Apabila berpikiran negatif maka pikiran negatif anda akan menjadi kenyataan. Pdt. Gilbert Lumoindong menyebut berpikir negatif sebagai mengutuk diri sendiri. Apakah yang diajarkannya benar atau dia sedang membual atau itulah akibatnya bila berpikir tidak dengan rasio saja?
Memberanikan diri bertanya; Dalam bukunya yang berjudul Mematahkan Kutuk Dari Garis Keturunan, Pdt. Gilbert Lumoindong, MTh menulis:
Itulah mengapa banyak orang yang sampai hari ini tidak percaya pada kutuk. Mengapa mereka tidak percaya pada kutuk? Karena ada orang yang berpikir memakai rasio saja, “Lho, sepertinya ada alasan rasional kok. Semua ada penyebab. Ada asap pasti ada api. Ini adalah kejadian alamiah.” Mematahkan Kutuk Dari Garis Keturunan hal 43
Tapi saya ingin memberitahu sebagai hamba Tuhan, bahwa setan sedang menyembunyikan sesuatu. Karena dia sedang tidak mau anda tahu bahwa sebenarnya itu adalah kutuk yang dapat dibebaskan dari anda. Ibid. hal 43-44
Mungkin ada di antara anda yang berpikir, “Ya, memang mungkin ini nasib saya, Pendeta. Mau diapain lagi? Kalau saya pernah bercerai, dan diceraikan lagi, yah mesti bagaimana lagi? Saya sendiri sudah mencoba jadi istri yang baik. Tapi saya salah mengawini suami saya sekarang ini.” Ibid. hal 44
Ada kasus seorang gadis yang setiap kali mau menikah, akhirnya selalu terbentur pada masalah yang mengakibatkan ia tidak jadi menikah. Setiap kali mau menikah, pasti ada masalah. Setiap kali mau merencanakan serius dan menikah, pasti ada masalah. Ibid. hal 44
Akhirnya ia mulai berpikir, “Ah, kebetulan saja. Memang laki-laki, begitu semua. Diajak serius langsung mundur teratur. Cuma mau enaknya saja.” Nah, tidak sedikit dari orang-orang seperti itu yang akhirnya kemudian jadi istri simpanan orang atau lesbian. Ibid. hal 44
Mengapa mereka menjadi begitu? Karena dia terkena akibat dari pikirannya, “Hidup saya memang sudah bernasib begini.” Ibid. hal 44
Bengcu menjawab:
Saya sedang bertanya-tanya, apakah seorang petani menabur benih dulu baru memanen atau memanen dulu baru menabur benih? Pada saat itulah saya bermimpi bertemu seseorang yang mengaku dirinya gendut namun imut, dia memperkenalkan diri dengan nama GL. Inilah sebagian percakapan kami.
Bengcu: GL yang terhormat, anda mengajarkan agar kita tidak berpikir dengan rasio saja, apakah itu berarti kita bisa berpikir dengan yang lainnya? Misalnya berpikir dengan dengkul seperti yang dikatakan orang banyak?
GL: Wah, anda lucu juga ya? Ada pertanyaan lain?
Bengcu: Anda juga lucu karena menjawab pertanyaan saya dengan pertanyaan. Anda mengajarkan: Sesungguhnya Allah ingin manusia mengetahui tentang kutuk, namun Iblis berhasil menyembunyikannya. Bukankah itu berarti nafsu gede tenaga kurang? Untung ada GL sehingga Iblis tidak dapat menyembunyikan rahasia kutuk lagi, bila tidak, “Kasihan dech Allah!
GL: Benar-benar lucu! Ada pertanyaan lain?
Bengcu: Kapan janda yang anda ceritakan menyimpulkan: Mungkin sudah nasibnya untuk mengawini lelaki yang salah dan menjadi janda?
GL: Bukankah saya sudah bilang pikiran itu muncul setelah dia bercerai dan diceraikan lagi?
Bengcu: Bagaimana mungkin pikiran yang baru muncul setelah bercerai dan diceraikan lagi yang menyebabkan dia bercerai dan diceraikan lagi?
