Submitted by anakpatirsa on

Adikku yang bertanya, "Linux itu sulit ya?"

"Mengapa?" tanyaku balik. Bangga juga, di pedalaman terpencil, kata ini sampai juga.

"Temanku bilang, waktu itu kami mau meminjam komputernya, 'Sori, aku pakainya Linux, kalian tidak bisa memakainya.'"

Tiba-tiba saja, batu itu kembali melintasi kepalaku.

***

Linux, mungkin memang punya kelas tersendiri, karena beberapa orang membuatnya kelihatan lebih sulit dari Windows. Kalau mau jujur, itu memang sedikit lebih sulit, tetapi tidak benar-benar sampai adikku tidak boleh melihatnya. Beberapa orang sok tahu bangga bisa mengucapkan istilah distro, RPM dan lain sebagainya. Membuat orang tidak berani ikut ikut nimbrung, takut kelihatan seperti istrinya Bang Tigor di Sinetron Suami-suami Takut Istri.

Linux, serasa ada yang lebih saat mereka memakainya. Masih kuingat pertama kali menginstalnya. Saat layar yang ada gambar topinya itu muncul, rasanya seperti saat pertama kali melihat warna laut. Ada rasa bangga, akhirnya melihat sendiri Linux itu. Saat melihat tampilannya, serasa ada yang beda. Padahal tombol kecil di pojok kiri bawah itu pasti sama fungsinya dengan tombol yang lebih mirip gambar bendera berkibar di komputer yang lain.

Itu komputer lab kampus. Dengan bangga kupamerkan Linux-ku pada adik tingkat. Mereka juga tertarik. Banyak orang tertarik mengetahui seperti apa sih Linux itu.

"Hampir mirip ya," kata salah seorang adik tingkatku. Sengaja kubuat mereka melihat layar monitorku yang tampilannya agak beda. Aku mengerti maksudnya dengan hampir mirip. Hampir tidak jauh beda dengan layar komputer yang biasa kami lihat.

"Menginstalnya sulit," jawabku tanpa mempedulikan komentarnya. Aku tidak butuh komentator, aku butuh penonton. Kujelaskan tentang mounting, dan partisi. Istilah yang baru kuketahui beberapa hari ini. Kuceritakan rumitnya menginstal Linux ini. Kesulitan yang sebenarnya tidak terjadi bila aku teliti membaca buku petunjuknya.

"Pakai KDE atau GNOME?" tanya Si Gajo yang memang terkenal sok pintar.

Di buku petunjuk sudah kutemui istilah ini, tetapi tidak terlalu kuperhatikan. Aku menginstalnya dengan hantam kromo dan gaya beo. Disuruh klik OK, kuklik OK; disuruh klik Next, kuklik Next. Aku belum sempat memahami kedua istilah ini, terlalu banyak istilah.

Pernah kudengar nasihat, "Bila kamu berbicara sebagai orang bodoh pada orang sok pintar, maka ia akan menunjukkan kebodohannya."

"Aku tidak mengerti apa itu KDE atau GNOME," jawabku. Menyesal mengapa tidak membaca buku petunjuk itu dengan lebih mendalam.

"He.. he... aku juga tidak tahu," jawabnya sambil nyengir.

Aku baru tahu tentang KDE dan GNOME beberapa minggu kemudian. Sederhananya, itu yang membuat orang bisa menggunakan Linux tanpa mengetikkan perintah-perintah sangarnya. Lebih sederhananya lagi, inilah yang membuat adanya gambar-gambar di Linux sehingga tinggal klik sana dan sini.

Dari semua kesangaran linux, ada satu yang paling sangar. Layar hitam bernama konsole itu. Kadang disebut juga shell, di Windows namanya command prompt. Pintu gerbang untuk berinteraksi dengan komputer. Warna hitamnya membuat perintah-perintah aneh yang diketikkan itu tampak lebih sangar lagi. Orang yang memakainya sering memiliki kebanggaan tersendiri, merasa dirinya tampak lebih intelek.

Banyak yang tertipu, mengira orang yang mampu memerintahkan komputer dengan mengetikkan perintah-perintah aneh itu tampak lebih keren. Lebih intelek dari sekedar klik sana dan klik sini. Seandainya saja orang tahu, perintah-perintah yang diketikkan itu cukup terbatas untuk keperluan biasa. Biasanya orang hanya mengetik perintah yang itu-itu saja. Bahkan ada yang melakukannya hanya dengan menekan tombol panah atas atau bawah, mencari perintah yang pernah ia ketikkan sebelumnya.

Linux, beberapa orang bangga memakainya, bukan karena bangga menggunakan produk tanpa pelanggaran hak cipta. Mereka bangga karena tampak seperti computer geek, atau tampak seperti jago-jago komputer di Hollywood. Kebanggaan orang bodoh yang memalukan. Mereka bahkan sebenarnya kelihatan seperti orang yang berdiri di tengah jalan, merasa bangga dengan handphone di telinganya.

Orang-orang seperti inilah yang membohongi adikku.

Benar-benar kebanggaan orang bodoh. Bukan zamannya merasa hebat karena bisa memasang komputer maupun menginstalnya. Tidak perlu bangga karena bisa pakai Linux. Tidak butuh otak di atas rata-rata kalau hanya mengenalnya untuk ketik sana ketik sini.

Tetapi anehnya, ada yang merasa dirinya lebih pintar daripada orang yang hafal di luar kepala deretan angka dan huruf sebuah serial number sistem operasi.