Pekerjaan sedang menumpuk setinggi gunung berapi yang siap meletus kapan saja. Tenggat waktu pun semakin mendesak hingga menghela nafas pun nyaris tak sempat. Seandainya dunia ini adalah negeri dongeng, ingin rasanya memanggil ibu peri yang baik hati dan mengajukan tiga buah permohonan – membuat satu hari menjadi 25 jam, menambah jumlah lengan menjadi 4, dan memberikan tongkat ajaib bak Harry Potter untuk menyelesaikan pekerjaan. Tentu saja dunia bukanlah negeri dongeng, dan keinginan-keinginan itu mustahil terkabul. Di tengah-tengah suasana panik itu, tiba-tiba saja seorang teman datang dengan ekspresi amburadul seperti baru saja melintas kawasan berangin ribut. Setengah merajuk, ia meminta waktu untuk mencurahkan isi hatinya. Hati ingin berkata tidak, tapi tiada daya untuk menolak dan berkata tidak. Akhirnya, pekerjaan sementara dikalahkan, dan alhasil deadline pun tak terkejar hanya karena tidak berani berkata tidak.
Sepenggal cerita tersebut bukanlah hal yang asing bagi banyak orang. Tidaklah mudah bersikap tegas dan berkata tidak. Pasalnya, kita sering kali khawatir dianggap bersikap agresif alias kasar ketika menolak permintaan orang lain sehingga kita lantas mengorbankan kepentingan sendiri. Sebenarnya, adalah pilihan lain agar tidak ada satu pun pihak yang merasa rugi?
Jawabannya: ada.
Bersikap asertif adalah salah satu jalan keluarnya. Asertivitas adalah suatu kemampuan untuk menyeimbangkan kepentingan diri dengan kepentingan orang lain. Orang asertif berani berkata tidak tanpa harus menjadi agresif ataupun menyakiti lawan bicaranya. Inilah yang membedakan seorang asertif dari seorang pasif yang selalu mengalahkan kepentingannya sendiri, dan dari seorang agresif yang lebih peduli pada kepentingannya sendiri.
Orang asertif menyatakan pendapatnya dengan tegas namun tetap menghargai keberadaan lawan bicaranya. Lain halnya dengan orang agresif yang menyerang ataupun tidan mempedulikan pendapat orang lain yang tidak mendukungnya, sementara orang pasif tidak berani menyatakan pendapatnya karena takut menyakiti orang lain. Secara konkrit, perbedaan antara ketiganya dapat disimak pada tabel berikut:
|
Pasif |
Agresif |
Asertif |
|
Takut menyatakan pendapat |
Menyela ketika orang lain berbicara |
Berbicara dengan jujur dan terbuka |
|
Berbicara pelan |
Berbicara lantang |
Berbicara dengan nada yang nyaman didengar. |
|
Tidak berani beradu pandang dengan lawan bicara. |
Menatap tajam lawan bicara. |
Menjaga kontak mata dengan lawan bicara. |
|
Berupaya menyembunyikan ekspresi wajah. |
Menggunakan ekspresi wajah untuk mengintimidasi lawan bicara. |
Menunjukkan ekspresi yang selaras dengan pesan yang disampaikan. |
|
Sikap tubuh membungkuk, atau seolah menarik diri dari lawan bicara. |
Sikap tubuh tegak dan kaku; menyilangkan lengan, berkacak pinggang, dan menyerang ruang gerak lawan bicara. |
Rileks, tenang, dan terbuka. |
|
Mengisolasi diri dari kelompok. |
Mengendalikan dinamika kelompok. |
Berpartisipasi dalam kelompok. |
|
Sepakat dengan orang lain, meskipun tidak sesuai dengan kata hati. |
Hanya mempertimbangakan perasaan sendiri, dan menuntut orang lain untuk memahaminya. |
Bicara tepat sasaran. |
|
Menganggap diri sendiri lebih rendah dari orang lain. |
Menilai diri lebih tinggi dari orang lain. |
Menilai diri setara dengan orang lain. |
|
Menyakiti diri sendiri agar tidak menyakiti orang lain. |
Menyakiti orang lain dan menghindari agar diri sendiri tidak tersakiti. |
Berupaya tidak menyakiti seorang pun termasuk diri sendiri. |
|
Tidak mencapai tujuan-tujuannya dan bahkan tidak dapat mengetahui tujuan-tujuan dirinya dalam suatu interaksi. |
Mencapai apa yang menjadi tujuannya namun menyakiti orang di sekitarnya. |
Biasanya mencapai tujuan tanpa mengorbankan pihak manapun. |
|
You’re okay, I’m not |
I’m okay, you’re not |
I’m okay, you’re okay. |
Ketika kita bicara dengan kasih, kita tak harus selalu mengalah dan mengorbankan kepentingan diri sendiri demi orang lain. Karena ketika kasih itu sabar, dan lemah lembut, ia juga dapat berkata tidak.