Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Menghitung bintang: menyikapi umat Kristen yang percaya teori bumi datar

victorc's picture

 

Menghitung bintang: menyikapi umat Kristen yang percaya teori bumi datar

Shalom para sahabat dalam Kristus, selamat pagi.

Siang ini akan ada gerhana matahari Cincin di beberapa deaerah di Indonesia. Karena itu ijinkan saya menulis sedikit tentang astronomi. 

Beberapa waktu ini, saya secara agak terpaksa membaca-baca berbagai artikel seputar pro kontra bumi datar.
Teori ini memang cukup heboh khususnya di dunia maya, terutama oleh upaya publicist seperti @flat-earth-society, sementara kajian yang ilmiah hampir tidak ada.

Pada intinya, kaum Kristen yang percaya bumi datar ini masih menggunakan kosmogoni orang-orang Israel pada zaman PL, yakni bumi yang bundar mirip kue maryam dengan kubah awan eksotik yang menutupinya.
Lalu disebutkan bahwa ada konspirasi yang bermaksud menutupi adanya dinding es setinggi sekian kilometer, yang membuat orang tidak pernah tahu ada apakah di balik dinding tersebut.

Catatan kecil


Meski sekilas kedengarannya hal  tsb meyakinkan, namun kita mesti membedakan perkembangan filsafat mengenai kosmos (kosmogoni), dan ilmu kosmologi yang merupakan cabang ilmu fisika yang mempelajari asal-usul dan pembentukan jagad raya.
Memang ada beberapa argumen yang secara sederhana dapat menunjukkan ketidaklayakan (inadequacy) dari teori bumi datar:
- Pendulum Foucault
- arah jarum kompas, yang selalu menunjukkan dua arah: N-S.

Dan satu lagi argumen yang baru terbersit siang ini, tersirat dari janji Tuhan kepada Abraham: "hitunglah bintang-bintang, jika kamu dapat."(1)
Maksudnya begini, teori bumi datar mengatakan bahwa langit di atas cakrawala adalah mirip air yang padat seperti bongkahan es yang tidak bisa ditembus. Dengan kata lain, mereka ingin mengatakan bahwa bulan, matahari dan bintang-bintang itu hanyalah mainan (ilusi) yang digantungkan di cakrawala.

Padahal dalam ayat kutipan dari kitab Kejadian tersebut, jelas bahwa Tuhan membandingkan bintang-bintang dengan pasir di pantai, mereka sungguh ada. Dan ini bersesuaian dengan temuan ilmu astronomi dan kosmologi, bahwa ada milyaran bintang di jagad raya ini.
Bahkan para ahli telah mendapati adanya hirarki dalam alam semesta, mulai partikel, planet, bintang, galaksi hingga kluster bahkan superkluster.
Dengan kata lain, hal ini merupakan petunjuk akan betapa luasnya dan agungnya ciptaan Tuhan, sama dengan kerumitan manusia itu sendiri. Baca Mzm. 19.

Kesimpulan


Para teolog dan kaum Kristen pada umumnya sebaiknya mulai menghilangkan pendekatan kecurigaan* pada sains, khususnya kosmologi. Sebaliknya, pendekatan yang terbaik adalah jika dapat terjalin dialog yang sehat antara sains dan teologi. Lihat misalnya upaya dialog yang dikembangkan oleh Nesteruk.(2) (3)

Versi 1.0: 2 juni 2019, pk. 16:00
Versi 1.1: 13 desember 2019, pk. 19:45
VC

Catatan:
* yang saya maksud dengan pendekatan kecurigaan di sini adalah hermeneutika kecurigaan, atau: "hermeneutics of suspicion." (4)

Referensi:
(1) look up to the sky and count the stars if you can. https://sheilcatholiccenter.org/wp-content/uploads/2017/10/2017-Simpson-Essay-Infinity-Mathematics-and-God-FINAL.pdf
(2) Alexei V. Nesteruk. The universe and communion: towards a neo-patristic synthesis of theology and science. London/New York: Continuum, 2008. URL: https://www.amazon.com/Universe-Communion-Neo-Patristic-Synthesis-Theology/dp/0567304426
(3) Alexei V. Nesteruk. Light from the east (Theology and the Sciences). URL: https://www.amazon.com/Light-East-Theology-Sciences/dp/0800634993
(4) what is hermeneutics of suspicion. URL: https://www.quora.com/What-is-the-hermeneutics-of-suspicion-What-are-some-examples

----
Ringkasan buku A. Nesteruk, Light from the East.

"
In this unique volume, a new and distinctive perspective on hotly debated issues in science and religion emerges from the unlikely ancient Eastern Orthodox Christian tradition.Alexei Nesteruk reveals how the Orthodox tradition, deeply rooted in Greek Patristic thought, can contribute importantly in a way that the usual Western sources do not. Orthodox thought, he holds, profoundly and helpfully relates the experience of God to our knowledge of the world. His masterful historical introduction to the Orthodox traditions not only surveys key features of its theology but highlights its ontology of participation and communion. From this Nesteruk derives Orthodoxy's unique approach to theological and scientific attribution. Theology identifies the underlying principles in scientific affirmations.Nesteruk then applies this methodology to key issues in cosmology: the presence of the divine in creation, the theological meaning of models of creation, the problem of time, and the validity of the anthropic principle, especially as it relates to the emergence of humans and the Incarnation.Nesteruk's unique synthesis is not a valorization of Eastern Orthodox thought so much as an influx of startlingly fresh ideas about the character of science itself and an affirmation of the ultimate religious and theological value of the whole scientific enterprise.

    

__________________

Dari hamba yang tidak berguna (Lih. Lukas 17:10)

Prepare for the Second Coming of Jesus Christ.