Selama ini perdebatan tentang banjir pada jaman Nuh selalu berpusat pada pertanyaan, Apakah banjir pada jaman Nuh melanda seluruh dunia atau banjir lokal yang hanya melanda dunia Nuh? Mereka yang percaya bahwa banjir tersebut melanda seluruh dunia mengacu pada penemuan-penemuan ilmu pengetahuan tentang banjir di manca negara, cerita-cerita kuno manca negara tentang banjir dan ayat-ayat dalam Alkitab.
Apakah penemuan-penemuan bekas-bekas banjir yang melanda manca negara di jaman purbakala membuktikan bahwa banjir jaman Nuh melanda seluruh dunia? Belum tentu! Penemuan-penemuan tersebut hanya membuktikan adanya banjir yang melanda manca negara di jaman purbakala, namun tidak mebuktikan bahwa banjir tersebut terjadi pada waktu yang bersamaan dan satu kesatuan.
Apakah cerita-cerita kuno tentang banjir di manca negara membuktikan bahwa banjir pada jaman Nuh melanda seluruh dunia? Belum tentu! Cerita-cerita kuno tersebut mungkin hanya membuktikan terjadinya banjir di manca negara, tetapi tidak membuktikan bahwa itu adalah banjir yang terjadi pada jaman Nuh. Nuh mengatasi bencana banjir dengan membangun sebuah kapal atas perintah Tuhan, namun cerita-cerita kuno tentang banjir di manca negara ditangani dengan cara berbeda. Anda boleh yakin bahwa cerita yang benar adalah yang tercatat dalam Alkitab, cerita lainnya telah terkontaminasi sehingga menjadi dongeng-dongeng yang tidak masuk akal. Namun anda harus membuktikan kenapa kesemua cerita kuno tersebut yang jumlahnya mungkin lebih dari 150 cerita berubah menjadi dongeng-dongeng yang tidak masuk akal?
Ada berbagai cerita tentang Nuah atau Nuwa dalam kitab-kitab Tiongkok kuno. Kisah tentang Nuwa menambal langit yang bocor tercatat di dalam kitab Shiji (kitab sejarah) yang ditulis oleh sejarahwan Sima Qian (145 - 90 SM) dan kitab Leizi yang ditulis oleh Leizi (475-221SM). Dikisahkan bahwa bahwa Nuwa adalah seorang wanita, istri Fuxi, keduanya adalah nenek moyang bangsa Tiongkok kuno. Nuwa adalah makluk bertubuh ular dan berkepala manusia, setelah raja fuxi mangkat, Nuwa menggantikannya untuk memerintah. Pada akhir masa pemerintahannya terjadi pemberontakan oleh pangeran Gonggong. Nuwa memerintahkan menteri Zhurong untuk mengatasi pemberontakan itu.
Karena tidak mampu mengalahkan Zhurong maka Gonggong menjadi nekat lalu membenturkan kepalanya ke gunung Tak Sempurna (Bozhou shan) sehingga langit bocor tiang-tiang penyangga bumi runtuh, bumi bagian Barat Laut terjungkat ke atas sedangkan bagian Tenggara melesak ke bawah. Malapetaka kebakaran dan banjir besar melanda seluruh dunia, di samping itu juga muncul monster pemakan manusia. Nuwa turun tangan, dia menggunakan kaki kura-kura untuk menopang bumi dan batu panca warna untuk menambal langit. Walaupun dapat mengatasi malapetaka, namun ternyata pekerjaan Nuwa tidak sempurna, itu sebabnya (di Tiongkok) matahari, bulan dan bintang-bintang tenggelam ke arah Barat Laut sedangkan sungai-sungai mengalir ke arah tenggara.
