Submitted by clara_anita on

"Maaf, pulsa Anda tidak cukup untuk melakukan panggilan ini," begitu suara merdu kemayu rekaman si mbak operator disusul tulisan call ended di layar. Lho, tumben betul pulsa saya sudah habis di hari Sabtu. Biasanya, pulsa saya habis di hari Minggu. Ini pertanda bahwa saya sedikit lebih boros pulsa minggu ini.

 
Habisnya pulsa berarti saya tidak bisa menelepon seorang teman yang baru saja mengirim pesan dengan nada panik. Pesan yang tidak cukup hanya dibalas dengan pesan singkat lain. Kami perlu bicara.
 
Saya melirik ke sudut kanan bawah layar komputer. 11:20 PM –nyaris tengah malam. Tak mungkin saya keluar untuk mengisi ulang pulsa. Saat darurat seperti ini, biasanya saya meminta sedikit pulsa si kecil adik saya; tapi dia sudah tertidur dan pasti akan marah besar kalau tidurnya terganggu. Ketika saya beranjak menggunakan telepon rumah, saya terbayang wajah ibu dengan mata membelalak mengatakan, ”Kalau telepon ke nomor HP jangan pake  telepon rumah. Boros!!!” sembari menggoyangkan telunjuknya memberi tanda larangan.
 
Ya. Apalah daya. Sepertinya teman saya harus menunggu besok hingga saya mengisi ulang pulsa telepon selular saya. “Sabar ya bu,” begitu gumam saya perlahan. Sambil bergumam, saya melempar pandangan ke arah cermin. Di pojok kanan atas terlekat sebuah pembatas buku mungil bergambar air terjun di tengah rumpun semak hijau yang terkesan teduh. Di atasnya tercetak empat kata, ”Tuhan hanya sejauh Doa.”
 
Membaca pembatas buku yang tidak berada di tempat yang seharusnya itu membuat saya tersenyum kecil. Untung saya tidak perlu layanan operator telepon selular untuk ’bicara’ denganNya. Bayangkan saja bila demikian keadaannya. Kalau kami berbeda operator, pasti tagihan pulsa akan bengkak. Belum lagi kalau jaringan sering sibuk, seperti yang sering terjadi pada layanan operator GSM yang saya gunakan. Tambahan kalau Tuhan suka ganti-ganti nomor seperti adik bungsuku yang masih SMU. Atau ketika saya kehabisan pulsa seperti saat ini. Wah, nggak terbayang betapa sulitnya berhubungan denganNya. Untung saja teknologi wireless-nya Tuhan lebih canggih. Bukan hanya tidak perlu kabel, tapi juga tidak perlu pulsa. 24 jam 7 hari seminggu, Dia dapat dihubungi kapan pun—dan bebas pulsa lho. Syukurlah, karena Dia hanya sejauh doa.
 
Setelah berpikir sejenak, akhirnya saya putuskan memakai telepon rumah. Kalau ibu cemberut ketika melihat tagihan telepon bulan depan, saya akan pasang senyum paling lebar sambil menggodanya, ”kalau cemberut nanti tambah keriput lho.” Lagipula saya paham kalau ibu tak akan marah bila menyangkut keperluan yang mendesak.
 
Baru saja saya beranjak menuju pesawat telepon, ponsel saya bergetar. Ada sebuah pesan masuk. Wah, siapakah gerangan yang begitu baiknya mengirimi saya pulsa senilai dua puluh ribu rupiah itu? Jarang-jarang ada ’malaikat’ baik hati yang mau bagi-bagi pulsa. Biasanya, justru si kecil yang sering merajuk setengah memaksa dengan bibir manyun, ”Mbak, beliin pulsa dong!!” What an enigma!
 
Ah, ada yang lebih penting dari sekedar menerka siapa sosok ’malaikat’ baik hati itu. Siapa pun itu, terima kasih. Kalau bisa sering-sering saja mengirimi saya pulsa.
 
Saya baru saja hendak menelepon teman saya itu, ketika lagi-lagi telepon saya bergetar. Ternyata teman saya tak sabar menunggu besok, ia memilih menghubungi saya saat itu juga.
 
”Halo selamat malam, Bu.”
”Nit, belum tidur tho? Aku mau tanya sedikit ........”
 
Dan kami pun ngobrol hingga beberapa menit lamanya. Sambil bercakap-cakap saya kembali terbayang : untung Tuhan nggak pakai HP. Kalau ya ....................