Apa yang paling dibutuhkan/dipulihkan adalah hadirat Allah di tengah umat-Nya. Bahkan bila segala kebenaran yang ‘hilang’ atau ‘tercuri’ telah dipulihkan atau kembali, kita masih akan hanya menuju rawa-rawa lainnya bila kita tidak ‘memiliki’ hadirat Allah. Tanpa hadirat Allah kita tidak memiliki kuasa, tidak ada otoritas dan tidak ada kemuliaan yang dinyatakan bagi orang-orang terhilang/bangsa-bangsa lain.
Hadirat Allah dimanifestasikan dalam berbagai cara, namun saya tidak ingin menempatkan sebuah penekanan pada apapun manistasi tertentu HadiratNya. Faktanya adalah semata-mata bahwa kita harus memiliki hadirat Allah bersama kita, atau kita tidak mempunyai harapan menjadi Gereja/orang Kristen yang Allah inginkan pada kita.
Dia Allah dan Dia dapat menyatakan diriNya dalam cara apapun yang Dia suka. Apapun manifestasi HadiratNya yang memungkinkan, hadirat dan kuasa Roh Kudus ditengah-tengah umatNya memastikan keberhasilan.
Ketika Allah menyatakan / shows up di sebuah pertemuan/kebaktian, maka Dia membuat penyesuaian-penyesuaian. Dia mengubah orang-orang yang mau berubah. Tanpa Roh yang memberikan kehidupan, maka kita hanya mempunyai khotbah yang hanya berupa kata-kata. Hasilnya kematian. Namun bila Dia datang, maka ada potensi bagi pertumbuhan dan keberbuahan (2 Kor.3:6,17-18).
Pelayanan sejati terjadi ketika ada operasi Roh Kudus, yang mana Dia MENTRASFORMASIKAN kita menjadi serupa gambaran Kristus melalui FIRMAN ALLAH! Bila tidak ada terjadi TRANSFORMASI, maka tidak ada pelayanan yang telah terjadi. Yang ada hanyalah kita sedang mendengar pemberita memberikan khotbah yang bagus atau yang buruk.
Banyak manifestasi dari pekerjaan Roh Kudus di dalam gereja pada tahun-tahun akhir ini, dan begitu luarbiasa sekali. Namun itu bukanlah apa yang perlu kita beri fokus. Adalah Allah sendiri yang harus kita beri fokus, dan berhati-hati untuk tidak memberikan fokus perhatian pada manifestasi-manifestasi yang terjadi. Kita harus berhati-hati untuk tidak mereduksi Roh Kudus menjadi suatu ‘pengalaman’, manifestasi atau ‘sesuatu’ apapun. Dialah Allah. Dia Allah yang ‘teratur’ dan bukan ‘pencipta’ kebingungan. Dia wajar, bukan tidak waras!
Dikarenakan banyak ketidak-seimbangan dan ekstrem-ekstrem maka para pengamat luar hampir-hampir berpikir bahwa apa yang sedang terjadi itu tidak seimbang/tidak wajar. Kita tahu bawa di tahun 1900-an banyak terjadi RESTORASI kuasa dan hadirat Allah di dalam gereja. Dan banyak juga terjadi ektrem-ekstrem maupun ekses-ekses lainnya. Namun semua itu bila di’handle’ dengan tepat oleh para pemimpin gereja maka kita bisa melihat semakin sedikit kekacauan. Semua telah terjadi, dan pemurnian telah terjadi di dalam gereja. Apa yang harus kita pastikan adalah tidak menambah kesalahan dan kepahitan masa lalu.
Tragedinya sekarang adalah mayoritas di gereja ‘menentang’ hadirat Roh Kudus. Memang seharusnya kita tidak ‘menghilangkan’ kebenaran-kebenaran yang sempat ‘hilang’ yang kemudian didapat/dipulihkan kembali di tahun 1900an itu, namun kita bisa MAJU dengan cara kita yaitu terutama ber’fokus’ kepada Tuhan sendiri, RESPEK kepada pribadiNya, bukan dengan sekedar mencari kuasaNya saja. Dengan demikian kita bisa memainkan peranan kita di generasi ini.