Beberapa pengkotbah Kristen mengaitkan Nuwa dengan Nuh dan keturunan Nuwa, Lo Han, Lo Shen dan Jah-hu dengan anak-anak Nuh, Ham, Sem dan Yafet serta anak Lo Han, Cusah dan Messay dengan Kusy dan Misraim (Kejadian 10:6), Anak Jah-hu, Go-men dengan Gomer (Kejadian 10:2) hanya berdasarkan kesamaan bunyi. Penafsiran demikian selain penuh spekulasi berlebihan juga tidak dapat dipertanggungjawabkan baik secara ilmiah maupun theologia.
Dengan asumsi bahwa Adam dan Hawa diciptakan pada tahun ke 1, maka air bah pada jaman Nuh terjadi pada tahun 1657 atau setara dengan tahun 2344 SM.
Kitab sejarah Tiongkok kuno (Shu Jing) mencatat bahwa raja Yao memerintah Tiongkok tahun 2357-2255SM, dia lalu digantikan oleh raja Shun tahun 2255-2205SM yang kemudian digantikan oleh raja Yu tahun 2205-2197SM. Menurut kitab tersebut, banjir besar terjadi pada saat pemerintahan Raja Yao. Gun yang menjabat menteri pekerjaan umum dihukum penjara seumur hidup karena tidak berhasil mengatasi bencana itu. Jabatan Gun digantikan oleh anaknya Yu. Setelah berjuang selama 13 tahun dengan membangun kanal-kanal, Yu berhasil mengatasi banjir besar itu. Apabila kita membandingkan catatan sejarah yang tercatat di dalam Alkitab dan kitab sejarah Tiongkok (Shujing), maka nampak bahwa banjir Nuh terjadi pada saat pemerintahan Yao. Mengenai bajir tersebut, kitab Shujing mencatat:
Raja berkata, “Kemarilah Yu! Ajukanlah saran-saranmu.” Yu memberi hormat, lalu berkata, “Ah, baginda, apa yang dapat ku katakan? Aku hanya berfikir, bagaimana melaksanakan tugas harianku sebaik-baiknya.” Gao Tao berkata, “hmm…! Bagaimanakah itu?” Yu berkata, “Air bah meluap hingga ke langit, Sangat luas, menggenangi gunung dan menenggelamkan bukit, rakyat bingung dan ketakutan. Aku melakukan perjalanan dengan keempat jenis kendaraan, menyusuri gunung menerobos hutan, sementara itu Yi mengajar rakyat bagaimana memperoleh makanan segar. Aku menemukan sembilan sungai yang mengalir ke empat lautan, menggali parit dan terusan untuk mengalirkan air ke sungai-sungai besar; Menteri pertanian mengajar cara bercocok tanam dan berburu. Mendorong rakyat melakukan pertukaran barang yang dimiliki dengan yang tidak dimiliki dan menata perkampungan. Demikianlah rakyat banyak memperoleh makanan, berlaksa suku terkendali. Gao Tao berkata, “Setuju! Semua yang anda katakan benar.” Shu Jing II:IV:1 - Yi Ji
Apakah banjir besar yang terjadi pada pemerintahan raja Yao adalah air bah yang diceritakan dalam Alkitab? Saya tidak tahu! Apakah raja Yao adalah nabi Nuh? Saya tidak tahu! Apakah catatan dalam kitab Kejadian membuktikan bahwa banjir Nuh melanda seluruh dunia? Dikatakan, kitab Kejadian 6:7 menyaksikan firman Allah secara langsung (direct speech, directe rede) yang berbunyi sebagai berikut:
Berfirmanlah TUHAN: "Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal, bahwa Aku telah menjadikan mereka. " Kejadian 6:7
Dan air itu sangat hebatnya bertambah-tambah meliputi bumi, dan ditutupinyalah segala gunung tinggi di seluruh kolong langit, Kejadian 7:19
Apakah kedua ayat Alkitab tersebut di atas membuktikan secara Theologia bahwa banjir Nuh melanda seluruh dunia? Belum tentu! Kecuali anda dapat membuktikan bahwa dalam bahasa Ibrani, kata “adam” dalam Kejadian 6:7 berarti seluruh manusia di atas bumi atau kata “adamah” dalam ayat tersebut berarti seluruh permukaan bumi. Hal kedua yang harus anda buktikan adalah bahwa kata “eret” dalam Kejadian 7:19 berarti seluruh permukaan bumi dan “gaboahh” dalam ayat tersebut berarti seluruh gunung tinggi di bumi.
