Memberanikan diri bertanya, berikut ini adalah penghakiman atas tulisan Pdt. Dr. Ioanes Rakhmat, dosen kajian perjanjian baru di Sekolah Tinggi Teologi (STT) yang di muat dalam harian Kompas 5 April 2007
Jika sisa-sisa jasad Yesus memang ada di bumi ini, maka kebangkitan dan kenaikan Yesus ke surga tidak bisa lagi dipahami sebagai kejadian-kejadian sejarah obyektif, melainkan sebagai metafora. Para penulis Perjanjian Baru sendiri pasti memahami keduanya sebagai metafora; jika tidak demikian, mereka adalah orang-orang yang sudah tidak lagi memiliki kemampuan membedakan mana realitas dan mana fantasi dan delusi.
Dalam metafora sebuah kejadian hanya ada di dalam pengalaman subyektif, bukan dalam realitas obyektif. Yesus bangkit, ya, tetapi bangkit di dalam memori dan pengalaman hidup dihadiri dan dibimbing oleh Rohnya. Yesus telah naik ke surga, ya; dalam arti: ia telah diangkat dalam roh untuk berada di sisi Allah di kawasan rohani surgawi.
Kebangkitan dan kenaikan tidak harus membuat jasad Yesus lenyap dari makamnya. Untuk keduanya terjadi, yang dibutuhkan adalah tubuh rohani, bukan tubuh jasmani protoplasmik.
Untuk membaca tulisan Pdt. DR. Ioanes Rakhmat selengkapnya, silahkan klik di sini.
SURAT PENGGEMBALAAN BADAN PEKERJA MAJELIS SINODE GEREJA KRISTEN INDONESIA
Saudara-saudara anggota GKI yang kami kasihi dalam Tuhan kita Yesus Kristus,
Dalam kurun waktu satu sampai dua tahun terakhir ini, masyarakat telah dibanjiri oleh tulisan-tulisan popular dan ilmiah yang berhubungan atau bersentuhan dengan kekristenan. Tulisan-tulisan tersebut telah pula memancing reaksi orang-orang Kristen. Berbagai pertemuan studi, diskusi, dan percakapan telah diadakan sebagai upaya untuk memahami dan menentukan sikap terhadap tulisan-tulisan tersebut.
Gereja Kristen Indonesia menggumuli secara serius dan mendalam masalah ini. pergumulan yang serius dan mendalam itu juga dipicu oleh munculnya tulisan salah seorang pendeta GKI berkenaan dengan salah satu tulisan ilmiah tentang penemuan makam keluarga Yesus, yang dikenal dengan makam Talpiot. Tulisan itu dipublikasikan dalam salah satu media massa nasional dan menimbulkan berbagai reaksi di kalangan anggota GKI khususnya, dan warga gereja umumnya. Anggota-anggota GKI yang memberikan reaksi itu pada umumnya memahami bahwa tulisan tersebut juga memuat semacam “manifesto iman” penulis tentang kebangkitan Yesus Kristus, yang dianggap atau diduga menyimpang dari ajaran GKI.
Terkait dengan ajaran GKI, dengan ini kami ingin menyatakan dengan tegas bahwa ajaran GKI adalah ajaran yang disebutkan dan/atau diacu dalam Tata Gereja GKI yang berlandaskan Alkitab. Karena itu, jika ada ajaran-ajaran yang bertentangan dengan ajaran GKI, GKI tidak dapat menerimanya. Secara spesifik, ajaran GKI mengenai kebangkitan Yesus Kristus adalah bahwa Yesus Kristus bangkit dari antara orang mati (kebangkitan daging) dan ajaran yang menyatakan bahwa kebangkitan Yesus Kristus adalah kebangkitan yang bersifat metaforis bukanlah ajaran GKI.
Terkait dengan GKI yang disebutkan di atas, Badan Pekerja Majelis Sinode Wilayah GKI Sinode Wilayah Jawa Barat, sebagai institusi di mana pendeta yang bersangkutan dipanggil selaku Pendeta Tugas Khusus Sinode Wilayah untuk mengajar di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta, telah melakukan langkah-langkah untuk menyelesaikan masalah yang muncul akibat tulisan tersebut, yaitu:
1. Menyelenggarakan dua kali pertemuan terbuka dalam bentuk sarasehan. Sarasehan-sarasehan tersebut dihadiri oleh yang bersangkutan, para pendeta GKI, dan anggota-anggota GKI.
