Di sini saya akan memuat isi bab yang ketiga dari buku "Rumah Tuhan menjadi Sarang Penyamun". Di dalamnya nanti Anda akan diperkenalkan kepada para penyamun di dalam gereja-gereja sekarang ini. Mereka itu tidak lain dari para pendeta/gembala gereja-gereja itu sendiri. Mereka mengenakan jubah seorang gembala, tetapi mereka tidak lain adalah para pencuri. Merekalah yang disebut oleh Yesus sebagai "gembala-gembala palsu" atau "gembala-gembala upahan", yang dilawankan oleh Yesus dengan diri-Nya sendiri, yang adalah "Gembala yang baik". Gembala yang baik selalu hanya berfokus untuk memberi. Tetapi, gembala-gembala palsu itu selalu berfokus untuk mengambil. Baca sajalah selanjutnya.....
Penyamun
&
Sarang Penyamun
|
P |
enyamun. Apakah atau siapakah itu? Pencuri, penodong, perampok, penjahat, bandit, begal dan masih banyak lagi yang lainnya -- itu semua bisa kita masukkan menjadi satu golongan dengannya. Pokoknya, penyamun adalah orang(-orang) yang selalu menjadi pelaku kejahatan. Mereka mencari nafkah dan memenuhi keinginan-keinginan mereka dengan melakukan kejahatan.
Cerita Tentang Penyamun
dan Korbannya
Kalau saya mendengar kata “penyamun” maka, biasanya, ingatan saya akan terbawa pada cerita yang sangat menawan di dalam Alkitab, yaitu cerita yang dituturkan oleh Tuhan Yesus sendiri, yang kita kenal -- dengan judul yang diberikan oleh LAI -- sebagai: “Orang Samaria yang murah hati” (Luk 10:30-35). Dalam cerita itu dikisahkan seorang yang melakukan perjalanan dari Yerusalem menuju ke Yerikho. Di tengah perjalanan dia dihadang dan diserang oleh penyamun-penyamun. Dia dipukuli hingga setengah mati dan seluruh hartanya dikuras habis oleh penyamun-penyamun itu. Suatu perlakuan yang sangat kejam dan betul-betul tidak manusiawi. Seperti itulah yang dilakukan oleh penyamun.
Ceritanya sendiri memang belumlah berakhir sampai di situ saja. Bahkan, tokoh utamanya – orang Samaria yang murah hati itu — masih belum lagi muncul di panggung. Tetapi, untuk maksud kita di sini, tidak perlulah kita mengikuti ceritanya itusendiri sampai berakhir. Sebab tujuan kita dalam melihat cerita itu di sini bukanlah untuk menemukan makna ceritanya sendiri secara keseluruhan, tetapi hanya sekedar untuk mendapatkan gambaran yang hidup dan segar di dalam Alkitab mengenai para penyamun, ketika mereka menjalankan aksinya.
Memang, kalau ceritanya kita penggal sampai di situ saja, judul “orang Samaria yang murah hati” itu sudah tidak cocok lagi. Karena itu, hanya untuk kepentingan kita di sini saja, judulnya kita buat saja menjadi: “cerita tentang penyamun dan korbannya.”