Aku ingin membagi
kisah hidupku. Kisah hidupku ketika mengenal Tuhan Yesus sebagai Penyelamatku.
Namaku Kanzo Uchimura. Aku seorang keturunan samurai Jepang. Aku lahir pada
tahun 1861 yaitu 8 tahun setelah Komodor Perry membuka Jepang untuk lalu lintas
dunia dan 7 tahun sebelum Mikado Mutsuhito atau Kaisar Meiji mulai memegang
kekuasaan atas seluruh Jepang.
Pada saat kelahiranku, Kaisar Meiji giat melakukan modernisasi. Budaya
Barat masuk dengan mudahnya ke Negeri ku. Tetapi walaupun demikian, sebagai
orang Jepang kami memiliki suatu rasa kebanggaan tersendiri yang khas akan
warisan budaya kami. Itulah salah satu upaya yang kami lakukan agar dapat
bertahan dan menyesuaikan diri dengan bangsa Barat. Kami pun melakukan hal yang
sama ketika dulu daratan Cina menguasai dunia.
Ketika Negeri kami membuka diri untuk kebudayaan Barat, banyak misionaris
Kristen yang datang untuk menyebarkan keyakinan mereka ke tengah-tengah bangsa
kami. Pada tahun 1959, Misionaris Protestan sudah berkunjung ke Jepang.
Misionaris Kristen ini dengan giatnya menyebarkan keyakinan mereka kepada kami.
Tetapi nampaknya pekerjaan mereka kurang berhasil untuk meraih perhatian
masyarakat berpindah kepada keyakinan mereka. Sebenarnya, pindah keyakinan
secara bergerombol bukanlah watak bangsa kami. Kami sangat individual dan
selalu berpikir matang sebelum memutuskan sesuatu.
Kaisar Jepang banyak membuka lembaga pendidikan modern untuk menyebarkan
ilmu pengetahuan Barat kepada kami. Salah satunya adalah Akademi Pertanian di
wilayah Sapporo (Jepang Utara) yang dikepalai oleh ahli pertanian berkebangsaan
Amerika bernama W.S Clark. Beliau adalah seorang Kristen. Walaupun beliau bukan
seorang misionaris, beliau begitu bersemangat membagikan keyakinannya kepada
kami. Pengaruh beliau sangat besar saat itu sehingga murid-murid angkatan
pertama yang hanya berjumlah 15 orang berpindah kepada keyakinan Kristen.
Aku adalah murid angkatan kedua disitu. Ketika aku masuk, diadakan
Orientasi atau Masa Pengenalan. Murid-murid angkatan pertama memanfaatkan masa
Orientasi untuk menganjurkan keyakinan Kristen kepada kami.
Itulah awal aku berkenalan dengan keyakinan Kristen. Setahun kemudian aku
memutuskan untuk dibabtis dan memulai suatu kelompok studi bersama dengan 7 orang
temanku. Kami ber-delapan semuanya orang Jepang. Tidak ada Pendeta, Gembala,
Misionaris atau orang Barat ditengah-tengah kami. Motto kami adalah, “Hanya
orang yang mengenal dan mengandalkan kemampuannya sendiri yang tahu seberapa
jauh kekuatannya”. Oleh karena itu kami menolak ajakan aliran Methodist untuk
bergabung. Kami tidak ingin orang Jepang lain menganggap bahwa keyakinan
Kristen adalah keyakinan yang asing. Kami yakin bahwa seorang yang selalu
bergantung dengan orang lain adalah benda yang paling lemah di alam semesta. Sebenarnya
gereja mampu berdiri sendiri seandainya gereja rela mengesampingkan beberapa
hal lain yang menarik perhatian mereka.
Setiap hari Minggu secara bergiliran kami memimpin kebaktian yang kami
adakan sendiri ditiap-tiap kamar anggota. Kami menggunakan tong sebagai mimbar
dan seperti orang Jepang biasanya, kami tidak duduk di kursi. Hanya yang
berkhotbah saja duduk di kursi dan selebihnya duduk di lantai. Kebaktian
seperti ini biasanya berlangsung selama 4 jam. Selain dari pada itu kami juga
mengadakan prayer meeting setiap hari Rabu malam selama 1 jam.
Corak kebaktian kami lebih bersifat intelektual yaitu secara bertukar
pikiran dan berdiskusi mengenai berbagai ajaran Kristen. Topik-topik yang kami
bahas meliputi ajaran predestinasi, evolusi, kemahakuasaan Allah, dsb. Pada
waktu itu tidak ada satupun buku-buku Kristen yang ditulis dalam bahasa Jepang.
Jadi kami belajar dari buku berbahasa Inggris. Walaupun disana sini banyak
terdapat istilah yang sulit dimengerti, kami tetap mempelajarinya dengan giat
dan bersemangat! Setiap hari Minggu kami beristirahat dan berketetapan tidak
belajar. Hari minggu kami khususkan untuk melayani Tuhan saja. Walaupun ujian
selalu dimulai pada hari Senin, kami tidak khawatir. Bahkan nilai yang kami
dapatkan sering lebih bagus dari pada teman-teman kami yang lain.
Setelah 4 tahun menimba ilmu akhirnya aku berpisah dengan teman-teman
diskusi dan kembali ke kampung halaman. Sangat senang hatiku bisa bertemu
kembali dengan keluarga. Kesempatan ini aku gunakan untuk memperkenalkan
keyakinan Kristen kepada keluargaku. Pertama-tama, aku ingin sekali agar ayahku
bisa mengenal Yesus. Sedikit informasi mengenai ayahku, beliau adalah seorang
ahli sastra Tionghoa yang sangat hebat dan sangat menghayati ajaran Kong Hu Cu.
Jadi perlu juga diketahui bahwa aku dibesarkan dalam lingkungan ajaran Kong Hu
Cu dan juga mempelajari agama Buddha sebelum aku menerima keyakinan Kristen.
Agar dapat menyakinkan ayahku akan keyakinan Kristen, aku meletakkan 5
jilid tafsiran Injil Markus dalam bahasa Tionghoa keatas meja studi beliau dan
tiap kali ayahku membuang buku itu ke keranjang sampah, aku selalu
meletakkannya kembali ke tempat semula. Terakhir kali aku mengembalikannya,
beliau bersedia percaya kepada Kristus.
Jangan kecewa, kisahku tidak berakhir sampai disini. Aku berjanji akan
melanjutkan kisahku lain waktu. Di kisah selanjutnya aku akan menceritakan
bagaimana pengalamanku mengubah sama sekali pandanganku mengenai keyakinan
Kristen. Silakan teman-teman memberi komentar untuk kisah bagian pertama ini
yang mudah-mudahan dapat menjadi berkat bagi semua.