Submitted by Tante Paku on

     Ketika selesai mengerjakan rutinitas sehari-hari, saya mencoba on line, selalu pasar Klewer yang jadi tujuan pertamanya. Saya membaca blog terbarunya pak Wawan, tulisan yang ke 200 di Sabda Space. Untuk "mangayubagyo" tulisan tersebut, blog ini kusajikan.

     Baru selesai baca blog, sedikit komentar eh para kurcaci pada datang minta main game. Iya deh, aku ganti pekerjaan yaitu membersihkan jendela-jendela rumah, dari 23 jendela, baru 3 yang baru kubersihkan, terus mandi , makan dan aku ingin menulis dengan cepat sebelum ada tamu datang.

     Namanya aja pasar Klewer tentu ramai karena sudah terkenal sih. Sebelum masuk dan terlibat, sekitar 1 bulan saya hanya menjadi tamu tak diundang, membaca dari kios yang satu ke kios yang lain. Karena belum bisa internetan, ya nggak bisa ikut menulis. Dan ketika titik jenuh membaca mulai hinggap, aku buru-buru kursus kilat buat diajarin nulis di sini. Begitu bisa langsung deh buka kios dengan pede.

     Keuntunganku sebelum menulis di Sabda Space ini karena aku berusaha mempelajari karakter para penghuninya, agar kelak bisa melebur biar tidak jadi bubur. Nyatanya tulisanku disambut dengan ramah dan bersahabat oleh banyak pedagangnya, baik yang lama maupun yang baru. Sementara yang tidak ramah cuma mengintip daganganku dengan ragu-ragu. Atau bahkan sudah mengokang senjatanya he he he....

                                                       *****

     Sering saya amati, para pedagan baru begitu masuk "ada" yang langsung berpromosi dengan gagah berani, menantang secara halus untuk adu ilmu atau bahkan terang-terangan langsung menyerang dengan jurus-jurus yang dianggapnya mematikan sekaligus mempermalukan.

     Karena mereka kurang pengalaman atau tidak mau mempelajari ilmu lawan, yang terjadi justru sebaliknya, mereka mati kutu dan dipermalukan sendiri. Ada yang langsung kabur sambil memaki-maki secara "rohani" atau bertahan dengan pertahanan seadanya dan ada juga yang sadar akan kekeliruannya dan berguru untuk menimba ilmu sang suhu.

     Memang untuk memasuki suatu tempat yang masih asing tenpa referensi yang cukup akan keberadaan tempat tersebut akan mengalami "shock" berat kalau hanya mengharapkan "keindahan" semata. Memasuki kandang Singa kita harus pakai atribut Singa, memasuki kandang Domba kita pun harus bisa menjadi Domba juga, agar keberadaan kita bisa diterima dengan tanpa curiga, ini pameo yang bisa kita pakai sebagai referensi awal.

     Ada juga tamu atau pedagang baru yang masuk pasar dengan keinginan mencari "kemenangan", walau berdalih hanya "belajar", tapi kenyataannya dengan jurus 1001 ayat agar terlihat hebat, langsung menyerang dan bahkan berani menghakimi tanpa disadari. Bumerang sudah dilempar ketika berbalik tidak bisa menangkapnya kembali, ini yang sering terjadi.

     Kalau yang ada dalam pikiran kita hanya kata "menang" dan "kalah" anda harus siap berjiwa ksatria. Kalau yang ada dalam pikiran kita hanya "menang" saja, maka kekecewaan, frustrasi bahkan dendam membara terus menggelayuti pikiran kita. Atau dengan cara "manja" anda mencari simpati yang sebetulnya tiada arti, hanya untuk menghibur diri dan mengajukan beberapa ayat sebagai bentuk "kemenangan" semu anda sekaligus hiburan yang sepi dan tak berarti.

     Seseorang yang sudah berilmu tinggi bahkan sudah menguasai banyak jurus berdebat atau berdiskusi, ilmunya terkadang sulit dideteksi. Seolah-olah bertanya sebetulnya tengah menjajaki ilmu lawan. Seolah-olah menjawab dengan lugu, tetapi sebenarnya menguji kedalaman ilmu lawan. Ini yang sering tidak diketahui mereka yang sudah termakan emosi meladeni semua kalimat "gertakan" yang ditulis lawan.

     Sebagai seorang pembaca awam, saya menempatkan diri sebagai penonton yang tengah melihat 2 orang sedang bermain catur. Karena penonton seringkali sudah tahu langkah lawan selanjutnya dari permainan catur tersebut bahkan lebih teliti. Tetapi sebagai penonton harus bertindak baik, tidak melibatkan diri dalam permainan tersebut. Bukankah melihat lebih baik daripada ikut campur tetapi justru komentarnya ngawur? Komentar ngawur kalau sekedar menghibur tentunya bisa diterima sambil minum es campur hi hi hi....

