Shalom,
Kejadian beberapa hari yang lalu sempat bikin Muji terpukul dan lebih banyak merenung. Anak saya, sepulang dari kemah bakti tiba-tiba menampakkan perilaku yang kasar, mudah mengeluarkan kata-kata kotor dan makian. Biasanya tidak begitu. Sore harinya kami ke Jogya untuk persekutuan doa.
Setelah sekitar satu jam kami menyembah dan berada dalam hadirat Tuhan yang kuat, maka kami selesai berdoa dan mulai berbagi mengenai apa yang kami peroleh selama menyembah.
"Pak, Roh Kudus berkata, bahwa anak bapak perlu pelepasan. Tadi aku diperlihatkan banyak roh jahat yang masuk pada anak ini" kata seorang teman.
Memang, anak saya kelihatannya wajar-wajar saja, hanya memang lebih temperamental, seperti saya sebutkan di awal tulisan ini.
Lalu kami berdoa meminta otoritas ilahi untuk lakukan pelepasan, Kami tumpang tangan, dan anak saya mulai batuk-batuk kecil. Kami sediakan kertas koran, seperti biasa jika hendak lakukan pelepasan. Roh Kudus terus memberitahu roh-roh apa yang merasuki anak saya.
(Menurut Daud Tony, yang tulisannya banyak disanggah oleh suhu HAI-HAI, jenis kerasukan ini termasuk kerasukan sebagian, bukan kerasukan total. Kerasukan total membuat yang bersangkutan benar-benar tidak sadarkan diri, walau tidak sedang berada dalam hadirat Allah. Tetapi kalau itu adalah kerasukan sebagian, maka roh jahat bermanifestasi merampas sekian persen tingkat kesadaran ybs hanya pada waktu berada dalam hadirat Allah atau dalam bentuk perilaku yang - misalnya - temperamental).
Setelah sekian menit, kesadaran anak saya mulai terbagi. Tiba-tiba dia merangkak-rangkak seperti babi hutan. Saya tengking roh babi hutan, dan keluar. Lalu masih posisi merangkak, tangannya mencengkeram seperti seekor harimau. Roh Kudus memberitahu adanya roh macan, dan kami usir dia.
Tiba-tiba, roh jahat itu berbicara dalam bahasa jawa, menggunakan mulut anak saya yang masih dengan mata terpejam berkata:" Heh, asu kowe!! Kurangajar kowe! Aku emoh metu saka bocah iki. Aku betah neng kene, Ha ha haa,..."
"Uwis, ora kakehan omong, aku wegah omong karo kowe. Bocah iki kagungane Gusti Yesus, iki dudu panggonanmu. Aku mrentahke kowe lungo, sak jerone asmane Gusti Yesus!" jawab kami.
Kami pakai minyak urapan, untuk membakar roh jahat itu, kami juga meminta Tuhan untuk kiranya membuka mata dan telinga roh jahat itu untuk melihat sumur api di depannya,... dan roh jahat itu nampak sangat ketakutan melihat nyala yang keluar dari sumur api itu.
"Yen kowe ora gelem lungo, kowe tak jegurke neng sumur geni kuwi. Ayo, lungo, geni iki panas! panas! " hardik kami meyakinkan roh jahat itu.
Tidak berlama-lama keluarlah roh jahat itu dengan sebuah muntahan kecil.
Anak saya mulai tersadar, dan tersenyum.
"Gimana, sudah lega?" tanya teman saya.
"Ya, tante, saya sudah tenang, lega." jawab anak saya sambil memberihkan muka dan mulutnya dengan tissue.
Kejadian semacam ini merupakan kesekian kali peristiwa yang semakin meyakinkan Muji, bahwa pada orang-orang yang memiliki kecenderungan memaki-maki, menghina, (hujat), mencaci, mengeluarkan kata-kata kotor, ternyata di balik semua itu ada "dalangnya" yaitu roh-roh jahat.
Terkadang orang Kristen pun ngak sadar kalau dia sedang kerasukan sebagian. Hati yang terbuka, dan berada dalam hadirat Allah, akan memaksa roh jahat yang merasuki seseorang dengan "kerasukan sebagian" untuk bermanifestasi.
Sepertinya di SS masih ada user yang kerasukan sebagian. Muji sudah lama "mencium baunya". Semoga mau merendahkan diri, agar Tuhan mau melepaskan dia.
Salam kudus,