2. Menempuh langkah-langkah penggembalaan kepada yang bersangkutan sesuai dengan Tata Gereja GKI. Hal ini masih terus berlangsung sampai saat ini dan terus akan dilanjutkan sampai tuntas.
3. Melakukan pertemuan dengan Pengurus Lembaga Perguruan Tinggi Teologi Jakarta dimana pendeta tersebut melayani sebagai tenaga pengajar penuh-waktu (dosen biasa) yang diutus oleh GKI. Hal ini juga masih akan dilanjutkan terus sampai masalah ini diselesaikan secara tuntas.
4. Melayangkan Memorandum Pastoral kepada anggota-anggota GKI di lingkup GKI Sinode Wilayah Jawa Barat.
Dalam kesempatan ini, kami ingin mengajak segenap anggota GKI untuk dengan kritis dan tenang menghadapi setiap fenomena dalam masyarakat, yang berkaitan dengan iman atau kehidupan keagamaan kita. Kami juga mengimbau agar kita juga tidak terpancing oleh upaya-upaya untuk membangkitkan kemarahan atau perpecahan dalam tubuh gereja Tuhan umumnya dan GKI khususnya. Kita harus tetap waspada tanpa kehilangan kemampuan kita untuk secara kritis melihat pokok masalah dan menempatkan tiap masalah pada tempatnya secara proporsional.
Akhirnya kami berharap agar dengan adanya persoalan ini, kita sebagai anggota-anggota GKI tidak kehilangan semangat untuk saling menegur dan menasehati dalam suasana kasih demi pembangunan GKI sebagai tubuh Kristus.
Supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah I Korintus 2:5
Jakarta, 7 September 2007
BADAN PEKERJA MAJELIS SINODE GEREJA KRISTEN INDONESIA
Pdt. Dr. Robert Setio Pdt. Jahja Sunarja Th.M. Ketua Umum Pj. Sekretaris Umum
Surat tersebut di atas saya kutip dari sini.
Tanggapan I. Menyikapi Artilkel Ioanes Rakhmat, Kompas 5 Apr
Perhatikan bagaimana dia menyusun argumentasinya mengenai 'objektivitas' serta 'kebenaran' makam itu sebagai makam Yesus. Perhatikan juga bagaimana dia mengutip teolog tertentu spt John Dominic Crossan untuk mendukung peristiwa itu. Padahal, kita tahu, Crossan, jelas sangat menolak fakta2 penting dalam Alkitab, termasuk kebangkitan Yesus.
Lalu perhatikan bagaimana dia menyimpulkan artikelnya itu dgn mengatakan bhw "kebangkitan dan kenaikan Yesus ke surga tidak bisa lagi dipahami sebagai kejadian-kejadian sejarah objektif, melainkan sebagai metafora" (bagian penutup). Jika dia berksesimpulan spt itu, tidak menjadi masalah. Itu adl haknya.
Namun, yang mengecewakan dari dia sebagai seorang pengajar dan yg disebut ahli adalah bahwa dia menyamakan pandangannya tsb dengan pandangan penulis Alkitab. "Para penulis Perjanjian Baru sendiri PASTI MEMAHAMI KEDUANYA SEBAGAI METAFORA", selanjutnya dia menulis: "Jika tidak demikian, mrk adalah orang2 yg tidak lagi memiliki kemampuan membedakan mana realitas dan mana fantasi dan delusi". Bagi saya, kesimpulan Ioanes Rakhmat tsb sungguh MENYESATKAN.
Lalu apa dasar IR untuk membangun argumentasinya? Laporan2 dan pandangan orang2 yang bersifat spekulatif, dan bukan Alkitab! Tidak ada dasar Alkitab yang mendukung pandangan IR tsb. Tapi mengapa IR masih mengutip ayat-kisah org muda yang lari telanjang pada Markus 14:51-52? Jawabnya sederhana, karena dia ingin meneguhkan pandangannya dengan berspekulasi, sekali lagi, berspekulasi terhadap ayat-ayat tsb. Apakah IR sedang melakukan tindakan kontradiksi dengan melawan Alkitab di satu sisi, tapi menerima di sisi lain? Bisa juga.
