Submitted by hai hai on

foto: pendoasion.wordpress.com

Diajari main gitar dengan kunci yang salah. Semakin giat berlatih, dia semakin ahli. Semakin sering bermain dia semakin terlatih. Namun sayang seribu kali sayang, kunci yang dimainkannya SALAH. Itu sebabnya, semakin terlatih dan semakin ahli, semakin ngaco-belo. Sistem pendidikan sekolah teologi Kristen benar-benar MENGENASKAN. Mahasiswa teologi sibuk belajar BUKU teologi sehingga nggak sempat belajar Alkitab. Semakin tinggi sekolahnya, kian banyak buku yang harus dibacanya dan makin sedikit waktunya untuk belajar Alkitab. Kian banyak gelarnya, makin banyak buku teologi yang dibacanya namun semakin BANYAK ajaran Alkitab yang dilupakannya karena nggak sempat mempelajarinya ulang. Doktor Teologi Ioanes Rakhmat adalah salah satu KORBAN sistem pendidikan Teologi Kristen yang mengenaskan. Semakin belajar semakin JAUH dari Alkitab. Kenapa demikian? Karena sibuk belajar buku teologi dan nggak sempat belajar Alkitab. Dengan berlalunya waktu, semakin banyak ajaran Alkitab yang dilupakannya.

Memberanikan diri bertanya, dalam tulisannya yang berjudul Mitos Taman Eden, Adam, dan Hawa, Ioanes Rakhmat menulis:

Meskipun kita akan segera masuk ke tahun 2012, banyak orang di Indonesia, bahkan yang terpelajar juga, menolak sains evolusi Darwinian karena adanya kisah skriptural tentang Taman Eden yang konon di dalamnya Adam dan Hawa diciptakan langsung besar sebagai manusia dewasa dan semula ditempatkan oleh Allah. Bagi mereka, kisah ini adalah kisah nyata, bukan fiksi, ada dalam kitab-kitab suci sebagai wahyu ilahi yang tak mungkin salah, karena itu harus dipercaya dan dipertahankan apapun juga taruhannya. Jelas, budaya yang menguasai Indonesia adalah budaya agama (di samping budaya korupsi), bukan budaya saintifik.

Karena itu, untuk membangun suatu budaya saintifik, hemat saya, tak ada jalan lain, selain menunjukkan kepada anda bahwa kisah tentang Taman Eden adalah 100 persen dongeng. Tak percaya? Mari simak penyelidikan berikut.

Hanya dalam dongeng saja, ada sepasang manusia purba, lelaki dan perempuan, yang tidak memiliki pusar sama sekali karena tidak pernah menjadi janin dalam rahim seorang ibu, berhubung keduanya diciptakan langsung besar. (Kalaupun keduanya diciptakan sebagai sepasang bayi yang juga tak mempunyai pusar, kedua bayi ini akan pasti mati karena tak ada induk yang dapat menyusui dan memelihara mereka.)

Rabalah perut anda, dan rasakan apakah anda memiliki sebuah pusar; kempot ke dalam atau bodong keluar, tak masalah. Kalau anda keturunan langsung Adam dan Hawa mitologis, haruslah perut anda juga tidak memiliki pusar. Anda ternyata keheranan, dari mana asal-usul paling awal udel anda, bukan? Semoga anda langsung tersadarkan bahwa andalah manusia yang real, sedangkan Adam dan Hawa cuma dua makhluk khayalan.

Hanya dalam dongeng saja, manusia perempuan muncul dari satu tulang rusuk lelaki, sementara semua tulang rusuk pria hingga kini selalu komplit.

Menurut sains, homo sapiens nenek moyang anda bukan muncul pertama kali di Taman Eden sebagaimana dikisahkan kitab suci anda, melainkan di Afrika, 300.000 tahun yang lalu, sebagaimana ditunjukkan oleh bukti-bukti arkeologis./1/

Hanya dalam dongeng saja ada sebatang pohon moral yang menurut kisahnya tumbuh di tengah Taman Eden, yang jika buahnya dimakan, si pemakan akan langsung cerdas, minimal cerdas secara moral, tanpa perlu melewati proses panjang pembelajaran!

