Mengapa Kita Memerlukan Anak Allah Yang Tersalib? (1)
Semula manusia diciptakan tanpa dosa. Mereka tinggal di taman Eden dalam keadaan telanjang tapi tidak malu, karena mereka sebenarnya diselimuti oleh kemuliaan Allah sendiri. Mereka mempunyai persekutuan yang intim dan indah dengan Allah Sang Pencipta yang Maha Suci. Namun karena dusta Iblis yang menyesatkan, mereka melanggar perintah Allah "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati."
Mereka terpengaruh kata-kata si Pendusta : "Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat."
Kemudian mereka makan buah itu. Saat itu juga kemuliaan Allah meninggalkan mereka, karena tak mungkin terang bersatu dengan gelap, tak mungkin yang Maha Suci bersatu dengan yang berdosa. Mereka mati secara rohani seketika itu juga. Mereka mulai malu dengan ketelanjangan mereka. Dari mahluk abadi mereka berubah menjadi fana, menjadi tua, dan rentan dengan sakit penyakit dan kecelakaan. Mahluk fana melahirkan mahluk fana yang lain. Kita semua adalah mahluk fana, dilahirkan untuk menunggu ajal.
Lihatlah keadaan kita. Kita tidak mungkin bersatu lagi dengan Allah yang Maha Suci karena kita semua tidak ada yang tidak berdosa (buktinya kita semua akan mati, dan bisa mati kapan saja).
Namun kerinduan batiniah kita semua, kita ingin sekali agar roh kita bisa bersama-sama Allah lagi bila kita meninggal. Secara nurani kita semua takut berada terpisah dari Allah, karena terpisah dari Allah berarti kita berada di tempat yang paling busuk, paling menakutkan, dan paling mengerikan yang tak terbayangkan. Lalu kita berusaha dengan kekuatan kita yang sangat terbatas ini untuk menciptakan jembatan ke tempat Allah Yang Maha Suci berada. Jembatan ”Perbuatan Baik”, jembatan ”Agama”, jembatan ”Kesalehan”, “Filsafat”, “Ilmu Pengetahuan”,dan lain-lain (daftarnya boleh diperpanjang sendiri).
Tentu saja jembatan buatan kita tak ada yang bisa mencapai tempat kediaman Allah Yang Maha Suci.
Note :
Terpaksa bersambung nih. Kayaknya layar tak sanggup memuat semua ilustrasi.