Salam kebangkitan, Mangapul Sagala.
Untuk membaca tulisan selengkapnya silahkan klik di sini danuntuk membaca tanggapan lainnya silahkan klik di sini.
Surat Dari Pdt. Ioanes Rakhmat
Kepada yth. Warga GKI dan komunitas Kristen pada umumnya
Dengan hormat,
Sebagaimana sudah kita ketahui bersama, tulisan saya di lembaran Bentara Kompas 5 April 2007, yang berjudul Kontroversi Temuan Makam Keluarga Yesus, telah menimbulkan banyak reaksi dari kalangan warga gereja. Setelah melewati beberapa percakapan dengan BPMSW GKI Jawa Barat, saya tiba pada kesadaran bahwa adalah tanggungjawab saya untuk mencoba meredakan dan mengatasi pelbagai reaksi itu melalui pengakuan dan pernyataan berikut.
Pertama, saya akui bahwa saya telah bertindak tidak bijaksana ketika mengaitkan paparan temuan makam keluarga Yesus langsung dengan pemahaman iman gereja mengenai kebangkitan Yesus. Atas kejadian ini, saya meminta maaf;
Kedua, saya akui bahwa tulisan saya itu menunjukkan ketidakpekaan saya terhadap penghayatan iman kebanyakan warga gereja yang memahami kebangkitan Yesus sebagai kebangkitan ragawi. Atas kejadian ini, saya meminta maaf;
Ketiga, berdasarkan dua hal di atas, dengan ini saya menyatakan menarik kembali bagian Penutup dari tulisan saya di lembaran Bentara Kompas tersebut di atas; dan bersedia untuk menulis sebuah artikel ilmiah populer yang berisi pertimbangan- pertimbangan kritis saya terhadap penelitian temuan makam keluarga Yesus;
Keempat, saya ingin menegaskan kembali, makam keluarga Yesus di Talpiot sebagai makam keluarga Yesus dari Nazareth adalah sebuah hipotesis;
Kelima, sesuai dengan berita Perjanjian Baru, saya percaya kebangkitan Yesus itu mencakup kebangkitan ragawi natural sekaligus non-ragawi supernatural, berlangsung sebagai kejadian historis sekaligus kejadian trans-historis, dan karena itu merupakan sebuah misteri iman.
Demikian pengakuan dan pernyataan saya.
Jakarta, 20 Agustus 2007
Pdt. Ioanes Rakhmat
Surat dari Pdt. DR. Ioanes Rakhmat saya peroleh dari sini.
Bengcu menjawab:
Gereja yang tidak berani menghakimi adalah gereja LEMAH, namun gereja yang tidak mau menghakimi dengan adil adalah gereja ANGKARA MURKA, gereja yang tidak berani membela kebenaran, apalagi membela jemaatnya, pendetanya yang benar, adalah gereja TIDAK SETIA. Itulah Gereja Kristen Indonesia (GKI), bila GKI bukan gereja LEMAH, ANGKA MURKA dan TIDAK SETIA, maka itulah prilaku para pejabat Sinodenya. Karena SURAT PENGGEMBALAAN BADAN PEKERJA MAJELIS SINODE GEREJA KRISTEN INDONESIA tersebut di atas menunjukkan kelemahan, sewenang-wenang dan tidak setia. Surat Penggembalaan tersebut di atas dikeluarkan sehubungan dengan tulisan Pdt. Dr. Ioanes Rakhmat Kontroversi Temuan Makam Keluarga Yesus di harian Kompas pada tanggal 5 April 2007.
Coba anda perhatikan alasan dikeluarkannya surat tersebut lalu perhatikan tulisan Pdt. Dr. Ioanes Rakhmat.
Anggota-anggota GKI yang memberikan reaksi itu pada umumnya memahami bahwa tulisan tersebut juga memuat semacam “manifesto iman” penulis tentang kebangkitan Yesus Kristus, yang dianggap atau diduga menyimpang dari ajaran GKI.
