Submitted by Purnomo on

Replacement lebih sering dipilih apabila seseorang mempunyai uang berlebih. Tidak ada waktu dan tenaga yang dibutuhkan. AC rusak langsung telepon toko minta dikirim yang baru. Laptop rusak langsung beli baru. Jangankan barang, istri saja bila dianggap sudah menurun fungsinya bisa saja di-replacement.

o –
 
          Adaptor itu mengeluarkan suara mencicit dan tidak ada arus listrik masuk ke laptop. Biasanya bila kabelnya yang bengkok-bengkok akibat digulung setelah selesai menggunakannya itu diluruskan, suara itu menghilang dan indikator arus masuk menyala. Tetapi kali ini segala usaha tidak berhasil. Setelah 2 hari jengkel dengan suara itu, saya memasukkannya ke dalam tas membawanya ke sebuah gerai komputer.
 
         Saya menanyakan apakah gerai itu menjual adaptor dengan spesifikasi yang sama. Ternyata ada dan harganya 95 ribu rupiah. Sayang bentuk soket output yang harus ditusukkan ke laptop tidak sama. Bentuknya yang runcing menunjukkan soket itu berisi kabel arus positip dan kabel arus negatip. Sementara punya saya berbentuk tabung yang berarti ada tambahan kabel ground. Tanpa kabel ini laptop akan hangus.
 
          Dengan sepeda motor saya berkeliling kota mengunjungi beberapa gerai lainnya. Tidak ada adaptor yang sama. Akhirnya saya masuk ke toko komputer yang mengiklankan diri punya barang lengkap. Toko ini tidak menjual adaptor. Pramuniaga memberi alamat agen yang menjual merek adaptor itu. Sebelumnya saya sudah tahu alamat ini karena di situlah laptop itu dibeli. Tetapi saya menempatkannya sebagai alamat terakhir setelah saya tidak mendapatkan adaptor merek lain dengan spesifikasi yang sama.
 
          Terpaksa sekarang saya masuk ke kantor besar itu. Saya menunjukkan adaptor itu dan menanyakan apakah bisa diperbaiki.
          “Kami tidak menerima reparasi adaptor, Pak,” karyawannya menjelaskan. “Bapak lihat adaptor ini tidak ada sekrupnya. Jadi tidak bisa dibuka.”
          “Teknisi bisa membuka pembungkusnya dengan solder.”
          “Itu tidak diperbolehkan karena akan membuatnya cacat.”
          “Lalu solusinya?”
          “Beli saja yang baru. Harganya 900 ribu rupiah.”
          “Sembilan ratus ribu?” saya bertanya sambil meringis.
          “Iya Pak.”
          “Permisi. Saya bilang dulu kepada pemiliknya.”
 
          Di luar saya menelepon si puteri bungsu.
          “Aku sudah keliling kota cari merek lain tetapi tidak ada yang sama sepeknya. Yang asli 900 ribu rupiah. Bagaimana?”
         “Beli saja kalau memang tidak ada pilhan lain daripada menganggurkan laptop mahal.”
 
          Laptop itu dia beli 18 bulan yang lalu karena program akuntansi untuk skripsinya membutuhkan aplikasi-aplikasi terkini. Sembilan ratus ribu rupiah adalah 75% dari gajinya sebulan. Tetapi itu tidak mahal baginya karena dia belum mencicil kredit rumah atau kredit kendaraan, membayar listrik PLN dan air PDAM. Dia juga belum membutuhkan uang untuk belanja harian karena masih tinggal serumah dengan saya. Sejak bekerja setiap bulan dia menitipkan 1 juta rupiah kepada saya. Ketika anak-anak saya masih SD, saya selalu mengingatkan mereka untuk menabung sebagian uang sakunya. Untuk membujuk mereka menitipkan uang kepada saya, saya memberi bunga 6 kali bunga tabungan yang diberikan oleh bank nasional terbesar. Dari tabungan inilah mereka membeli hape, kamera dan laptop.
 
          Tetapi bagi saya uang sejumlah itu bukanlah sedikit. Oleh karena itu saya akan membelinya minggu depan. Siapa tahu beberapa hari ini saya mendapat solusi lain. Saya pulang ke rumah. Di jalan saya masih sempat mampir di sebuah gerai komputer tempat saya biasa mereparasi CPU. Ternyata toko ini tidak menjual adaptor. Satu kilometer dari rumah saya melintasi beberapa kios. Salah satu kios itu adalah tempat saya biasa mereparasikan kipas angin, radio, rice cooker dan setrika listrik. Saya mampir ke sana.
 
