Submitted by
Purnomo
on
Bergegas saya ke rumah sakit begitu mendengar teman saya meninggal. Di depan UGD saya bertemu putranya. “Papa meninggal tadi siang,” cerita mahasiswa kedokteran itu. “Di monitor saya melihat sudah tidak ada lagi aktivitas otak. Tetapi Nenek tidak mau Papa berhenti bernafas pada hari Sabtu. Ia tidak mengijinkan dokter melepas alat bantu kehidupan. Besok pagi baru alat-alat itu dilepaskan.”
Salah satu mitos kematian mengatakan mereka yang meninggal pada hari Sabtu akan membawa serta satu-dua anggota keluarga menemaninya ke alam maut. Bagaimanakah mitos ini bisa muncul? Saya menduga mitos ini berasal dari bangsa Yahudi yang ketika Yerusalem dihancurkan oleh pasukan Romawi sekitar tahun 70M mereka tersebar ke mana-mana. Di antaranya ada yang menetap di daratan Tiongkok. Mereka tidak melakukan kegiatan pada hari Sabat (Sabtu) walaupun ada anggota keluarganya meninggal. Menunggu berlalunya hari Sabat, jenasah disimpan dalam rumahnya. Penundaan ini bisa membuat seisi rumah terkontaminasi penyakit apabila almarhum meninggal karena penyakit menular.
Pada awalnya kata mitos berarti suatu cerita rakyat atau sejarah orang suci yang diyakini dan disucikan oleh masyarakat tertentu dan dijadikan sebagai pedoman hidup atau hukum tak tertulis yang mengatur perilaku masyarakat. Kemudian kata ‘mitos’ artinya berkembang biak dan salah satunya berarti pedoman perilaku yang diyakini banyak orang tanpa dasar yang masuk akal. Dalam kamus The American College Dictionary – New York 1951, pengertian ini disebut “mythical” (bersifat mitos) karena “having no foundation in fact; imaginary; fictitious”.
Dalam perkawinan juga ada mitos-mitos. Pernah memperhatikan iklan duka cita orang Tionghwa yang berumur 75 tahun ke atas? Yang meninggal pasti punya she (marga) yang tidak sama dengan pasangannya. Marga Liem tidak boleh menikah dengan marga Liem. Alasannya, untuk menghindari perkawinan sedarah. Bahkan dulu pernah ada mitos yang mengatakan suku Hokkian lebih tinggi derajatnya daripada suku Hakka. Mitos ini melahirkan pantangan bagi perempuan Hokkian untuk menikah dengan pria Hakka. Alasannya? Mana boleh adik lelaki menikah kakak perempuannya. Kalau yang prianya dari suku Hokkian, boleh.
Dua mitos di atas sudah tidak berlaku lagi. Sudah kadaluwarsa. Jadi kalau Anda she Oei, Anda sekarang boleh menikahi keturunan raja gula Oei Tiong Ham dari Semarang. Jika nama Anda Cong Cien Cau, tak perlu ragu untuk jatuh cinta dengan keturunan Tjong A Fie hartawan sekaligus dermawan dari Medan. Tetapi saya pernah repot berhadapan dengan mitos perkawinan dalam masyarakat Tionghwa. Ketika mau melamar calon istri saya, ternyata perbedaan umur kami yang 3 tahun jadi masalah. Ini tidak boleh. Pamali kata orang Sunda. Track record perkawinan akan diwarnai cekcok. Ketika saya bertanya apa alasannya menjadi pamali, saya mendapat jawaban yang makin membingungkan, “Kursi itu tidak bisa berkaki tiga.” Apa hubungannya antara perkawinan dengan kursi?
Jika saya tak salah, dalam masyarakat Sunda juga ada larangan pernikahan antara anak sulung dengan anak bungsu. Bila pamali ini dilanggar, bahtera perkawinan akan kandas. Berdasarkan psikologi larangan (lebih tepat: anjuran) ini bisa dimengerti. Seorang sulung biasanya punya karakter mandiri dan pegang kendali. Sedangkan seorang bungsu biasanya manja, kolokan, bergantung kepada orang lain. Jika si sulung itu perempuan dan si bungsu lelaki, bisa dibayangkan apa yang terjadi. Sang istri bekerja jungkir balik mencari nafkah, sang suami di rumah saja sibuk dengan burungnya. Kalau genteng rumah bocor, sang istri yang di atas atap, sang suami di bawah memegangi tangga.