Sama seperti sekeping biji ketika dilempar ke tanah keesokan harinya telah tumbuh seketika menjadi sebatang pohon bayam yang puncaknya sampai ke langit, yang bisa membawa manusia ke suatu negeri kaya raya di atas awan-awan dan yang bisa membuatnya kaya raya dalam sekejap! Kisah tentang sekeping biji ini tentu saja dongeng ciptaan Hans Christian Andersen yang sangat menawan kanak-kanak, yang sesudah dikisahkan kepada mereka, mereka langsung tertidur.

Anda tentu teringat kisah dongeng yang serupa dalam bagian akhir kitab Yunus dalam Tenakh Yahudi, tentang sebatang pohon jarak yang tumbuh tinggi dan mengeluarkan daun-daun lebat dan lebar hanya dalam semalam! Yunus murka kepada Allah dan minta mati, ketika pohon jarak itu, yang daun-daun lebarnya dijadikannya tempat berteduh dari sengatan cahaya Matahari, dibuat mati oleh Allah!

Hanya dalam dongeng saja ada seekor ular berkaki, yang cerdas dan bisa berbicara bahkan berhasil meyakinkan manusia tentang sebuah kebenaran yang konon hanya Allah saja yang tahu.

Hanya dalam dongeng saja, curiosity atau rasa ingin tahu yang besar pada diri Hawa yang mendorongnya memetik dan memakan buah pohon moral itu, harus dikutuk dan dijadikan alasan untuk menghukum manusia, sementara dalam dunia real modern masa kini curiosity-lah, selain kebutuhan survival manusia, yang membuat sains maju dan terus berkembang di tangan manusia-manusia cerdas dan pemberani, seperti dicontohkan oleh Hawa dalam mitos Taman Eden.

Ketahuilah, sama seperti dalam kisah skriptural Taman Eden, seorang suci Santo Augustinus (354-430 M), yang dipuja dalam gereja dari abad ke abad, dengan terbuka mengutuki rasa ingin tahu (kuriositas), tulisnya,

“Ada satu bentuk godaan lagi, bahkan lebih berbahaya, yakni penyakit ingin tahu. Rasa ingin tahu inilah yang selalu mendorong kita untuk mencoba menemukan rahasia-rahasia alam, rahasia-rahasia yang sebetulnya berada di luar kemampuan kita untuk memahaminya, yang hanya akan membuahkan kesia-siaan jika dicari, yang seharusnya manusia tidak ingin pelajari.”/2/

Hanya dalam dongeng saja Allah punya tubuh, kaki, tangan, kepala, rambut, mata, alis, hidung, telinga dan mulut, sehingga membuatnya bisa berjalan-jalan di Taman itu mencari-cari Adam dan Hawa, melihat-lihat, pada hari yang sejuk./3/ Saya membayang-bayangkan, jika Allah sang Bapa ini bugil seperti Adam dan Hawa, bagaimana penampilannya. Seandainya Allah ini berbusana, mungkin saja dia memakai baju batik dan kain sarung, dan memakai blangkon sebagai kopiahnya. :))

Kenapa Allah mencari Adam dan Hawa? Karena keduanya, sehabis memakan buah ajaib itu, ketakutan lalu mencari tempat bersembunyi, menghilang dari pandangan Allah.

Hanya dalam dongeng saja seorang manusia lelaki dan seorang manusia perempuan yang keduanya bugil total tidak terangsang secara seksual satu sama lain, sekian lama, bahkan masing-masing tidak menyadari kalau keduanya telanjang bulat.

Hanya dalam dongeng saja, Adam dan Hawa, lelaki dan perempuan, setelah sekian lama hidup bersama baru sadar bahwa keduanya telanjang bulat setelah memakan buah ajaib mitologis tadi.

