Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Menyikapi teologi akrobatik-sensasional Erastus Sabdono

victorc's picture

Menyikapi teologi akrobatik-sensasional Erastus Sabdono

oleh V. Christianto

 

Shalom para sahabat,

Selamat malam...

Kalau dulu waktu kecil Anda suka menonton sirkus, tentu Anda ingat bahwa satu bagian penting dalam pertunjukan sirkus adalah akrobat atau permainan ketangkasan, seperti berjalan di atas tali dan lompat-lompat di atas trampolin dst.

Nah, sekalipun kita semua tahu bahwa berteologi itu tujuan utamanya adalah mencari kebenaran dan lebih mengenal Tuhan Sang Khalik, namun sayangnya ada saja yang memperlakukan proses berteologi mirip pertunjukan akrobat.

Dalam hubungan ini, ijinkan saya berkomentar sedikit seputar makna kenosis atau mengosongkan diri oleh Yesus Sang Firman Yang Hidup.

Saya memang belum membaca naskah khotbah/ceramah Erastus Sabdono yang menyatakan "Yesus mati dua kali." Namun yang jelas ungkapan tersebut telah menjadi polemik di kalangan umat Kristiani.

Sebaiknya memang kita berpikir lebih arif, jangan ikut-ikutan terpancing polemik. Karena saya menduga bahwa Erastus ini motifnya memang sering berakrobat secara teologis dengan menciptakan isyu isyu yang menghasilkan polemik, sehingga bikin situasi umat serba gundah-resah dan tidak lagi percaya ajaran Gereja yang Ortodoks.

Namun apakah itu yang dimaksud Erastus dengan Yesus mati dua kali?
Yang dimaksud dia adalah:
a. Yesus mati pertama karena dibunuh oleh Bapa
b. Mati kedua karena dibunuh oleh manusia.
Dengan kata lain Erastus mengajarkan ada "hirarki dalam Trinitas."* Terus dari mana dia membaca ada Allah Bapa dan Allah Anak saling bunuh bunuhan? Ini kan ajaran yang absurd dan menyesatkan...

Karena itu, marilah kita belajar berteologi dengan sehat dan arif .. Bukan sekadar bikin sensasi seperti Erastus dengan metode TAS-nya (teologi akrobatik-sensasional).

Berikut ini ada artikel komentar terhadap Erastus semoga berguna...

Efesus 4:14
"...sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan,"

Salam dalam kasih Kristus.

Jbu,

Victor

Versi 1.0: 5 februari 2020, pk. 10:47

*Postscript:
Ijinkan saya memberikan sedikit komentar atas pandangan hirarki dalam Trinitas. Sekilas memang tidak nampak absurditas dan kontradiksi dalam pandangan hirarkis tersebut.
Misalnya, dalam suatu ceramahnya yang juga menimbulkan polemik yang meluas, Erastus menyebut istilah "Major God & Minor God." (Tuhan mayor dan Tuhan minor).
Argumen beliau adalah dari versi Yunani dari Yohanes 1:1, yang bunyinya bisa dilihat di link sbb:

https://alkitab.app/v/529d04d3b6de  (Versi Textus Receptus)

Dari beberapa ceramah dan upaya klarifikasi ES tentang pandangannya yang berpolemik tersebut, untuk ringkasnya adalah sbb:

- ho theos = Allah Bapa
- ho Logos = theos = Yesus sebagai Firman.

Jadi Yesus, Sang Firman yang Hidup, bagi ES memang ho Logos, namun tidak setara dengan ho theos (Sang Bapa).
Itulah yang disebut pandangan hirarkis dalam Trinitas, yang sebenarnya berbeda jauh dari pandangan para bapa Gereja pencetus teologi Trinitas.

Pandangan hirarkis ES, kalau mau jujur, justru mendekati dengan ajaran Saksi Yehowa, yang juga mengajarkan adanya hirarki tersebut. Bagi kalangan yang disebut terakhir ini, Yesus hanyalah sosok yang ilahi saja ("a deity"), padahal bukan demikian maksud bapa bapa Gereja dahulu. **

Padahal dalam teks LAI untuk Yohanes 1:1 bunyinya cukup jelas yakni Yesus sebagai Logos telah ada bersama-sama dan setara dengan Bapa sejak kekal sampai kekal:

Yohanes 1:1-3 (TB)  Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.
Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah.
Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.

https://alkitab.app/v/c0d5e1a381ee

Bahkan kalau kita menggunakan versi ILT3, bunyinya juga sangat mirip:

Yohanes 1:1-3 (ILT3)  "Pada awalnya ada Firman, dan Firman itu ada bersama Elohim, dan Firman itu adalah Elohim.
Dia pada awalnya ada bersama Elohim.
Segala sesuatu terjadi oleh Dia, dan tanpa Dia, tidak ada satu hal pun yang telah terjadi."

https://alkitab.app/v/fcd218ba3759

(Note: ILT3 dan ILT berasal dari Jay Green, atau disebut  Green Literal Translation/KJV3. Meski penggunaan Elohim dalam ayat ini masih dapat diperdebatkan.)

