Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

LGBT

victorc's picture
Teks: 1 Samuel 18:1-3

"Ketika Daud habis berbicara dengan Saul, berpadulah jiwa Yonatan dengan jiwa Daud; dan Yonatan mengasihi dia seperti jiwanya sendiri." (1 Sam. 18:1)

Shalom, saudaraku, selamat pagi. Salah satu topik yang akhir-akhir ini cukup hangat diperdebatkan di berbagai media adalah isyu tentang LGBT (lesbian, gay, bisexual, transgender). Berbagai pandangan pro dan kontra terhadap LGBT telah diliput dan ditayangkan. Tulisan ini bukan bermaksud untuk memperkeruh suasana, melainkan hanya menampilkan diskusi singkat antara saya dengan pendeta kami beberapa waktu yang lalu, disertai dengan sedikit penjelasan tentang terapi reparatif. Diskusi kali ini akan dibatasi pada homoseksualitas di antara pria (gay).
Saat ada gerhana matahari bulan maret lalu, kebetulan kami kelompok pelayan jemaat anak (GSM) mengadakan ritret sehari semalam. Paginya ketika sebagian besar dari peserta sedang rekreasi, hanya ada pendeta kami, saya, dan dua orang lagi yang tinggal di rumah ritret itu. Di sanalah lalu saya dan pendeta kami terlibat dalam diskusi semi-serius tentang topik LGBT.

Yonatan-Daud
Pendeta kami memulai percakapan dengan menanyakan pendapat saya tentang relasi  Yonatan dan Daud. Saya menjawab bahwa memang persahabatan karib antara Daud dan Yonatan membuka kemungkinan penafsiran bahwa hubungan itu bersifat gay/homoseksual. Benarkah demikian halnya?

(a) Pertama-tama, bagi sementara orang, hubungan antara manusia sejenis tidak lagi dipandang sebagai suatu dosa. Bahkan kabarnya ada dosen teologi di STT tertentu yang mengutip teks Yonatan-Daud tersebut untuk membela posisi kaum gay dan homoseksual pada umumnya. Akan hal ini tentu saya tidak setuju. Pertimbangan saya adalah bahwa dalam teks 18:1 tersebut jelas disebut bahwa Yonatan mengasihi Daud seperti dirinya sendiri, dan ini sebenarnya justru menunjukkan penerapan langsung dari hukum terutama yang kedua yang diajarkan Yesus (Mat. 22:39-41).

(b) Kedua, bagi sebagian besar ahli khususnya para psikolog, hubungan sesama jenis mulai diterima sebagai suatu hal yang tidak aneh. Mereka menganut pandangan bahwa hubungan sesama jenis mungkin dipengaruhi oleh faktor genetis atau faktor pendidikan/pengaruh lingkungan. Namun tentang hal ini saya pernah tanyakan ketika saya mengikuti kelas teologi kontemporer beberapa waktu lalu, dan jawaban yang saya terima adalah bahwa banyak literatur yang berupaya 'membuktikan' adanya faktor genetis dalam hubungan antar sesama jenis ternyata kurang netral, artinya penelitian tersebut disponsori oleh lembaga atau organisasi yang memang cenderung liberal dan progresif. Artinya penelitian-penelitian tersebut memang menggunakan pra-anggapan yang cenderung pro homoseksualitas. Sementara itu, satu hal yang jelas adalah belum pernah ada laporan bahwa gen atau kromosom pembawa sifat gay sudah ditemukan.

(c) ketiga. Dalam kelas konseling yang pernah saya ikuti juga dibahas tentang ketertarikan antar sesama jenis (same sex attraction). Pandangan umum para psikolog di negara-negara maju khususnya di Amerika adalah seperti yang saya tunjukkan di atas. Namun di luar pandangan mainstream tersebut, ada beberapa psikolog klinis yang berpendapat bahwa ketertarikan antar sesama jenis sesungguhnya bisa disembuhkan, di antaranya adalah Dr. Joseph Nicolosi, co-founder asosiasi terapi homoseksualitas, NARTH. Beliau mengembangkan sebuah pendekatan yang dikenal sebagai Terapi Reparatif. (2)
Secara ringkas, pendekatan yang ditempuh Nicolossi bertolak dari pandangan bahwa orang-orang yang mengalami ketertarikan antar sesama jenis yang tidak sehat sesungguhnya sedang berusaha mengisi kekosongan yang dirasakannya. Mungkin waktu kecil ia pernah mengalami pengalaman traumatik seperti:
a. penganiayaan seksual oleh orang-orang terdekatnya, 
b. dibesarkan oleh orangtua yang narsistik,
c. pengalaman traumatik lainnya misalnya dibully,
sehingga ia mengalami suasana tidak nyaman (hole) bersama lawan jenis. Diduga bahwa untuk menutupi rasa tidak nyaman tersebut ia lalu cenderung tertarik dengan sesama jenis. Nicolosi menyatakan bahwa dalam sebagian besar kasus ketertarikan antar sesama jenis, mereka pernah mengalami dibully oleh teman-teman mereka.(1)

