Sebagai pendahuluan, jurnal ini saya tulis secara spontan. Kami, yakni saya dan seorang teman perempuan, sedang rehat sejenak dari tugas kantor. Tiba-tiba saja pembicaraan mengarah kepada topik pasangan hidup. Sebuah topik yang menjadi pergumulan besar bagi jomblo-jomblo di pertengahan usia 20-an.Sebelumnya karena spontan, maaf jika bahasa yang saya gunakan campur aduk nggak karuan.
"Hari gini masih jomblo, yang bener aja. Sebenernya apa sih yang membuat kita masih jomblo? Apa mungkin karena kita terlalu kolot?," begitu tanya temanku, sebut saja namanya X (dia wanti-wanti identitasnya harus disamarkan).
"Kolot bagaimana maksudmu?," jawabku sambil tetap menatap monitor komputer.
"Itu lho, nggak berani ngasih sinyal ke cowo," jawab si X lagi.
"Ha.. ha.. you can say that again. Kalo gitu aku juga kolot. Mungkin itu sebabnya kita nih sudah twenty five and never been kissed," jawabku sambil tertawa.
"Do you think it is something that we have to be proud of?," tanyaku.
"About the "kiss" thing? yah 90 percent aku bangga juga sih masih bisa menjaga prinsip." jawabnya
"And the other 10?," aku menyelidik
"10 percent nyesel juga sih... " sahut si X sambil tertawa terbahak-bahak.
"Apa emang seumuran kita harus sudah mikir jodoh ya? Si ibu sudah ngejar-ngejar terus minta dikasih menantu. Biasanya sih aku jawab, maaf ibu anakmu dereng payu (belum laku). Dagangan kali," lanjutku.
"Wah masih mending, mama malah meragukan kenormalanku. Gimana nggak sakit hati tuh," sahut si X.
"Emang nggak pernah punya pengalaman sama cowok, miss?" tanyaku
"Dulu pernah sih ada yang kasih surat cinta, tapi sekarang dia dah nikah. Nyesel juga sih,dulu aku tolak. Sekarang aku jadi takut ditolak," jawabnya....
"Wah takut ditolak ya; jujur aku ya juga,"akhirnya aku buka kartu juga.
"Jadi kesimpulannya boleh nggak sih perempuan nembak duluan?"
"Tergantung cowoknya juga sih," tiba-tiba seorang teman laki-laki ikut nimbrung.
"kalo aku sih nggak papa," sahutnya...
"Tapi apa nggak dikira terlalu agresif terus tuh cowok lari terbirit-birit," sahut si X
Sementara mereka ngobrol aku menjadi "panitera" dan mengetik jurnal ini.
Pendapatku sendiri: Nggak mudheng.
Boleh nggak ya perempuan mendahului "nembak" cowok? Aku sih belum pernah coba. Sebagai manusia, pernah sih "naksir" sama sesosok pria manis yang smart abis, tapi terlalu "pengecut" untuk mengungkapkan rasa dan akhirnya "cinta" itu mati sendiri.
Mungkin karena belum waktunya kali ya.
Ah, lanjut bikin tugas lagi dulu. Cukup sekian jadi "notulis"nya.
Mencoba percaya, "IA membuat segalanya indah pada waktuNYA"
GBU
Submitted by
clara_anita
on