Hanya dalam dongeng saja ada manusia berusia sampai empat ratus atau lima ratus tahun, dengan tetap muda dalam jangka waktu yang sangat panjang.

Hanya dalam dongeng saja ada sebuah pohon lain di sebelah timur Taman Eden mitologis yang jika buahnya dimakan, Adam dan Hawa akan hidup abadi, sehingga konon Allah menempatkan beberapa malaikat berpedang bernyala untuk menjaga pohon ajaib kedua ini.

Kita tahu Drakula atau Vampire bisa hidup abadi karena meminum darah manusia, korban-korban mereka. Tapi kita juga sangat tahu bahwa dua makhluk abadi peminum darah ini hanya hidup dalam dongeng-dongeng dari negeri-negeri Eropa dan Amerika, sama seperti Leak hanya ada dalam dongeng rakyat Bali. Kita juga tahu ada satu makhluk menyeramkan, monster manusia, yang dibuat dengan menyatukan, lewat jahitan, serpihan-serpihan dan potongan-potongan mayat, lalu dihidupkan kembali dengan tenaga listrik dan petir. Tetapi monster manusia ini, yang diciptakan seorang profesor gila yang bernama Frankenstein, hanya ada dalam novel karya Mary Shelley yang edisi keduanya terbit 1831 di Inggris. Pesan novel ini jelas: dengan dijahit, serpihan-serpihan mayat bisa dihidupkan lagi, kematian bukan akhir! Tentu saja, pesan ini hanya berlaku dalam dunia dongeng.

Cukuplah sudah saya memperlihatkan kepada anda bahwa kisah skriptural tentang Taman Eden dan semua kejadian yang dikisahkan di dalamnya adalah dongeng belaka.

Setiap kisah skriptural, juga yang berupa kisah fiktif atau fantasi, ditulis pasti dengan suatu tujuan oleh si penulisnya dulu. Nah, apa tujuan penulisan kisah fiktif Taman Eden?

Penulis kisah Taman Eden dalam Kejadian 2:8-3:24, yakni mazhab Yahwis yang bekerja pada abad sepuluh SM di istana raja Daud/raja Salomo, sudah lama memperhatikan banyak kejadian yang berkaitan dengan lingkungan hidup, manusia, binatang, kerja keras, moralitas, doktrin agama, nafsu berahi, persalinan perempuan, kematian, dan lain-lain.

Semua yang mereka lihat, mereka renungkan dalam-dalam, dengan banyak tujuan, salah satu di antaranya adalah untuk menemukan jawaban mengapa ada penderitaan dalam dunia ini, sebuah pertanyaan yang juga sangat mengganggu pikiran ??kyamuni Siddh?rtha Gautama di tempat dan zaman yang lain (563-483 SM) yang membuatnya meninggalkan istana lalu masuk ke dalam kehidupan tapa brata untuk mencari jawaban-jawaban yang dapat membebaskan manusia dari dukkha./4/

Lalu mereka, para sastrawan Yahwis ini, memberi jawab dengan menulis kisah tentang asal-usul (etiologi) yang sepenuhnya fiktif spekulatif. Dus, kisah Taman Eden historisnya tidak dimulai di permulaan kehidupan di zaman yang sangat lampau, tetapi dimulai di abad sepuluh SM di negeri Israel.

Para sastrawan Yahwis ini menemukan satu jawaban teologis sangat sederhana dan satu dimensi bahwa semua penderitaan manusia adalah akibat dari ketidaktaatan Hawa dan Adam terhadap ketetapan primordial Allah!

