Pagi ini saya datang ke sekolah dengan aksi bungkam. Bungkam bukan karena aksi protes menuntut turunnya harga BBM atauoun minta kenaikan gaji dari atasan, melainkan karena suara saya benar-benar hilang karena gabungan radang tenggorokan dengan beberapa gangguan lain. Semalaman saya memutar otak, bagaimana caranya saya dapat belajar bersama 29 anak-anak super duper aktif tanpa harus mengeluarkan suara sedikitpun, dan hingga pagi tak kunjung ketemu juga jawabannya. Pagi ini saya mencoba tampil 'senormal' mungkin. Kalau biasanya saya menyapa ramah teman-teman saya "Selamat pagi Bapak Ibu!!", pagi ini saya hanya mampu tebar senyum kesana dan kemari. Trik ini lumayan berhasil sampai salah seorang teman mengucapkan "Selamat ulang tahun!". Duh, akhirnya ketahuan deh suara saya hilang hari ini karena tak bisa menjawab apa-apa.
Sebuah ironi yang lucu. Ketika usia saya bertambah, saya justru kehilangan (sementara) suara saya. Ada yang bertambah, dan ada yang hilang.Sambil mencoba berjuang melawan keinginan untuk pulang dan meletakkan kepala di bantal karena harus menunggu rapat sekitar satu jam lagi, ironi ini membawa saya ke sebuah perenungan tentang makna bertambahnya usia saya hari ini. Ada yang bertambah dan ada yang hilang. Itulah kesimpulan sementara yang bisa saya petik.
Apa yang bertambah?
Seiring berjalannya waktu, seyogyanya kita meki bertumbuh bijaksana. Yang perlu dicatat kebijaksanaan tidak selalu berbanding lurus dengan usia. Seseorang bisa saja bertambah usia namun tidak bertambah bijaksana. Menjadi tua itu adalah 'kenaikan tingkat' otomatis tiap tahunnya; menjadi bijak adalah pilihan. Suatu pilihan yang konsekuensinya terkadang sulit.
Apa yang berkurang?
TIME IS RUNNING OUT!! (Help me.... I am 25 now and there're lots of things I haven't done)
Rasanya seperti waktu psikotes..
harus menambahkan angka-angka di kertas ukuran A0 dan ketika tinggal kurang dua kolom testernya bilang "Waktu Habis"
Itu yang pertama terpikir. Berapa lama lagi waktu yang tersisa untuk menjadi pribadi yang lebih baik, dan bermakna bagi sesama. Tentunya sisa itu tak lalu bertambah, namun makin berkurang.
Sisa waktu yang membawa saya kepada perenungan. Pada ulang tahun-ulang tahun sebelumnya, saya selalu bertanya apa yang sudah saya capai tahun ini; tapi kali ini saya tak tertarik pada pertanyaan itu.
Pertanyaan baru saya yang lebih sulit dijawab: Apakah yang sudah saya lakukan tahun ini sehingga memberi makna bagi relasi saya dengan TUHAN dan sesama?
Duh, sampai sekarang belum ketemu jawabannya :)
Ini berarti saya masih kurang berusaha untuk menjadikan keberadaan saya bermakna. Semoga di sisa waktu ini saya mampu menjawab pertanyaan ini dengan pikiran, ucapan, dan laku saya.
... dan di akhir perenungan saya, saya teringat pada ayat yang saya baca pagi ini. Ayat yang kemudian menjadi doa saya hari ini...
Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.
Mazmur 90:12