Submitted by anakpatirsa on

        Kutanya dia.

        “Berapa muridnya di sini?”

        “Seribu sembilan belas,” jawabnya.

        Ia tahu aku hanya basa-basi. Aku juga bisa ikut-ikutan jadi gila, aku berhitung.

        “Termasuk Dio dan Vania, saya hitung cuma delapan belas.”

        “Yang seribunya itu si Dio,” jawabnya.

        Aku menahan senyum. Dio tidak pernah bisa diam. Melihatnya duduk manis berarti bencana, ia pasti telah melakukan sesuatu yang membuat orang tuanya marah besar

        “Satunya lagi siapa?” tanyaku. “Masih kurang satu.”

        Aku hanya ingin memberi tahunya kalau aku pandai berhitung.

        “Itu temannya si Dio main jungkat-jungkit.”

        Aku tertawa. Ia juga.

        Kulihat Dio bermain jungkat-jungkit. Ujung satunya kosong, kecuali berisi sebuah tas ransel kecil. Tanda bahwa seorang pun tidak boleh duduk di situ, termasuk adiknya sendiri. Jungkat-jungkit itu memang sudah menjadi hak miliknya sejak hari pertama masuk TK.

        “Dio memang sering menjengkelkan,” katanya, “tetapi tingkahnya juga membuat orang tertawa.“

        Setuju, pikirku. Dio anak paling menjengkelkan yang pernah kutemui. Kemarin ia membuatku jengkel lagi. Ketika pulang ke rumah, aku menemukan DVD-ROM-ku rusak. Lama kucari penyebabnya sampai akhirnya kutemukan selembar voucher pulsa di dalamnya. Ia memang menjengkelkan, tetapi aku juga tidak bisa menahan diri untuk tidak datang ke rumahnya, paling tidak untuk memanas-manasinya.

        “Saya tidak bisa menahan senyum melihat Dio dengan jaketnya itu,” lanjutnya. “Nggak peduli panas, nggak peduli hujan, kalau di kelas, ia tidak pernah melepas jaket itu.”

        Aku tahu tentang jaket itu. Bagi Dio, di luar rumah berarti memakai jaket. Memakai jaket bukan masalah suhu tetapi masalah aturan. Itu jaket kedua. Kakakku baru bisa membuang jaket pertama setelah benar-benar tidak muat dan warna aslinya tidak kelihatan. Itu tentang jaket. Kalau di dalam rumah, ia hanya mau memakai satu baju, sebuah batik. Batik Kondangan, kataku mengejeknya. Ia tidak peduli. Batik itu baru lepas dari tubuhnya karena harus masuk mesin cuci. Itupun hanya satu jam. Untung ada mesin cuci yang otomatis bisa membuat pakaian langsung kering.

        “Ia juga sama sekali tidak mau diajarin membaca atau berhitung.”

        Aku tetap diam. Tidak tahu harus bicara apa. Aku merasa wanita ini sedikit curhat. Atau menyampaikan uneg-unegnya. Entahlah. Aku sudah mendengar keluhan tentang pelajaran membaca itu. Dio tidak mau membuka mulut ketika guru menyuruhnya membaca. Kecuali huruf-huruf yang ditunjukkan itu mengandung “AC” atau merk-merk AC seperti National, Daikin, Panasonic, Toshiba, TCL, atau Changhong.

        Otaknya memang hanya berisi AC, merk dan jumlah baling-balingnya. Aku sudah menemaninya menonton AC di seluruh kota. Dari jarak lima puluh meter, ia tahu mana AC yang hidup dan mana yang mati. Dari jarak dua meter, ia bisa menghitung jumlah baling-baling kipasnya yang sedang berputar. Dari jarak tiga puluh sentimeter, ia tahu letak gedung hanya dengan melihat foto AC-nya. Itu juga yang membuatku selalu datang ke tempatnya. Supaya bisa menunjukkan foto sebuah AC. Merasakan sebuah kepuasan karena ia tidak bisa menunjukkan letak gedung yang AC-nya kufoto. Tentu saja ia tidak bisa, karena aku hanya mengambil gambar AC di tempat yang tidak boleh dimasuki oleh anak kecil.