Pada akhirnya, Yoh. 1:1-3 juga bersesuaian dengan salah satu hymne Yesus dalam Surat Paulus kepada Jemaat Kolose:

Kolose 2:9 (TB)  Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan,

https://alkitab.app/v/8300131631ea

Semoga  penjelasan ringkas ini berguna bagi para pembaca.

Versi 1.0: 7 februari 2020, pk. 17:10
VC

-------
Lampiran:


*"KENOSIS BUKAN PEMBUNUHAN TERHADAP YESUS OLEH BAPA"*

_Seri: Biblical Theology_
Oleh: Welly Pandensolang

Di awal thn 2020 kita dikejutkan dengan isu Kristologi, yaitu: "YESUS MATI DUA KALI." Pertama, mati dalam peristiwa "Kenosis" (Filipi 2:6-7), di mana Yesus dibunuh oleh Sang Bapa. Kedua mati di atas kayu salib dibunuh oleh manusia.

Bagi banyak teolog dan jemaat tertentu, teologi kenosis sudah tidak asing lagi, namun bagi beberapa orang mungkin istilah tersebut masih perlu penjelasan secara mendalam. 

Sebab itu untuk memahami makna teologi kenosis dalam Filipi 2:6-7 perlu mengerti kebenaran berikut ini:

*A.  YESUS ADALAH ALLAH SEJATI SEJAK KEKEKALAN (ayat 6).*

Fakta ini dapat dipahami melalui 2 frasa dalam ayat ini:

*1. En morfhe Theou huparchon (6a).* Terjemahan Yunani: "Yesus adalah dalam form Allah" - NIV: "Who being in very nature of God" - LAI: "yang dalam rupa Allah". Hanya LAI yang tidak memasukkan kata yang sangat menentukan arti dan makna teologis dari kata Kenosis, yaitu kata kerja "adalah" (huparcho), sedangkan terjemahan Yunani, NIV, NAS mencantumkan kata tersebut.

Oleh karena LAI tidak memasukkan kata "adalah" maka cenderung kita sebagai pembaca Alkitab terjemahan LAI juga kehilangan pengertian tentang ke-Allah-an Yesus yang sesungguhnya dalam konsep kenosis.

Kata "huparcho" artinya "adalah" atau "exist" sesungguhnya menjelaskan tentang kesempurnaan, kesejatian dan kekekalan Yesus sebagai Allah. Maksudnya, kata "adalah" menjelaskan bahwa Yesus adalah Allah bukan karena hadiah atau pemberian malaikat,  Bapa dan Roh Kudus, tetapi memang sudah merupakan eksistensi/keberadaan Yesus adalah Allah sejati yang setara dengan Bapa dan Roh Kudus sejak dalam kekekalan. Keberadaan Yesus sebagai Allah (yang dijelaskan oleh kata huparchon ini) tidak akan pernah berkurang, berubah, terkontaminasi apalagi mati, tetapi secara kekal Yesus tetap Allah.

Kebenaran di atas dipertegas oleh kata "morfhe" yang secara lexicon sangat berbeda dengn kata "schema" (ayat 7). Schema artinya bentuk luar, bentuk fisik yang terbatas dan dapat mati, sehingga sebagai manusia Yesus dapat mati.  Sedangkan "morfhe" adalah form ilahi supranatural yang menjelaskan esensi ke-Allah-an Yesus yang sudah ada dengan sendirinya (bukan dicipta) dalam kekekalan bersama dengan Bapa dan Roh Kudus (Pros ton Theon -Yoh.1:1).

Dengan demikian kata "morfhe" sesungguhnya mengajarkan bahwa Yesus sebagai Tuhan dan Allah bukan bersifat atau form sementara saja. Kata itu juga mengajarkan bahwa ke-Allah-an Yesus tidak berubah atau karena diangkat dan ditetapkan oleh Bapa sebagai Tuhan setelah dibaptis seperti pandangan ebionitisme. Kebenaran tersebut diperkuat oleh makna frasa berikut, yaitu lebih menegaskan lagi bahwa Yesus adalah Allah yang setara dengan Bapa. 