GL: Wah … Anda benar juga ya? Kenapa tidak terpikirkan oleh saya sebelumnya ya?
Bengcu: Kapan gadis yang selalu batal menikah itu menyimpulkan bahwa lelaki langsung mundur ketika diajak menikah?
GL: Setelah dia beberapa kali batal menikah.
Bengcu: Bagaimana mungkin pikiran yang baru muncul setelah beberapa kali batal menikah menyebabkan gadis itu batal menikah? Mohon maaf, tanpa mengurangi rasa hormat, apakah itu hasil jangan berpikir dengan rasio saja? Atau anda sedang membual?
GL: Anda senang ya ngeledek saya? Bingung! Bingung! Bingung! Bagaimana harus menjawab pertanyaan anda?
Bengcu: Apabila wanita yang bercerai lalu diceraikan lagi itu bercerai karena kutuk. Bukankah setelah kutuknya dipatahkan dia tidak terkutuk lagi?
GL: Tentu saja setelah kutuknya dipatahkan dia tidak tekutuk lagi. Wah, ternyata anda tidak terlalu pintar menarik kesimpulan ya?
Bengcu: Apabila dia diceraikan karena terkutuk, bukankah setelah kutuknya dipatahkan suaminya tidak punya alasan untuk menceraikannya lagi? Karena tidak punya alasan lagi untuk menceraikannya, bukankah kedua mantan suaminya akan kembali kepadanya? Wow … Karena kutuknya dipatahkan wanita itu jadi blingsatan. Dia bingung harus memilih yang mana, karena dia mencintai keduanya.
GL: Anda memang menyebalkan, sulit sekali menjawab pertanyaan anda apalagi membantahnya. Anda tidak perlu ngeledek lagi, biarkan saya ngeledek diri sendiri. Bila kutuknya dipatahkan, bukankah para kekasih gadis itu akan kembali padanya karena tidak punya alasan untuk meninggalkannya? Gadis itu akan blingsatan kebingungan memilih karena dia mencintai semuanya. Anda puas?
Bengcu: Kebenaran yang tidak konsisten bukan kebenaran sejati. Anda pernah mendengar ungkapan itu?
GL: Apabila bukan kutuk, lalu apa yang sebenarnya terjadi pada janda dan gadis itu?
Bengcu: Kegagalan menyebabkan orang mengambil kesimpulan, bukan kesimpulan yang menyebabkan orang berkali-kali gagal. berkali-kali gagal menyebabkan orang bertanya, “Mungkin nasib saya memang begini?” Benarkah anda tidak memahami hal demikian?
GL: Kenapa setelah gagal berkali-kali orang cenderung menyimpulkan, mungkin, nasib saya memang begini?
Bengcu: Ketika gagal, umumnya orang mencari kambing hitam. Alih-alih bercermin diri, dia justru menyalahkan orang lain. Bukankah ketika Adam dan Hawa gagal menghadapi ujian Tuhan di taman Eden, keduanya mencari kambing hitam? Bukankah mencari kambing hitam adalah naluri orang berdosa? Kegagalan beruntun akan menyadarkan orang tersebut bahwa penyebab kegagalannya bukan orang lain, namun dia terlalu bebal untuk mengakui bahwa diri sendirilah yang bersalah. Agar tetap merasa nyaman, dia lalu mencari kambing hitam yang tidak dapat membela diri yaitu nasib.
GL: Penjelasan anda masuk akal, namun benarkah itu yang terjadi? Apa yang akan terjadi pada janda dan gadis itu setelah menyalahkan nasib?
Bengcu: Kemungkinan besar bila menikah lagi, janda itu akan diceraikan lagi, karena dia tidak menyadari kesalahannya sehingga tidak membina dirinya. Demikian pula dengan gadis itu, kemungkinan besar dia akan ditinggalkan lagi oleh pacar barunya karena dia tidak membina diri.
GL: Membina diri! Membina diri! Membina diri! Bukan mematahkan KUTUK yang tidak ada.