Ibu gemar memasak makanan khas Jawa dengan berbagai rempah dan bumbu yang beraroma khas. Aroma yang khas itu, menurut ibu, akan semakin terasa bila diolah secara tradisional pula. Bumbu yang digiling dengan cobek dan muntu dari batu memiliki aroma dan cita rasa yang berbeda ketimbang saat bumbu yang sama dihaluskan dengan bantuan blender. Itulah sebabnya ibu sangat menyayangi cobek batu besar yang lebih berat dari ransel yang saya gendong ke tempat kerja setiap hari itu. Cobek batu yang entah mengapa mengingatkan saya pada komunitas ini.
Libur Lebaran kemarin, ibu berencana membuat sejenis masakan dari daging. Entah apa nama masakan itu. Yang jelas saat ibu membuatnya, saya menawarkan bantuan untuk menghaluskan bumbu dan rempah menggunakan cobek warisan peradaban jaman batu itu. Awalnya ibu menolak bantuan saya karena pada dasarnya ibu memang lebih menyukai bekerja sendiri di dapur, tapi akhir cerita saya dapat meluluhkan hati ibu untuk mengijinkan saya menyentuh cobek dan muntu batu itu.
Mula-mula ibu menuang ketumbar dan lada. Butir-butir lada dan ketumbar itu langsung kegerus dengan muntu batu. Keduanya berbentuk serupa, namun aromanya berbeda; sama kecil namun lada bercitarasa lebih pedas dan menggigit, sementara ketumbar memberi aroma yang khas di indra penciuman. Selanjutnya, ibu memasukkan irisan-irisan lengkuas yang luar biasa keras dan alot untuk kugerus. Bahan yang satu ini memang keras kepala; tidak mau berbaur dengan bahan lain. Perlu usaha yang ekstra keras untuk menghaluskannya. Kemudian menyusul seruas jahe. Jahe yang beraroma sedap dan hangat, serta tak terlalu sulit digerus. Segenggam bawang merah menyusul masuk ke dalam cobek. Warnanya yang merah keungu-unguan sedap dipandang, tapi jangan tanya begitu ia mulai tergerus, uapnya mulai keluar, menyelusup ke mata dan merangsang kelenjar air mata untuk membasahi pipi. Setelah bawang-bawang merah itu tergerus halus, menyusul siung-siung bawang putih. Bawang putih tidak terlalu ‘ngotot’ untuk tergerus dan berbaur dengan bumbu lain, dan aromanya sangat sedap menggugah selera.
Ketika bahan selanjutnya dimasukkan ibu, saya baru sadar kalau kulit di tepi ibu jari kanan saya sudah merah terkelupas karena terlalu semangat menggerus muntu batu itu. Ibu tertawa terbahak-bahak sambil mengucapkan kata-kata ledekan favoritnya untuk saya, ‘Dasar perempuan jadi-jadian.’ Ibu meminta saya untuk berhenti saja menggerus bumbu-bumbu itu karena menurutnya saya tidak tahu menahu soal teknik mengulek yang baik dan benar. Tapi saya berkeras menyelesaikan pekerjaan yang telah saya mulai itu. Sejari kunyit pun kemudian berhasil tergerus. Kunyit yang hanya sejari itu mampu mengubah warna semua rempah yang ada menjadi benar-benar kuning; serupa dengan dia. Setelah itu gurihnya kemiri ikut memberi warna, dan terakhir, sisiran gula jawa dituangkan ibu ke dalam cobek. Warnanya yang merah kecoklatan tampak manis, selegit rasanya.
Akhirnya seluruh bahan berhasil kugerus dengan sukses menjadi sejenis pasta halus berwarna kekuningan. Ibu kemudian membubuhkan garam dan membaluri irisan-irisan daging dengan bumbu yang sudah halus itu, dan memberikan waktu hingga bumbu-bumbu itu meresap ke dalam daging. Tapi sebelum itu saya berkesempatan icip-icip bumbu yang saya gerus itu. Uniknya, meski telah membaur jadi satu rasa masing-masing bumbu tetap ada di sana; mulai dari pedasnya lada hingga manisnya gula jawa. Pertemuan rasa antara bumbu-bumbu itu memberikan sensasi tersendiri di lidah.
Bukankah komunitas ini bisa diibaratkan sebagai cobek dan muntu batu yang menampung berbagai pribadi yang dapat diperumpamakan sebagai bumbu dan rempah itu? Berbagai ‘bahan’ dengan karakteristiknya yang khas berkumpul di sini. Ada yang pedas bak merica, manis bak gula, atau memberi warna yang ceria seperti kunyit. Kesemuanya berbaur lewat sebuah interaksi yang dinamis; kesemuanya punya reaksi masing-masing atas interaksi tersebut. Ada yang berbaur dengan mudahnya bak garam, namun ada pula yang kukuh pada bentuk semula bak lengkuas. Apapun itu, ketika semua bumbu itu sudah berada di dalam cobek, maka ia harus siap digerus alias dibentuk lewat interaksi. Gerusan-gerusan itu lambat laun akan memunculkan esensi masing-masing bahan. Bila tak digerus, mustahil kunyit yang sejari mampu memberi warna pada bahan lain.
Tak dipungkiri dalam proses belajar dan interaksi itu kadang muncul luka. Bahan-bahan yang tergerus itu harus hancur lebih dahulu sebelum dapat mengeluarkan esensi yang terkubur jauh di dalam diri masing-masing. Esensi yang kadang kita sendiri pun tak menyadari keberadaannya. Gerusan-gerusan itu pada akhirnya akan membawa kita pada pemahaman yang lebih dewasa terhadap diri kita dan sesama kita selama kita tak sekedar reaktif dan impulsif tanpa memberikan kesempatan bagi hati, jiwa, dan pikiran untuk mencerna dan berpikir jernih terhadap dinamika yang terjadi. Belajar membaur namun tak kehilangan rasa masing-masing.
Bila komunitas ini adalah cobek dan orang-orang yang bergabung di dalamnya adalah berbagai bumbu dengan cita rasanya masing-masing, lalu siapakah yang berperan menjadi si pemegang muntu? Dengan kata lain, siapakah yang menggerakkan dinamika ini? Adakah itu emosi dan keinginan kita ataukah DIA si empunya hidup? Idealnya, seluruh dinamika yang terjadi tetap berpusat pada satu tujuan, yakni memuliakan DIA; agar kita dapat makin bertumbuh, berakar dan berbuah di dalam DIA. Pertanyaannya, sudah dapat disebut idealkah dinamika yang terjadi saat ini? Suatu pertanyaan yang jawabannya sangat relatif; kembali pada masing-masing pribadi.
Dua hal yang seharusnya menjadi dasar kita berinteraksi dalam keseharian, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Dua hal yang tertuang dengan sangat jelas dalam Matius 22:37-40, ”Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi."
Bila kasih menjadi inti dari interaksi yang ideal, lalu kasih yang seperti apakah kasih itu? Sekedar melirik pada I Korintus 13:4-7 yang memaparkan kriteria-kriteria kasih dengan rinci. ”Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.”
Mari tetap terbuka untuk ’digerus’, saling bertumbukan dan dijadikan lebih matang lagi dengan penuh rasa kasih pada TUHAN dan sesama. Hingga pada saatnya, kita dapat menyajikan diri kita dengan citarasa sejati untuk kemuliaan-NYA. Terima kasih untuk SS yang telah menjadi cobek batu yang kokoh untuk kita semua.
Aku mengasihimu
GBU