          “Mas, bisa reparasi adaptor?” tanya saya.
          “Adaptor apa?”
         Saya mengeluarkan adaptor dari dalam tas dan bercerita tentang suara mencicit. Juga bercerita tentang mahalnya harga adaptor aslinya. Ia tertawa.
          “Saya punya printer dan adaptornya rusak. Harga adaptor aslinya 700 ribu rupiah, hampir sama dengan harga beli printer baru. Celakanya, komponen adaptor yang rusak tidak dijual di toko. Ini mungkin strategi produsen, untung sedikit waktu jual printer untung banyak waku jual adaptornya. Saya berencana mengganti adaptor itu dengan travo kecil,” ceritanya.
          “Kamu bongkar saja adaptor ini. Mungkin hanya kapasitornya yang rusak dan sepeknya tidak neko-neko.”
         “Adaptor ini tidak pakai sekrup. Jadi untuk menutupnya saya harus pakai lem. Mungkin tidak tampak rapi lagi.”
          “Ndak papa. Nanti saya perkuat dengan plastik mika.”
          “Besok sore bisa diambil. Mudah-mudahan bisa diperbaiki.”
         “Jika biaya di bawah 100 ribu, tidak perlu menelpon saya. Langsung saja dikerjakan.”
 
          Besok siang saya mampir ke kiosnya. Ia menyerahkan adaptor itu.
          “Bagaimana?” tanya saya.
          “Beres. Yang rusak kapasitornya dan dioda.”
          “Berapa biayanya semua.”
          “Tujuh puluh ribu.”
          “Terima kasih,” kata saya sambil menyerahkan uang.
 
          Jika hasil reparasi ini hanya bertahan 2 bulan saja, walau saya sudah berhemat karena biaya penyusutan adaptor asli 50 ribu per bulan, saya harus membeli yang baru. Memang kecenderungan saya untuk berhemat mendorong saya selalu mendahulukan repair. Terlebih lagi bila komponen yang rusak bukan yang utama.
 
          Suatu ketika istri memberitahu banyak butiran kayu halus di bawah meja makan. Saya membuka lembar tripleknya. Ternyata sisi bawahnya sudah banyak bagian yang tipis karena dimakan rayap. Keputusan istri sudah bulat: beli baru! Dasarnya, usia meja itu sudah hampir 10 tahun sehingga titik impasnya sudah lama lewat. Saya bilang “nanti dulu” setelah melihat kerangka kayunya masih bagus. Saya pergi ke toko material membeli selembar seng tipis. Seng itu saya pergunakan untuk mengganti triplek. Meja itu bisa dipergunakan lagi bahkan sekarang istri tidak takut menumpah air di atasnya karena mudah dibersihkan. Seandainya saya bisa mendapatkan lembar aluminium tipis, pasti meja itu tampak lebih cantik. Sekarang saya mempersilakannya membeli yang baru. Bila dia melakukannya, maka kami akan mempunyai 2 meja makan. Yang lama bisa saya pindah ke halaman belakang untuk meletakkan laptop dan gelas kopi di waktu malam bila internetan. Ini jauh lebih asyik daripada duduk di kursi sambil memangku laptop sementara gelas kopi diletakkan di lantai. Tetapi sampai sekarang meja baru belum juga dibelinya.
 
          Replacement lebih sering dipilih apabila seseorang mempunyai uang berlebih. Tidak ada waktu dan tenaga yang dibutuhkan. AC rusak langsung telepon toko minta dikirim yang baru. Laptop rusak langsung beli baru. Yang lama? Bisa dijual ya syukur, tidak bisa dijual bisa diberikan kepada tukang sampah. Jangankan barang, istri saja bila dianggap sudah menurun fungsinya bisa saja di-replacement.
 
          Begitu juga bila kita melihat gereja kita sudah “rusak”. Mengapa susah-susah me”repair”nya? Butuh waktu, tenaga dan emosi. Di luar masih banyak gereja lain. Dan orang lebih senang melakukan “replacement” dengan berpindah ke gereja lain. Bagaimana dengan komunitas yang ditinggalkan? Jika kita membawa mobil yang harganya di atas 400 juta rupiah, belum sampai satu bulan kita akan mendapatkan komunitas (teman-teman) baru di gereja baru ini. Bagaimana bila gereja lain juga sudah “rusak”? Kalau kita kaya mengapa pusing? Dirikan gereja baru di mana kita sebagai pemiliknya bisa membuat dan menjalankan tata tertib yang baik.
 
          Bagaimana bila pendeta kita “rusak”? Jangan bergegas melakukan replacement karena ini menyangkut “yang diurapi”. Mari kita telisik dulu “komponen” yang membuatnya tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Siapa tahu “komponen” yang rusak itu adalah honor yang selama 10 tahun belum pernah ditingkatkan. Siapa tahu “komponen” yang macet itu adalah beban pekerjaan yang melebihi kapasitasnya. Repair it! Tetapi bagaimana bila “komponen”nya yang aus itu adalah yang utama, misalnya etos pelayanannya? Ini sulit sekali karena perlu kombinasi repair and replacement. Jadi? “Beli meja makan yang baru dan yang lama kita pindahkan ke halaman belakang,” kata saya kepada istri.
 
(the end – 05.07.2010)