Sebab api telah dinyalakan oleh murka-Ku, dan bernyala-nyala sampai ke bagian dunia orang mati yang paling bawah; api itu memakan bumi dengan hasilnya, dan menghanguskan dasar gunung-gunung. Ulangan 32:22
Kitab Ulangan 32:22 tersebut di atas adalah firman Tuhan yang disampaikan oleh Allah kepada bangsa Israel beberapa saat sebelum Musa mangkat. Ayat tersebut juga menyaksikan firman Allah secara langsung (direct speech, directe rede). Bagaimanakah anda memahami ayat tersebut? Pernahkan anda melihat bencana api yang melanda seluruh dunia hingga ke dunia orang mati?
Alkitab mencatat ketika Iblis mencobai Yesus dipadang gurun:
Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya, Matius 4:8
Kemudian ia membawa Yesus ke suatu tempat yang tinggi dan dalam sekejap mata ia memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia. Lukas 4:5
Apakah kata “pas kosmos” dalam Matius 4:8 dan “pas oikoumene” dalam Lukas 4:5 tersebut di atas berarti semua kerajaan di dunia atau semua bagian dari sebuah kerajaan yang disebut “kerajaan dunia?”
Saya bukan sarjana theologia dan tidak pernah mempelajari bahasa Ibrani maupun Yunani dengan baik. Jadi yang saya ungkapkan di atas bukan suatu pernyataan, tetapi sebuah pertanyaan kepada para ahli theologia dan pakar bahasa Ibrani dan Yunani.
Alkitab mencatat, ukuran bahtera Nuh adalah 300 X 50 X 30 hasta (Kejadian 6:15). Kamus Alkitab mencatat 1 hasta = 45cm sehingga dalam ukuran meter bahtera tersebut besarnya adalah 135 X 22,5 X 13,5 meter. Bahtera tersebut dibuat tiga tingkat, bawah, tengah dan atas (Kejadian 6:16). Luas maksimal masing-masing tingkat di dalam bahtera itu adalah 135 X 22,5 = 3.038 meter persegi sehingga total luas bahtera adalah 9.113 meter persegi. Volume maksimum bahtera adalah 135 X 22,5 X 13,5 = 41.006,25 meter kubik.
Pada waktu umur Nuh enam ratus tahun, pada bulan yang kedua, pada hari yang ketujuh belas bulan itu, pada hari itulah terbelah segala mata air samudera raya yang dahsyat dan terbukalah tingkap-tingkap di langit. Kejadian 7:11
Dalam bulan kedua, pada hari yang kedua puluh tujuh bulan itu, bumi telah kering.
Lalu berfirmanlah Allah kepada Nuh: "Keluarlah dari bahtera itu, engkau bersama-sama dengan isterimu serta anak-anakmu dan isteri anak-anakmu; Kejadian 8:14 -16
Nuh menghabiskan waktu di bahtera selama 1 tahun 10 hari. Berapa banyak binatang yang diangkut dalam bahtera? Berapa banyak makanan yang diangkut untuk hidup selama 1 tahun 10 hari di atas bahtera?
Dari segala binatang yang tidak haram haruslah kauambil tujuh pasang, jantan dan betinanya, tetapi dari binatang yang haram satu pasang, jantan dan betinanya; juga dari burung-burung di udara tujuh pasang, jantan dan betina, supaya terpelihara hidup keturunannya di seluruh bumi. Sebab tujuh hari lagi Aku akan menurunkan hujan ke atas bumi empat puluh hari empat puluh malam lamanya, dan Aku akan menghapuskan dari muka bumi segala yang ada, yang Kujadikan itu." Kejadian 7:2-4
Saat ini kita mengenal 16.000 jenis (species) burung, 4.500 jenis mamalia, 6.300 reptil, 2.500 binatang amfibi dan 850.000 serangga. Dengan perhitungan kasar bahwa masing-masing di bawa sepasang, maka itu berarti Nuh membawa 32.000 ekor burung, 9.000 ekor mamalia, 5.000 ekor amfibi, 1.700.000 ekor serangga. Alkitab mencatat bahwa bahtera itu dibuat berpetak-petak dan hanya ada 1 pintu dan 1 jendela.
