Submitted by Sri Libe Suryapusoro on

Ketika saya membaca tentang kisah Salomo menjadi raja, saya pun terinspirasi untuk menuliskan tentang berkuasa. Kuasa menjadi suatu kata yang sering dihindari ketika kita membahasnya. Seakan-akan menjadi tabu untuk berbicara tentang kuasa. Tetapi mau tidak mau kita harus berkuasa atas kehidupan kita. Bukan orang lain tetapi diri kita yang berkuasa.

 

 Saat itu Raja Daud sudah tua dan sakit-sakitan. Seakan-akan dia tinggal menunggu waktu yang tepat untuk mati. Pada saat yang sama Adonia mempersiapkan diri menjadi raja. Secara aturan dialah yang berhak menjadi raja. Dia adalah anak pertama setelah Absalom-yang sudah mati. Sudah menjadi kebiasaan jika anak pertama menjadi pengganti raja. Apalagi dia memiliki badan yang bagus dan keahlian perang yang patut di banggakan. Para panglima pun mendukungnya karena kemampuan dirinya. Daud tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut.
 
Di dalam hidup kita, sering kali kita jumpai keadaan yang sangat masuk akal. Siapa yang harus berkuasa? Saya tidak ingin membahas tentang posisi di organisasi atau di bangsa dan negara. Saya ingin membawa hal ini untuk diri kita masing-masing dimana kita harus berkuasa atas hidup kita sendiri. Seakan-akan orang tua kita sangat layak berkuasa atas hidup kita terutama untuk diri kita yang masih menggantungkan diri pada orang tua. Atau pasangan kita yang berkuasa. Dari sisi sejarah, budaya maupun fakta lainnya merekalah yang layak untuk berkuasa.
 
Ayah saya selalu mendisiplinkan saya. Saya akan kena marah jika saya bangun kesiangan atau bermalas-masalan di atas tempat tidur. Keadaan sesakit apapun saya tidak diperbolehkan tidak masuk sekolah. Saya masih ingat ketika saya benar-benar sakit dan diantar ayah saya ke sekolah. Tetapi dia lupa menjemput saya sehingga saya terpaksa berjalan cukup jauh untuk bisa naik kendaraan umum. Dia memang berkuasa atas hidup saya. Dia berhak untuk memerintah saya.
 
Tetapi keadaan berubah ketika saya sudah bekerja. Ayah saya tidak pernah memarahi saya. Dia hanya sekedar menasihati dan menyerahkan keputusan pada diri saya. Saya memang tidak meminta dia mencabut kekuasaannya atas diri saya tetapi dia dengan sendirinya mencabutnya. Dia merasa saya bukan lagi tanggung jawabnya sehingga saya dibiarkan berkuasa atas hidup saya. Saya salah seorang yang beruntung karena diberi kesempatan untuk berkuasa atas diri saya sendiri.
 
Saya sering mendengar seseorang bercerita bahwa orang tua mereka masih berkuasa atas hidup mereka. Pada budaya tertentu anak akan selamanya menjadi anak di hadapan orang tua mereka. Jika memang orang tua menginginkan mereka pulang maka mereka harus pulang-apapun yang terjadi dan seberat apapun risikonya. Anak tetap harus melakukan apa yang orang tua katakan, tidak boleh membantahnya. Orang tua selalu benar dan apa yang diputuskan oleh orang tua merupakan hal yang terbaik buat anak mereka.
Banyak orang diantara kita yang menjalankan profesinya atau pekerjaannya demi menyenangkan orang tua. Saya mengenal orang yang sekolah di jurusan kedokteran. Ibunya seorang dokter dan dia masuk ke sekolah kedokteran karena diminta oleh orang tuanya. Memang orang tuanya menyekolahkan ke sekolah yang terbaik dan dengan biaya yang cukup mahal. Tetapi teman saya tersebut tidak bisa menikmati sekolahnya. Dia berjuang sangat keras untuk mendapatkan nilai yang baik. Dia tidak menyukai kuliah-kuliahnya. Dia demikian tersiksa karena memasuki wilayah yang tidak dia sukai dan menurutnya bukan bidangnya. Tetapi dia harus lulus kuliah dan harus menjadi dokter karena orang tuanya meminta demikian.
 