Mitos-mitos ini bisa membuat sebuah cinta pertama mendadak hang tanpa sang korban mengetahui sebabnya. Pacar memutuskan hubungan tanpa mau memberitahu apa dosa kita. Mengapa demikian? Karena pacar malu bila kita tahu – dan kemudian karena jengkel menyebarluaskan ‘aib’ ini kepada banyak orang – bahwa keluarganya masih memegang mitos-mitos seperti itu.
Ketika saya dibisiki calon istri selisih umur dipermasalahkan oleh keluarganya, saya heran. Pacar saya ini aktivis gereja. Orangtuanya sudah lama Kristen. Bagaimana mitos ini masih mereka pegang? Saya tidak mau menjalani ritual penolak bala. Maka pacar saya repot meyakinkan keluarganya bahwa “kursi berkaki tiga” juga ada dan tak pernah ambruk. Keluarganya mau mengerti karena bukti-buktinya ada di sekitar kami. Lamaran dilakukan. Pernikahan akan diselenggarakan dalam waktu dekat. Saya mendahului mengajukan sebuah tanggal. Satu tanggal saja, tidak ada tanggal cadangan. Calon mertua setuju. Saya lega.
Pada dasarnya sebuah mitos punya tujuan baik dengan dasar yang jelas. Misalnya saja orang harus menikah. Apakah ini jelek? Melalui sebuah pernikahan seseorang mempunyai pendamping dalam menghadapi kesulitan hidup. Mereka bisa saling menyemangati. Anak-anak yang mereka lahirkan juga kelak akan merawat mereka pada masa tuanya. Hidup mereka tidak akan terlantar. Bila kita hidup dalam budaya agraris, tidak ada salahnya mematuhi anjuran (mitos) ini selama kita tidak asal menikah karena kita bukan binatang.
Tetapi mitos ini kehilangan relevansinya dalam budaya industri atau budaya teknologi informasi saat ini. Kecanggihan peralatan komunikasi membuat kita tidak perlu menikah apabila menikah hanya untuk hidup tanpa kesepian. Apabila kita hendak mengamankan hari tua kita, kita bisa menginvestasi harta kita dalam deposito atau saham tanpa harus menikah apabila menikah hanya untuk membuat jala pengaman hari tua. Rumah jompo yang bagai hotel juga sudah banyak. Jika kita ingin punya anak, kita bisa pergi ke panti asuhan untuk memilih dan mengadopsi seorang anak. Jika kita ingin menikmati sebuah kehamilan, kita bisa mendapatkan embrio bayi tabung tanpa harus punya suami yang belum tentu bisa membahagiakan kita. Hanya saja ada sesuatu that money cannot buy. Cinta yang tulus dari seseorang. That’s it!
Karena itulah tidak mudah begitu saja membuang sebuah mitos dari diri seseorang yang pernah lama mengakrabinya. Dan itu terbukti pada hari pernikahan saya. Saya yang sudah lega karena merasa telah berhasil mematahkan mitos selisih umur 3 tahun terkejut ketika mobil pengantin menjemput saya. Pada keempat pintunya melambai-lambai 4 helai kertas jimat warna kuning dengan aksara kanji. Apa yang harus saya perbuat? Tidak mungkin kami datang ke gereja dengan kertas jimat ini. Apa yang kemudian saya lakukan bisa dibaca dalam artikel “Kertas jimat di depan mimbar”.
Sebelum saya mengakhir artikel ini, saya akan mengajak para pembaca mencermati sebuah mitos perkawinan yang sangat berpotensi menghancurkan sebuah cinta pertama. Saya akan menjelaskannya dalam format kasus¹.