        Ayahnya terpaksa membelikannya laptop. Tetapi sekarang ada lingkaran hitam di layarnya, karena ia menempelkan magnet bundar di sana. Ia mampu menggunakan komputer tanpa seorang pun mengajarinya. Ia mampu menggunakannya seolah-olah benda itu sendiri yang memperkenalkan diri. Ia suka browsing. Mencari gambar AC. Keyword-nya hanya “AC”, “Air Conditioning”, “AC standing”, “AC rusak”, “AC luar”, “AC dalam, AC Daikin”. Mengira orang lain suka melihat AC, setiap kali menemukan gambar AC yang menurutnya menarik, ia memanggil orang untuk ikut melihatnya.

        Ia tidak mau diajarin membaca? Dio sudah bisa membaca. Kami juga kaget mengetahuinya. Kami mengira ia mengucapkan Sanken, Daikin, Toshiba, Changhong itu karena menghafal susunan huruf-huruf pembentuk merk AC. Minggu lalu ibunya menurunkan peta Kalimantan Tengah dari dinding. Dio memperhatikannya lalu berkata, “Mah, ini Sampit” (waktu itu ayahnya sedang berada di Sampit). Sebelum ibunya menjawab, ia membaca nama tempat-tempat lain yang pernah ia dengar: Palangkaraya, Pangkalan Bun, Tangkiling, dan lain-lain.

        Sekarang ia punya hobi baru. Membaca Atlas. Judulnya, “ATLAS Indonesia & Dunia untuk SLTP, SMU dan Umum”. Bukan salahku, aku tidak menemukan ATLAS untuk anak TK.

        Aku ingin memberi tahu wanita ini, Dio hanya mau melakukan apa yang ia sukai. Ia bukannya tidak mau belajar membaca, ia hanya tidak suka membaca sesuatu yang baginya tidak menarik. Ia bukannya tidak mau belajar berhitung. Gambarlah seribu kipas, ia akan menghitungnya dengan senang hati. Memang aneh, tetapi kalau pernah mendengar nama Hans Asperger, wanita ini pasti mengerti.

        Aku ingin bercerita pada wanita ini tentang Hans Asperger. Seorang dokter Austria yang menemukan di antara anak laki-laki yang menjadi pasiennya ada yang memiliki kecerdasan dan perkembangan bahasa normal, namun berperilaku sedikit seperti autis. Anak-anak ini menderita gangguan sosial yang berat, tidak dapat berkomunikasi dengan baik dan sulit berkoordinasi. Ia menuangkan penemuannya dalam sebuah makalah. Itu tahun 1940. Tidak ada yang memperhatikannya. Baru pada tahun 1990-an para ahli mengakui adanya kelompok anak seperti itu.

        Mereka menyebutnya Asperger Syndrome.

        Sebuah sindrom untuk anak-anak yang memiliki pendengaran, penciuman dan penglihatan yang sangat sensitif. Mereka bisa sangat terganggu karena suara yang begitu kecil atau lampu yang terlalu redup atau terlalu terang. Mereka memiliki kepekaan luar bisa, bisa melihat atau mendengar sesuatu yang orang lain lewatkan. Mereka punya selera aneh, hanya menyukai pakaian dengan bahan tertentu atau makanan tertentu saja. Mereka kesulitan dalam melakukan interaksi sosial, selalu menghindari kontak mata, suka memakai bahasa yang terlalu formal, dan terobsesi pada hal tertentu seperti jadwal acara televisi. Mereka sulit membaca bahasa tubuh, bahkan tidak bisa memahaminya. Pada dasarnya, mereka memandang dunia ini tidak seperti orang lain melihat dunia. Dalam segala keanehan itu, mereka rata-rata memiliki kecerdasan di atas rata-rata

        Itu Si Dio. Ia selalu memakai jaket di luar rumah. Selalu memakai batik kondangan di dalam rumah. Ia hanya mau makan nasi kuning, nasi kuning dari warung samping gedung PDI Perjuangan. Ia memegang es seperti memegang kelereng. Dari dapur, ia bisa berkata pada ibunya , “Mah, ada orang di depan rumah.” Ia suka memakai bahasa tingkat tinggi: gelap gulita sekali, nenak sebatang kara, orang miskin melarat, Io kelaparan. Ia menyukai cahaya temaram sehingga rumah mereka tampak gelap. Ia takut dengan bunyi keras, sebelum kilat sampai di bumi, ia sudah menutup telinganya.

        Aku ingin bercerita tentang Asperger Syndrome. pada guru si Dio.

        Tetapi aku tidak tahu bagaimana harus menceritakannya.

***