Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Kalah cacak menang cacak

mujizat's picture

Di "dunia persilatan" Kristen, urusan pengampunan bagi orang mati masih tetap menjadi sebuah paradoks yang cukup besar. Satu perguruan menganut paham bahwa bagi orang mati SUDAH TERTUTUP KESEMPATAN untuk bertobat, dengan dalih beberapa potong ayat Alkitab yang menurutnya meyakinkan. Untuk paham ini, maka raport terakhir ditentukan di saat hembusan nafas terakhir. Lalu perguruan lain bersikeras bahwa masih ada kesempatan bagi orang mati untuk "berubah". Jadi untuk yang ini, maka masih ada kesempatan "remidi" atau "ujian perbaikan" atau "re-registrasi" atau "her-registrasi" (kalau ada istilah yang salah, silahkan dibetulkan). Ada kemungkinan Tuhan bingung menghadapi dua kelompok ini.

Kalau pengampunan dosa buat orang mati tidak ada, maka sungguh kasihan orang2 yang dilahirkan di zaman yang salah, yaitu mereka yang tidak pernah punya kesempatan mendengar Injil Yesus, lantaran Yesus pernah "terlanjur" melontarkan statement, bermakna: "Tidak seorangpun sampai kepada Bapa tanpa melalui Aku". Lalu dalam pertemuan-Nya secara supranatural dengan Musa dan Elia di sebuah puncak bukit, mereka bertiga memperbincangkan tujuan kepergian Yesus, yaitu untuk mati sebagai Penebus dosa. Saya menduga, keterlibatan Musa dan Elia dalam konteks ini adalah untuk mempersiapkan arwah-arwah pendosa, untuk menyambut Yesus ketika Juruselamat itu nanti meninggal,... yang digenapi di 1 Petrus 3:18-20. Oleh pemberitaan injil itu, maka orang2 BERDOSA yang mati di zaman Nuh mendapat pengampunan ketika di alam roh mereka menerima Injil Yesus yang akan menebus dosa mereka, sehingga kelak dibebaskan dari hukuman neraka,...

Mengapa saya katakan bahwa Tuhan kemungkinan repot menghadapi dua perguruan Kristen ini?

Kalau bagi orang mati masih tersedia pengampunan, maka memang nyata keadilan Allah bagi semua orang, sehingga tidak ada orang yang lahir di zaman yang salah ataupun yang lahir di tempat yang salah.

Tetapi repotnya adalah ada orang2 bebal yang memanfaatkan kesempatan itu untuk HIDUP SEENAKNYA, dengan harapan masih ada kesempatan bertobat nanti jika sudah mati,... nah, kan?

Tapi "kalah cacak menang cacak", hal terbaik memang "menempatkan diri" sebagai orang benar, yaitu menjadi orang2 yang menaruh imannya kepada Yesus Kristus dengan mempercayai penebusan-Nya dan berusaha hidup sesuai ajaran Yesus dengan pertolongan Roh Kudus yang dengan cara itu melakukan kehendak Bapa SELAGI MASIH BERNAFAS,...

Maka kalaupun toh teori yang mengatakan bahwa pengampunan dosa bagi orang mati ternyata memang meleset, maka ia tidak akan rugi,...

Shalom.

__________________

 Tani Desa