Submitted by andryhart on

Kemarin saya mendengar lewat acara Kick Andy, bagaimana pak Gede
Prama sampai meninggalkan jabatan CEO di perusahaan jamu untuk pindah
ke desa di Bali. Beliau ternyata lebih mementingkan spiritualitasnya
ketimbang penghasilannya. Memang tidak banyak orang seperti beliau yang
sudah memikirkan kematian ketika usianya mencapai 40 tahun.

Yang
menarik beliau mengatakan, kematian bukan untuk menakuti kehidupan
tetapi menjadikan nilai kehidupan semakin dalam. Kita sering merasa
takut akan kematian tetapi jika kita lebih memperhatikan kesehatan roh
daripada daging, kita akan lebih bisa menerima kematian tanpa rasa
khawatir yang berlebihan. Kerapkali kita temui orang yang sudah
siap meninggal seperti almarhum pendeta Eka Darmaputera dan orang seperti ini
tidak pernah mau didoakan untuk mendapatkan mukjizat kesembuhan. Yang
diharapkannya cuma 3: (1) tidak mengalami penderitaan sakit dsb.nya
selama menjalani proses kematian; (2) tidak menjadikan dirinya sebagai
beban finansial bagi anak cucunya; dan (3) selama masih hidup
dapat berbuah bagi sesama.

Mudah-mudahan kita mendapat berkat Allah untuk bisa mengikuti jejak pendeta Eka pada saat menjelang dipanggil Tuhan.

Hal
kedua yang menarik dalam wawancara tersebut, sekalipun saya tidak
begitu mengerti maksudnya, adalah anjuran beliau untuk berhenti mencari ketika mencapai usia
40 tahun dan menjadikan tempat berhenti itu sebagai pencapaian.
Barangkali pak Gede Prama sampai di tingkat spiritualitasnya yang
sekarang ini pada usia 40 tahun?