Setelah menyelesaikan tahapan pendekatan dan seleksi selama hampir 2 tahun, Agus menyatakan cintanya kepada Rena. Rena setuju mendampingi Agus memasuki tahapan pacaran dimana mereka tidak lagi melirik orang lain. Agus yang selama ini mencari uang sebagai makelar jual beli sepeda motor bekas, melamar kerja di sebuah perusahaan konstruksi kecil. Kebaikan hati pemilik perusahaan itu membuat Agus diterima walaupun umurnya sudah 31 tahun. Gajinya kecil tetapi ini lebih baik daripada hasil yang tidak menentu sebagai makelar. Terlebih lagi setelah melihat dedikasi dan prestasi kerjanya, majikannya menjanjikan jabatan kepala cabang di kota lain setelah ia mempunyai masa kerja 3 tahun. Dengan gaji sebagai kepala cabang Agus bisa memiliki sebuah rumah melalui fasilitas KPR dan menikahi Rena.
Sukacita hati Rena terusik ketika suatu hari ibunya bertanya kepadanya kapan orangtua Agus datang melamarnya. Minggu lalu orangtua pacar Reni adiknya telah datang berkunjung. Mereka bertanya kapan mereka bisa datang kembali untuk melamar Reni untuk putra mereka. Tetapi orangtua Rena dengan halus meminta mereka untuk bersabar karena mereka ingin Reni tidak melangkahi kakak perempuannya.
Umur Rena sudah 27 tahun. Sehari-hari bersama Reni ia menjaga toko kecil milik orangtuanya. Reni yang berusia 25 tahun juga sudah mengatakan kepadanya ia tidak mau melangkahinya. Ia rela menunggu 3 tahun lagi dengan risiko ia kehilangan pacarnya yang sudah ngebet kawin daripada menyakitkan hati kakak satu-satunya. Rena makin tertekan melihat ibunya mulai sering membicarakan kebaikan Tino anak pedagang besar yang banyak membantu usaha toko mereka. Rena tahu Tino diam-diam mencintainya. Tino pemuda yang baik dan sopan. Walaupun ia anak orang kaya, ia tidak pernah mamandang rendah mereka yang status ekonominya di bawah orangtuanya.
Pada suatu malam ibunya berbicara kepadanya. “Rena, walaupun Ibu melihat Tino mempunyai banyak kelebihan sebagai seorang calon suami, Ibu tidak berkeberatan kamu menikah dengan Agus. Ibu tahu kamu mecintainya bukan karena ia berpenghasilan tinggi, atau karena ia tampan. Mungkin saja kamu mencintainya karena kekurangannya. Kamu merasa dirimu lebih dibutuhkan oleh Agus. Tetapi ingatlah, kamu juga dibutuhkan oleh Reni dan orangtuamu. Apakah kamu tega Reni kehilangan kekasihnya karena menunggu terlalu lama? Jika kamu tetap ingin menikah dengan Agus, beritahu dia agar orangtuanya secepatnya datang melamarmu.”
Jikalau Anda adalah Rena, apa yang sebaiknya Anda lakukan? Memberitahukan Agus masalah yang sebenarnya dengan segala risikonya, atau diam-diam berpaling kepada Tino?
Jikalau Anda adalah Agus, setelah mendengar kegalauan hati Rena, apakah yang akan Anda lakukan?
Sumbangkanlah pendapat Anda. Siapa tahu saran Anda menolong mereka yang saat ini sedang berpikir untuk menghentikan kisah cinta mereka gara-gara terhadang mitos ini.
Trouble is a part of your life, and if you don’t share it, you don’t give the person who loves you a chance to love you enough. (DinahShore)
(selesai bagian ke-2)
¹ Kasus ini hanya rekaan belaka. Jika ada kasus nyata yang serupa, itu hanya kebetulan. Bila sama dengan kasus Anda, yaaa . . . . . anggap saja itu musibah.
Normal
0
MicrosoftInternetExplorer4
Serial Cinta Pertama,
bagian ke-1: Cinta pertama jangan membuat bodoh.
bagian ke-2: Cinta pertama terganjal mitos
bagian ke-3: Cinta pertama beralas harta.