Nicolosi menjelaskan terapi reparatif (1)
Dia akan mengajari mereka kembali khususnya tentang filosofi hidup mereka serta cara pandang mereka. Dia tidak menghakimi mereka, tetapi menanyakan apa yang mereka lakukan selama "act out". Mungkin mereka mengalami "shame moment."
Shame moment kadang secara fisik dapat dirasakan sebagai rasa sakit di bagian bawah perut. Selanjutnya mereka merasa sendiri dan sedih, yang dapat berlanjut menjadi grey zone. Dalam zona abu-abu itu apa yang menarik akan tampak sangat menarik. Saat itulah mereka mungkin merasakan penerimaan dari komunitas gay. Selanjutnya proses menjadi "act out" dan lalu bergabung dengan komunitas gay. 
Namun hal ini hanya memberikan kesenangan sementara, dan akan berubah menjadi membosankan, sehingga mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Ada tahapan dari mulai merasa tidak nyaman dengan lawan jenis menjadi "act out" atau pergi ke bar khusus gay atau meihat "gay pornography."

Ego --> state --> attribution (normal)

Attribution --> shame moment --> grey zone --> act out.

Setelah beberapa kali terapi, biasanya klien akan dapat bertahan dalam situasi shame moment, dan secara bertahap menemukan jalan kembali ke kondisi attribution (normal). Selanjutnya Nicolosi melatih klien tersebut, untuk menemukan jalan keluar dari shame moment meskipun tidak didampingi. Dan klien tersebut belajar untuk menjadi seorang seorang heteroseksual (safe heterosexual), dan belajar berhubungan secara sehat dengan para pria lainnya.

Penutup
Memang teori yang dikembangkan Nicolosi tersebut kurang populer, namun setidaknya melalui pendekatan tersebut dilaporkan bahwa banyak kasus homoseksual berhasil ditangani oleh Nicolosi. Namun Nicolosi justru sering dikecam sebagai "anti-gay" oleh para psikolog lainnya yang umumnya berpandangan bahwa ketertarikan antar sesama jenis bukanlah suatu penyimpangan. 
Memang salah satu filosofi dasar yang dipegang para psikolog yang menggunakan filsafat humanisme pada umumnya adalah bahwa tidak ada yang disebut dengan dosa, sehingga perilaku apapun tidak perlu disembuhkan, sepanjang pelakunya merasa nyaman dengan perilakunya tersebut. Sebagai contoh, ada psikolog yang pernah menerbitkan makalah  berjudul, "There is no place for the concept of sin in psychotherapy." (Tidak ada tempat bagi konsep dosa dalam psikoterapi.) Lihat (3).
Dengan kata lain, mungkin salah satu sumber permasalahan adalah sikap ambigu dan permisif dari kebanyakan psikolog profesional itu sendiri terhadap gejala homoseksualitas, dan hal ini pada gilirannya menimbulkan kebingungan pada generasi muda yang memiliki identitas gender yang rapuh.
Demikianlah gambaran singkat tentang beberapa pendekatan untuk menangani para pelaku ketertarikan antar sesama jenis. Kiranya berguna bagi kita semua dalam mengambil sikap yang tepat dan bertanggungjawab. Lihat ayat berikut:

"Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah." ( I Kor. 6:9b-10)
"Be not deceived: neither fornicators, nor idolaters, nor adulterers, nor effeminate, nor abusers of themselves with mankind, 10  Nor thieves, nor covetous, nor drunkards, nor revilers, nor extortioners, shall inherit the kingdom of God." (KJV)

Bagaimana pendapat Anda?

Versi 1.0: 10 april 2016, pk. 22:59; versi 1.1: 11 april 2016, pk. 12:31
VC

Referensi:
(1) Joseph Nicolosi. "The meaning of Same-sex attraction," chapter one in Handbook of Therapy for Unwanted Homosexual.
(2) Joseph Nicolosi. Shame and Attachment loss: the practical work of reparative therapy. Downers Grove, IL: InterVarsity, 2009
(3) Paul Gunadi. "Selamat datang psikologi!" Jurnal Veritas, Vol. 1, no. 1 (2000)
(4) https://www.josephnicolosi.com/
(5) Willard M. Swartley. Homosexuality: biblical interpretation and moral discernment. Ontario: Herald Press, 2003.
__________________

Dari hamba yang tidak berguna (Lih. Lukas 17:10)

Prepare for the Second Coming of Jesus Christ, http://bit.ly/ApocalypseTV