Apakah pemahaman anggota-anggota GKI atas tulisan tersebut benar? Apakah tulisan Pdt. Dr. Ioanes Rakhmat tersebut di atas menyatakan MANIFESTO IMAN-nya? Apabila BENAR, maka GKI harus menyatakan Pdt. Dr. Ioanes Rakhmat BERSALAH. Apabila SALAH, maka GKI harus MEMBELA Pdt. Dr. Ioanes Rakhmat dari penghakiman sewenang-wenang dan membabibuta.
Janganlah menghakimi menurut apa yang nampak, tetapi hakimilah dengan adil. Yohanes 7:24
Pdt. Mangapul Sagala DTh bukan satu-satunya yang menghakimi Pdt. Dr. Ioanes Rakhmat dengan TIDAK ADIL, namun sebagai seorang Pendeta Besar dan Theolog dengan tingkat pendidikan Doktor Theologia seharusnya dia memberi teladan kepada umat Kristen untuk menghakimi dengan ADIL.
Coba anda perhatikan kalimat penghakimannya dan alasan penghakimannya. Memang benar, kalimat-kalimat yang dikutipnya adalah kalimat-kalimat yang ditulis oleh Pdt. Dr. Ioanes Rakhmat, namun dia tidak mengutipnya secara lengkap. Apabila dia membaca dan mengutipnya dengan lengkap, maka nampak jelas sekali makna dari kalimat tulisan Pdt. Dr. Ioanes Rakhmat mengandung makna yang berbeda.
JIKA sisa-sisa jasad Yesus memang ada di bumi ini, maka kebangkitan dan kenaikan Yesus ke surga tidak bisa lagi dipahami sebagai kejadian-kejadian sejarah obyektif, melainkan sebagai metafora. Para penulis Perjanjian Baru sendiri pasti memahami keduanya sebagai metafora; jika tidak demikian, mereka adalah orang-orang yang sudah tidak lagi memiliki kemampuan membedakan mana realitas dan mana fantasi dan delusi.
Badan Pekerja Majelis Sinode Wilayah GKI Sinode Wilayah Jawa Barat jelas-jelas menyatakan bahwa tulisan Dr. Ioanes Rakhmat adalah tulisan ilmiah tentang penemuan makam keluarga Yesus, yang dikenal dengan makam Talpiot. Lebih lanjut dinyatakan bahwa (BPMSGKI) telah mengadakan dua kali sarasehan, mengapa hasilnya tidak dipublikasihkan? Di samping itu juga telah mengadakan pertemuan dengan Pengurus Lembaga Perguruan Tinggi Teologi Jakarta, mengapa hasilnya tidak dipublikasikan?
Saya sudah membaca buku The Jesus Family Tomb – Makam Keluarga Yesus karangan Simcha Jacobovici dan Charles Pellegrino, walaupun mengklaim menyajikan penemuan, investigasi dan bukti yang dapat mengubah sejarah, namun nampak jelas sekali bahwa isi buku tersebut SANGAT JAUH dari prinsip-prinsip investigasi yang benar dan bukti-bukti yang diajukannya BUKAN BUKTI sama sekali karena selain tidak ilmiah juga penuh dengan tafsiran membabibuta.
Saya juga sudah membaca buku Dinasti Yesus yang ditulis oleh James D. Tabor. James D. Tabor dengan jujur di dalam bukunya tersebut mengakui bahwa apa yang ditulisnya di dalam buku tersebut bukan karya ilmiah namun hasil dari mencoba membayangkan dan menautkan (imagine and connect).
Menurut saya, walaupun kedua buku tersebut sama-sama membahas tentang makam keluarga Yesus, namun banyak informasi di dalam kedua buku tersebut yang saling bertentangan.
Walaupun tidak menyetujui beberapa tulisan Pdt. Dr. Ioanes Rakhmat, namun khusus tulisannya, Kontroversi Temuan Makam Keluarga Yesus, saya menilai bahwa dia telah menyajikannya secara ilmiah dan tidak menyebelah (adil) serta tidak memuat manifesto imannya sama sekali. Seharusnya kita tidak menghakiminya membabibuta! Namun banyak orang sudah melakukannya. Siapa bilang dunia ini adil? Keadilan hanya ada di rumah ibadah!