Tentu saja saya tidak mengajarkan supaya kita memberontak pada orang tua kita. Kita harus tunduk dan hormat pada mereka. Tetapi dilain pihak kita pun harus berkuasa atas hidup kita. Saya bersyukur karena saya diperbolehkan memilih universitas yang akan saya masuki. Saya juga diperbolehkan memilih pekerjaan saya yang berbeda dengan keinginan orang tua saya. Saya juga diperbolehkan memilih istri yang sesuai dengan keinginan saya. Bahkan saya dibiarkan saja ketika saya memutuskan untuk menghentikan kuliah S2 saya ditengah-tengah jalan. Tidak semua orang mengalami yang saya alami.
 
Terkadang diri kita memang tidak dikuasai oleh orang tua kita tetapi begitu dikuasai oleh pasnagan hidup kita atau orang lain yang kita kenal. Jika kita menonton acara Suami-Suami Takut Istri, seakan-akan istri-istri merekalah yang mengendalikan kehidupan suaminya. Memang saya akui, peran seorang istri demikian besarnya di dalam rumah tangga. Tanpa kehadiran istri saya, saya akan mengalami banyak masalah dan kehilangan banyak kebahagiaan. Tetapi bukan berarti istri yang berkuasa atas hidup kita. Bukan pula berarti hidup kita hanya untuk menyenangkan istri. Demikian pula suami. Saya sebagai suami tidak berkuasa atas hidup istri saya.
 
Sebagai manusia, istri saya tentu saja memiliki keinginan. Saya harus menyadari hal tersebut dan membiarkan istri saya memutuskan untuk dirinya sendiri, hal apa yang akan dia lakukan. Tugas saya hanyalah memberikan bayangan apa yang akan terjadi jika dia melakukannya. Termasuk apa dampaknya bagi hubungan kami. Istri saya sangat suka berkreasi karena itu dia membuat bedcover quilting yang mahal. Modalnya pun besar dan penjualannya lambat. Saya hanya memberikan bayangan ke dirinya kalau bulan tertentu kami tidak bisa membeli kain karena keadaan ekonomi kami. Tetapi saya biarkan istri saya yang memutuskan mana yang terbaik yang akan dia lakukan.
 
Demikian pula di dunia kerja. Seorang teman terpaksa bercerai dengan suaminya. Saya mengenal suaminya ketika kami kuliah dulu. Dia seorang yang baik sehingga tidak mungkin dia memperlakukan istrinya dengan buruk. Tetapi keadaan berubah. Suaminya harus tunduk kepada atasannya di tempat dia bekerja. Dia sering pulang malam karena menemani atasannya ke tempat-tempat hiburan. Ketika sang suami menyatakan keberatan istrinya, sang atasan marah dan menyuruh sang suami untuk mendidik istrinya. Sang suami melakukan apa yang atasannya minta. Dia pun memulai mendidik istrinya. Awalnya didikan dalam bentuk teguran keras lama-lama menjadi kekerasan dalam rumah tangga. Sang suami, yang saya kenal sebagai orang yang baik ternyata sudah berubah. Dia bukan dirinya lagi. Dia melakukan apa yang atasannya minta. Sayangnya dirinya tidak lagi berkuasa atas hidupnya melainkan atasannya yang berkuasa. Sungguh menyedihkan.
 
Sering kali kita tidak menyadari sebenarnya siapa yang sedang berkuasa. Salomo yang seharusnya menjadi penguasa berikutnya tidak menyadari kalau dirinyalah yang seharusnya berkuasa. Kita membiarka orang lain berkuasa atas hidup kita. Sementara diri kita menderita, kita tidak menyampaikan penderitaan kita dan membiarkan hal itu terus terjadi. Kita biarkan atasan kita mengatur diri kita terlalu jauh sehingga kita kehilangan kekuasaan atas diri kita. Kita biarkan pasangan kita berbuat semau mereka atas nama cinta yang justru membuat kita tidak lagi berkuasa atas diri kita.
 
Cara yang termudah untuk mengecek siapakah yang berkuasa atas hidup kita adalah dengan menanyakan beberapa pertanyaan kepada diri kita. Carilah tempat yang sunyi sehingga kita bisa mendengar suara kita sendiri. Cobalah untuk jujur pada diri kita sendiri. Tanyakanlah pertanyaan berikut:
  • Untuk siapakah saya bekerja selama ini? Menyenangkan orang tua saya, atasan saya, pasangan saya atau diri saya sendiri?
  • Siapakah yang paling berpengaruh di dalam hidup saya? Apakah saya hanya sekedar melakukan apa yang dia inginkan atau saya memutuskan untuk diri saya sendiri berdasarkan masukan orang tersebut?
  • Apakah selama ini saya mengetahui dan melakukan apa yang saya inginkan?