Beberapa ilmuwan melakukan kalkulasi volume (meter kubik) bahtera Nuh dengan kapasitas angkut truk kontainer yang mampu mengangkut 240 ekor domba. Dengan cara demikian mereka menemukan bahwa maksimal jumlah binatang yang dibawa hanya akan memenuhi 51% dari kapasitas bahtera. Walaupun kalkulasinya tidak salah, namun para ilmuwan itu melupakan satu faktor terpenting dalam perhitungannya. Mereka lupa bahwa binatang-binatang tersebut akan tinggal selama 1 tahun 10 hari di atas bahtera, bukan hanya beberapa jam. Anda dapat menempatkan seekor doberman dengan tinggi 70 cm dalam peti yang berukuran panjang, lebar dan tinggi 80 X 30 X 90 = 0,22 meter kubik. Dalam peti demikian anjing tersebut hanya dapat berdiri, duduk dan tiarap serta berbaring dengan susah payah. Namun untuk hidup selama 1 tahun 10 hari Doberman tersebut butuh tempat yang lebih besar, minimal 100 X 100 X 100 = 1 meter kubik.
Di dalam kitab Zakaria tercatat:
Maka aku menggembalakan domba-domba sembelihan itu untuk pedagang-pedagang domba. Aku mengambil dua tongkat: yang satu kusebutkan "Kemurahan" dan yang lain kusebutkan "Ikatan"; lalu aku menggembalakan domba-domba itu. Zakharia 11:7
Aku mengambil tongkatku "Kemurahan", lalu mematahkannya untuk membatalkan perjanjian yang telah kuikat dengan segala bangsa. Zakharia 11:10
Kemudian aku mematahkan tongkat yang kedua, yaitu "Ikatan", untuk meniadakan persaudaraan antara Yehuda dan Israel. Zakharia 11:14
Dari ayat-ayat tersebut di atas, dapatkah kita menyimpulkan bahwa Tuhan menggembalakan umat manusia dengan dua tongkat yaitu tongkat ikatan untuk menggembalakan bangsa Israel dan tongkat kemurahan untuk menggembalakan segala bangsa kecuali Israel? Kalau boleh menyimpulkan demikian, bolehkah kita bertanya, sejak kapan hal itu berlangsung? Kalau boleh menyimpulkan demikian, bolehkah kita menyimpulkan bahwa keturunan Nuh adalah bangsa-bangsa yang mendiami Timur tengah sedangkan bangsa lain yang digembalakan dengan tongkat kemurahan mendiami bagian dunia yang lain, karena pada jaman Nuh, manusia sudah tersebar memenuhi bumi?
Ini hanya pertanyaanku, seorang yang awam dalam masalah theologia. Mungkinkah air bah yang terjadi pada jaman Nuh itu memang melanda seluruh dunia, namun penanganan di manca negara berbeda-beda dan Nuh hanya mewakili salah satunya? Sebab dalam kitab Tiongkok kuno juga tercatat bahwa keberhasilan Yu dalam mengatasi banjir tidak lepas dari wahyu yang diterimanya dari Tian (Tuhan). Mungkinkah Tuhan memang menggunakan air bah untuk menghukum seluruh bangsa di dunia, tetapi pelaksanaannya tidak dilakukan secara bersamaan? Atau Allah melakukannya pada waktu yang bersamaan namun penyelesaiannya berbeda-beda? Misal, di Timur Tengah Allah memanggil Nuh, namun di Tiongkok kuno Allah memanggil raja Yao?