*2. Einai isa Theo (6b).*
Terjemahan Alktab Yunani: "(Yesus) setara dengan Allah" - NIV: "Equality with God" - LAI: "Kesetaraan dengan Allah".

Kata kerja einai (dari eimi) dalam tensis "Kini Gnomik" yaitu menjelaskan keadaan yang "selalu" terjadi, ada dan berlaku dahulu, sekarang dan kekal akan datang, bukan menerangkan keadaan yang memiliki batas waktu. Karena itu tensis kini gnomik tersebut menegaskan bahwa Yesus sebagai Tuhan selalu berlaku sejak sebelum dunia dicipta, sekarang dan kekal akan datang. Keberadaan-Nya sebagai Allah tidak akan berubah, berkurang atau mati.

Sebab itu kata "isa" artinya "setara" dalam frasa tersebut hendak menjelaskan bahwa ke-Allah-an Yesus tidak lebih rendah dari Bapa dan Roh Kudus, tapi "ketiga Pribadi itu setara." Makna teologisnya, jika Bapa dan Roh Kudus tidak berubah, tidak kehilangan kesadaran dan kemahatahuan-Nya, demikian juga Yesus sebagai Allah.

*B.  YESUS MENGOSONGKAN DIRI - KENOSIS (ayat 7).*


Pengertian "Kenosis" (pengosongan) sebenarnya jangan diartikan seperti arti pengosongan menurut kamus bahasa Indoneaia, yaitu pengosongan atau penghilangan substansi isi dalam sebuah wadah. Misalnya, air segelas tumpah semuanya maka gelas itu menjadi kosong. Jika menurut arti demikian, maka ketika Yesus mengosongkan diri-Nya maka semua ke-Allah-an Yesus tumpah keluar dari dalam diri-Nya. Dengan demikian pada saat kenosis maka Yesus sudah bukan Allah lagi, karena ke-Allah-an Yesus telah meninggalkan Dia atau mati terbunuh. Ini pandangan yang sangat sesat.

Sebab itu kata Kenosis sebanarnya tidak tepat diterjemahkan "pengosongan" dengan arti dalam kamus bahasa Indonesia tapi lebih relevan diterjemahkan "nothing" seperti terjemahan NIV dan KJV. Sebab secara teologis arti dan makna kata Kenosis adalah:

1. Menyatakan fakta pra-existensi Yesus sebagai Allah dalam kekekalan sebelum dunia dicipta.

2. Menyatakan kerendahan hati Sang Anak yang walaupun adalah Allah, tetapi rela menjadi hamba dan manusia bahkan mati di atas kayu salib.

3. Menyatakan diri-Nya adalah Allah yang setara dengan Bapa dan Roh Kudus.

Pada saat kenosis, ketiga aspek ilahi tersebut di atas bukan dikeluarkan, dihilangkan atau dibunuh dalam diri Yesus. Tetapi semua itu dianggap oleh Yesus "nothing" di dalam diri-Nya, namun ketiga elemen ilahi tersebut tetap ada dalam diri Kristus, yaitu bahwa Dia tetap sebagai Allah dan Manusia sejati.

Dengan demikian terjadi beberapa hal dalam kenosis yaitu:

1. Keputusan Yesus sendiri untuk tidak memperhitungkan reputasi-Nya sebagai Allah (kenosis), tak dipaksa oleh Bapa, Roh Kudus, malaikat dan oknum tertentu.

2. Terjadi penambahan sifat kemanusiaan sejati tanpa dosa dalam diri Yesus, di mana sifat kemanusiaan tersebut tidak Yesus miliki sejak kekekalan lampau hingga inkarnasi (bedakan dgn konsep anthropomorfhe).

3. Yang mati bukan ke-Allah-an Yesus tapi kemanusiaan-Nya.

*KESIMPULAN:*


1. Kenosis bukan pembunuhan nyawa atau keilahian Yesus, tapi sebuah keputusan yang tidak dapat dilakukan oleh siapapun kecuali hanya oleh Yesus,  yaitu walaupun sebagai Allah tetapi Ia rela menjadi manusia hina untuk menebus dan menyelamatkan saudara dam saya.

2. Saat kenosis, Yesus tetap Tuhan dan Manusia sejati.

3. Yesus tidak pernah mati dua kali, hanya mati sekali untuk selama-lamanya.

Untuk itu layanilah Tuhan Yesus Kristus dengan sekuat tenaga, potensi dan hati. Yesus yang sudah menyelamatkan kita akan terus memberkati keluarga dan pelayanan kita sekalian!

    

        

__________________

Dari hamba yang tidak berguna (Lih. Lukas 17:10)

Prepare for the Second Coming of Jesus Christ.