Kalau Gautama Buddha, setelah dia tercerahkan dan menemukan akar-akar timbulnya penderitaan, memberikan jalan-jalan keluar dari penderitaan yang musti dijalankan sendiri dengan berdisiplin oleh orang-orang yang mau mendengarkannya,/5/ para sastrawan Yahwis ini sama sekali tak memberi jalan keluar apapun, selain rasa putus asa yang dalam terhadap kemalangan manusia, Bumi dan makhluk-makhluk lainnya. Para sastrawan ini hanya memberikan etiologi, tapi tak menawarkan soteriologi, doktrin tentang ihwal bagaimana manusia bisa mencapai keselamatan (Yunani: s?t?ria), terlepas dari penderitaan./6/

Nah, salah satu hal yang para sastrawan ini selalu temukan dan amati pada abad sepuluh SM adalah kenyataan bahwa ketika setiap manusia mati, lalu mayatnya dikuburkan, mayat ini segera mulai membusuk lalu perlahan menjadi satu dengan tanah.

Dari pengamatan ini, mereka lantas menyimpulkan: kalau mayat akhirnya menyatu dengan tanah atau menjadi bagian dari tanah/Bumi, sudah mustinya manusia berasal pada awal sekali dari tanah, dari Bumi! Ini adalah cara berpikir siklikal yang umum ditemukan dalam masyarakat agraris zaman kuno, yang hidup di bawah kendali musim-musim yang datang dan pergi silih berganti, sebagai siklus yang abadi.

Bengcu Menjawab:

Alkitab adalah kumpulan kitab yang ditulis oleh banyak penulis. Kitab pertama, kitab Kejadian ditulis oleh Musa sekitar 1.500 SM sementara kitab terakhir, kitab Wahyu ditulis oleh Yohanes abad pertama masehi. Kitab-kitab di dalam Alkitab diwariskan dari generasi ke generasi dimana setiap generasi mengemban TITAH bahwa yang tertulis di dalam Alkitab  tidak boleh ditambah dan tidak boleh dikurangi serta tidak boleh diubah baik dengan sengaja maupun tidak sengaja. Baiklah kita namakan TITAH untuk melestarikan Alkitab sebagai Amanat Lestari.

Apakah setiap generasi berhasil menggenapi Amanat Lestari? Saya tidak tahu! Kita hanya mempunyai Alkitab yang kita miliki saat ini. Ada  yang BERIMAN alias merasa nyaman meyakini bahwa Amanat Lestari berhasil diemban oleh generasi ke generasi sehingga Alkitab yang kita miliki saat ini tidak berkurang, tidak bertambah dan tidak berubah. Namun, ada pula yang BERIMAN alias merasa nyaman meyakini bahwa Amanat Lestari tidak berhasil diemban sehingga Alkitab yang kita miliki saat ini mungkin berkurang, bertambah dan berubah. Perasaan NYAMAN meyakini sesuatu (IMAN) muncul sendiri tanpa dikehendaki. Itu sebabnya seseorang mustahil disalahkan atas apa yang diimaninya. Namun, apa pun yang diimaninya sama sekali tidak mengubah isi Alkitab yang kita miliki saat ini. Ada pula yang memaksa diri meyakini isi Alkitab tidak berkurang, tidak bertambah dan tidak berubah, itu pun tidak mengubah isi Alkitab sama sekali.

IR: Penulis kisah Taman Eden dalam Kejadian 2:8-3:24, yakni mazhab Yahwis yang bekerja pada abad sepuluh SM di istana raja Daud/raja Salomo, sudah lama memperhatikan banyak kejadian yang berkaitan dengan lingkungan hidup, manusia, binatang, kerja keras, moralitas, doktrin agama, nafsu berahi, persalinan perempuan, kematian, dan lain-lain.

