Submitted by clara_anita on

... still like dust, I will rise ...

itu adalah kutipan puisi karya Maya Angelou yang saya gunakan sebagai shout out di friendster saya.

dan tak dinyana seorang teman lama yang sekarang entah ada dimana mengkomentarinya seperti di bawah ini:

 

like dust?

like the sun, like the moon, like the smell of coffee in the morning, like the glow of street light, like health after sickness you shall rise

rise and be something you've always deserved to be

whenever you're ready

 

Kalau boleh jujur, saya memang belum sembuh benar dari sebuah luka yang pernah saya alami bersama dengan teman saya tersebut. Bedanya dia adalah seorang yang dapat pulih dengan cepat. Saya terkadang iri dengan makhluk bernama Audy ini. Dia dapat memandang hidup dengan demikian ringannya. Hidup seolah gelanggang permainan yang menawarkan sejuta petualangan baginya.

Bagi saya luka itu lama menutup. Menurut banyak teman saya adalah orang yang kadang kelewat perfeksionis. Jadi kalau satu hal saja meleset dari perencanaan saya bakal lama terjebak dalam frustasi yang kadang tak perlu.

Bila Audy butuh satu detik untuk bangkit, saya akan butuh bertahun-tahun untuk sekedar berhenti menyalahkan diri sendiri. Kalau Audy hanya butuh sekejap untuk mendapatkan kembali kepercayaan dirinya, saya butuh waktu lama untuk sekedar berhenti mempertanyakan kompetensi dan kualifikasi saya.

Saya amat termotivasi oleh kata-kata teman saya yang satu ini. Setelah bertahun-tahun bakat sastrawannya makin saja terasah. Tapi saya agak kurang setuju dalam satu hal, tepatnya saat ia mempertanyakan like dust?

Bagi saya debu yang terinjak-injak dan seringkali dipandang tak berharga itu tak kalah dengan bulan, bintang, pelangi. Debu adalah sosok rendah hati yang meski terus diinjak dan direndahkan tetap memberi landasan kehidupan, dan alas kita berpijak. Debu meskipun seringkali berada di alas sepatu orang yang melintas, dapat terbang bebas saat angin menerpa.

... debu dengan segala kesederhanaannya dipandang TUHAN mulia, hingga makhluk yang paling mulia di muka bumi ini diciptakan dari bahan ini ...

Saya adalah debu, tapi TUHAN memandang debu ini mulia.

Cukup itu saja....

Meski manusia memandang rupa, tapi TUHAN memandang jauh ke kedalaman debu kecil ini.

... dan saya percaya TUHAN dapat menggunakan debu ini untuk kemulian-NYA.

 

Amin

 

GBU

 

Submitted by hai hai on Sat, 2007-08-25 03:00
Permalink

Nona, clara anita, jadi miss perfect itu baik, tetapi jadi miss andaikata, please dech jangan! Masa anda tidak cape menjalani hidup dengan cara seperti yang anda jalani selama ini? Terus terang, saya yang membaca puisi-puisi anda aja ikutan cape.

Non, luka yang kamu sebut luka itu takkan pernah sembuh selama kamu tidak memaafkan diri sendiri. Kamu sulit memaafkan diri sendiri karena kamu selalu berandai-andai. Andai saya begini ..., andai saya begitu ..., andai saya tidak begini ..., andai saya tidak begitu ...!

Kalau kamu memang benar-benar yakin Tuhan mengasihimu, maka kamu harus yakin, bahwa Tuhan mengasihimu sejak sebelum kamu dikandung ibumu. Kamu harus percaya, bahwa semua yang kamu alami, semua yang kamu lakukan, yang baik maupun yang jahat, yang benar maupun yang salah, semua itu hanya memiliki satu tujuan, KESEMPURNAAN clara anita.

Laozi, yang hidup + 600 SM dalam kitab Dao De Jing (dibaca Tao Te Ching) menulis, "Tian Di Pu Ren!" Banyak orang yang menerjemahkannya menjadi, "Tuhan bukan manusia," ada juga yang menerjemahkannya menjadi, "Tuhan tidak berperikemanusiaan."

Saya sendiri setuju dengan kedua terjemahan itu, Tuhan memang bukan manusia, itu sebabnya Tuhan tidak berperikemanusiaan. Berperikemanusiaan = berprilaku seperti manusia.

Non,

luka,

ada banyak luka yang tidak pernah sembuh

luka,

kenapa takut terluka?

biarlah luka,

bila tak ada lagi tempat untuk luka baru

luka di atas luka

luka

paling sakit adalah luka pertama

luka di atas luka

ha ha ha ...

 

Karena Di Surga, Yang Terbesar Adalah Anak-anak

Submitted by clara_anita on Mon, 2007-08-27 17:55

In reply to by hai hai

Permalink

Lao Shi Hai Hai . . .

Sepertinya usia saya baru separuh lebih sedikit dari usia Anda, jadi harap maklum kalau saat ini saya masih dalam proses pencarian identitas diri.

Saya sungguh memahami esensi dari nilai-nilai yang anda sampaikan, karena sebenarnya sebelumnya saya telah sampai pada tahap pemikiran itu.

kalau soal luka, saya yakin semua orang punya luka. Mungkin luka saya tidak seberapa dibandingkan luka yang harus dihadapi oleh banyak rekan lain. Begitupun reaksi tiap orang berbeda untuk tiap luka, dan mungkin saya tergolong orang yang cukup terbuka mengakui luka saya.

Hai Hai ...

maaf kalau saya membuat anda lelah dengan ide-ide tulisan saya yang belakangan ini terkesan muram. Sebenarnya tulisan-tulisan tersebut adalah upaya saya untuk menyembuhkan luka-luka saya. Kebetulan saat ini saya sedang mempelajari bidang bernama psikologi, dan suatu hari saya sampai pada satu tulisan yang intinya mengatakan bahwa untuk menyembuhkan luka batin, pertama kita harus mengakui luka itu dan kemudian berani m