, budaya Timur, filosofi, dan Teologi Kemakmuran. Sebagai pendeta, ia memiliki pengetahuan luas di bidang seni, musik, filsafat, sejarah, dan arsitektur. Ia telah menulis banyak lagu gereja, menulis banyak buku rohani dan merancang beberapa bangunan gereja.
Seminar-seminarnya diadakan di berbagai kota di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Surabaya; dan di kota-kota mancanegara seperti di Cambridge (Massachusetts Institute of Technology), Hong Kong (China Graduate School of Theology), Taiwan (China Evangelical Seminary), Singapura (Trinity Theological College), Westminster Theological Seminary, Regent College, Columbia University, University of California at Berkeley, Stanford University, University of Maryland, dan Cornell University. Ia menyampaikan kotbah dalam bahasa Indonesia, Mandarin, dialek Fujian, dan Inggris.
8. Bigman Sirait
Menurut pengakuannya, Bigman Sirait mengalami pertobatan pada bulan Juli tahun 1981. Sebelumnya, ia hidup dalam kegelapan dosa, mulai dari perkelahian hingga berbagai tindakan tak terpuji lainnya. Masih sesuai pengakuannya, karena kemurahan-Nya, Tuhan menjamah dan mengubah hidupnya yang dulu gelap. Di tahun yang sama, Tuhan menempatkannya melayani di lingkungan dunia anak-anak yang tidak pernah ia sukai. Sebagai orang yang kasar ia tak bisa ramah pada anak-anak, sebagaimana yang ia alami ketika masih anak-anak, dikasari oleh yang lebih tua. Melayani di sekolah minggu sungguh sebuah realita yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
T