Lalu Musa menuliskan segala firman TUHAN itu. Keesokan harinya pagi-pagi didirikannyalah mezbah di kaki gunung itu, dengan dua belas tugu sesuai dengan kedua belas suku Israel. keluaran 24:4

haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Ulangan 6:7

Tetapi seorang nabi, yang terlalu berani untuk mengucapkan demi nama-Ku perkataan yang tidak Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama allah lain, nabi itu harus mati. Ulangan 18:22

Di abad ke 20 seseorang, entah siapa, MENGARANG cerita bahwa pada abad ke 10 SM mazhab Yahwis yang bekerja pada raja Daud dan Salomo menulis dongeng kisah penciptaan Adam dan Hawa. Meskipun mengagulkannya sebagai ilmiah namun kisah yang DIKARANG di abad ke 20 tentang mazhab Yahwis di abad ke 10 SM Itu hanya dongeng belaka. Kenapa demikian? Karena kisah yang ditulis 3.000 tahun setelah zamannya berlalu, mustahil kisah nyata.

Kitab Keluaran mengajarkan bahwa kitab Kejadian ditulis oleh Musa. Musa menulis kitab Kejadian berdasarkan cerita YHWH (TUHAN) yang terlibat langsung di dalam kisah tersebut. Kisah tersebut kita warisi dari generasi ke generasi yang mengemban Amanat LESTARI.

Mana  yang  lebih berbobot Ilmiah? Kisah yang DIKARANG oleh entah siapa 3.000 tahun setelah zamannya berlalu tanpa sumber pustaka untuk menjawab pertanyaan: Kenapa yang diciptakan Allah dalam Kejadian 1 diciptakan lagi oleh TUHAN Allah di Kejadian 2? Atau kisah yang ditulis oleh Musa berdasarkan cerita TUHAN yang terlibat langsung dalam kisah tersebut dan catatannya diwariskan dari generasi ke generasi yang mengemban Amanat Lestari?

IR: Hanya dalam dongeng saja, ada sepasang manusia purba, lelaki dan perempuan, yang tidak memiliki pusar sama sekali karena tidak pernah menjadi janin dalam rahim seorang ibu, berhubung keduanya diciptakan langsung besar. (Kalaupun keduanya diciptakan sebagai sepasang bayi yang juga tak mempunyai pusar, kedua bayi ini akan pasti mati karena tak ada induk yang dapat menyusui dan memelihara mereka.)

ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup. Kejadian 2:7

Selanjutnya TUHAN Allah membuat taman di Eden, di sebelah timur; disitulah ditempatkan-Nya manusia yang dibentuk-Nya itu. Kejadian:8

Ilmu pengetahuan mengajarkan bahwa tali pusar adalah alat yang digunakan oleh JANIN untuk MENGHISAP sari makanan dari INDUKNYA. Apakah tanpa tali pusar janin pasti mati? Janin tanpa tali pusar bukan saja tidak akan mati bahkan bertumbuh kembang dengan baik asal sari makanan yang diperlukannya terpenuhi. Bagaimana dengan janin yang bertumbuh kembang menjadi bayi tanpa induk yang menyusui? Dia tidak akan mati dan akan bertumbuh kembang dengan baik selama mendapat makanan yang cukup. TUHAN Allah membuat tempat khusus yaitu taman di Eden untuk manusia yang dibentuk-Nya. Itulah bukti bahwa manusia mendapat pemeliharaan dan perawatan yang baik dari TUHAN Allah.

Kisah penciptaan manusia yang tercatat di dalam kitab Kejadian diceritakan kepada Musa untuk diceritakan kepada bangsa Israel pada zaman itu guna dipahami. Selanjutnya kisah tersebut pun  diajarkan kepada generasi-generasi selanjutnya untuk dipahami pula. Itu sebabnya meskipun 3.500 tahun telah berlalu namun kisah tersebut masih dapat kita pahami dengan benar bahkan jauh lebih gamblang dibandingkan dengan pemahaman generasi saat kitab tersebut ditulis.

Kitab kejadian mencatat bahwa manusia lelaki diciptakan dari SATU butir debu tanah. TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup. Itulah yang tercatat di dalam Kejadian 2:7. Alkitab sama sekali tidak mencatat bahwa satu BUTIR debu tanah ujug-ujug menjadi janin atau menjadi bayi apalagi menjadi orang dewasa.

SATU butir debu tanah menjadi makluk hidup alias menjadi manusia