     Seorang yang sudah berilmu tinggi dalam pemahaman Alkitab pasti akan menggunakan salah satu ilmu Yesus yaitu jurus " Cerdik seperti Ular". Tapi lawan debat yang tidak memahami jurus tersebut akan melawan dengan ilmu "Licik seperti Ular". Akhirnya terjadi ular-ularan yang cukup panjang. Toh ilmu "Tulus seperti Merpati" yang sering dianggap lawan sebagai ilmu "akal Bulus" akan menuntaskan pertarungan tersebut. Kalau tidak mau menyerah, lawan hanya bisa menari-nari dengan "tarian bebal".

                                                         *****

     Saya mencatat ilmu "pengalih perhatian" yang sering membuat lawan diskusi jadi sakit hati, sehingga kurang fokus pada topik awal yang harusnya jadi pusat perhatiannya. Justru malah menanggapinya dengan berlarut-larut. Ilmu tersebut antara lain :

1.    Pentang bacot.

2.    Sok tahu.

3.    Malas.

4.    Membual atau bualan.

5.    Sombong atau kesombongan.

6.    Sesat atau ajaran sesat.

7.    Tunasusila.

8.    Pecundang.

9.    Bodoh.

10. Tolol.

11. Gagal.

l2.   Pikun.

l3.   Lebay

14.  Ngelantur.

l5.   Urat malu kecil.

l6.   Burung Onta.

l7.   Jurus tafsir 1001 mimpi.

l8.   Teori ngawur.

l9.   Inkonsistensi.

20.  Menjilat.

2l.   Jorok.

22.  Kumal.

23.  Berak.

24.  Mabuk.

25.  Tukang ngupil.

26.  Peringatan pertama.

27.  Kartu kuning.

28.  Minggat.

29.   Sok...

30.   Kutu kupret.

31.  Oot atau Oon.

32.  Bidat.

33.   Bangsat.

34.  OMG alias Omong Gede.

35.  OMKOS/ONGKOS alias Omong Kosong.

36.  Yak yak o.

37.  Waton Bengok atau Waton Nyruduk.

38.  Kambing Bandot.

39.  Mingkem.

40.  Dasar...(terserah mau di isi apa deh).

      Kata-kata tersebut kalau terngiang selalu di telinga anda, maka anda tinggal disentil akan terpelanting.!

     Atau anda membalasnya dengan banyak ayat yang menunjukkan "kasih" Yesus, agar lawan sadar atau sopan untuk menghormati anda. Sungguh lucu, padahal perlu kita ketahui bahwa "musuh" Yesus yang paling bebal adalah mereka yang "mengaku" faham  semua Firman Tuhan!

     Yang amat disayangkan kalau anda "menuduh" mereka yang diberi kepercayaan sebagai "core User" dianggap sewenang-wenang!  Anda benar-benar kurang memahami arti "pengorbanan". Betapa beratnya mendapat kepercayaan seperti itu? Kalau mereka tidak punya ilmu "Tulus seperti Merpati", tulisan kita hanya akan berumur dengan hitungan menit! Apalagi tulisan kita mendiskreditkan mereka atau mereka biar terkesan menang terus dalam berdebat, bukan hal yang sulit untuk men-delete tulisan tersebut. Alangkah sulitnya kita menghargai  sebuah ketulusan , mengapa yang kita lihat hanya "kesombongan" semata, tanpa kita mau berkaca?

     Lebih baik melihat orang itu dari sisi positipnya daripada sisi negatipnya, ini lebih nyaman terasa di hati namun sering sulit melakoninya.

     Tetapi ada satu kalimat   sinis tapi manis  yang sepertinya sudah menjadi "ikon" blogger pasar Klewer ini, yaitu   "........DARI HONGKONG!"   Saya nggak tau, apakah kalimat tersebut sudah dipatenkan seperti kalimat "I love you full"nya Mbah Surip atau belum?

                                                          *****

     Saya sangat menghargai akan dedikasi yang tinggi atas loyalitas pak Wawan yang sudah menulis hingga 200 artikel yang warna-warni isinya. Saya bisa merasakan betapa sepinya pada awal membuka kios beberapa tahun yang lalu. Dan kini pasar Klewer sudah ramai dan semakin ramai oleh mereka yang peduli dengan Firman Tuhan yang luas dan dalam ini. Saya sendiri belum memahami apa itu hit atau point yang ada dalam pikiran hanya bisa menulis dengan baik, bisa dipertanggungjawabkan dan semoga menjadi berkat yang membacanya.

     Kepada semua saja, saya menyampaikan salam hormat , dengan tidak mengurangi rasa hormat.  Salam hormat dari Hongkong ha ha ha.................!

 

                                                         *****

 

 Semoga  Bermanfaat  Walau  Tak  Sependapat