Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Antara Agama Mahadata, Techno-Totalitarianisme dan masa depan kemanusiaan

victorc's picture

Antara Agama Mahadata, Techno-Totalitarianisme dan masa depan kemanusiaan

Oleh Victor Christianto

 

Pendahuluan 

Buku Sapiens karya Yuval Harari, sejarawan terkemuka, telah menjadi best-seller sejak sekitar 2015 dan juga telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa [1].

Karena itu menjadi menarik untuk mencoba menerawang premis-premis apa saja yang digunakan Harari dalam menyusun historiografi dari umat manusia tersebut.

Menurut Yuval Harari, agama tekno (techno-religion) yang pertama adalah sosialisme komunisme yang diawali sekitar akhir abad ke-19 dan mulai berdampak luas sejak awal abad ke-20.

Namun yang lebih buruk dari itu adalah ramalan Harari bahwa di abad ke-21 ini akan muncul techno-religion jenis baru, yang disebutnya sebagai data-religion (agama data). Karena data yang dimaksud Harari kerap berhubungan dengan big data (mahadata), maka ijinkan penulis menyebutnya sebagai “agama mahadata.”

Dalam zaman agama mahadata tersebut, sekali lagi menyebut Harari, bukan lagi Tuhan yang berperan penting dalam mengatur jalannya segala peristiwa (baca: umatNya), namun manusia itu sendiri, tepatnya dengan bantuan superkomputer dan mahadata tersebut, ditambah dengan apa yang disebut Harari sebagai algoritme eksternal.

Tentu ramalan ini bukannya tanpa dasar, dan malah dalam beberapa hal sudah mulai terwujud.

 

Argumen sanggahan

Argumen penulis sederhana saja: taruhlah benar bahwa memang fungsi biokimiawi dalam tubuh kita tidak begitu optimal dan malahan sudah lama diketahui bahwa sebagian besar orang hanya menggunakan sekitar 1% saja dari kapasitas otak mereka yang sebenarnya.
Pertanyaannya lalu adalah: meskipun memang demikian halnya, maka (a) benarkah bahwa fungsi-fungsi biokimiawi dalam tubuh kita sepenuhnya dapat direduksi menjadi algoritme (yang kemudian dapat dihubungkan dengan bio-big data)?, (b) apakah secara etis dibenarkan atau kita akan mengijinkan algoritme eksternal yang dikendalikan oleh superkomputer entah di mana untuk menentukan proses biokimiawi dalam tubuh kita?

Apakah hal tersebut bukannya merupakan pelanggaran atas privacy dan hak seorang individu atas tubuhnya sendiri? (lebih tepatnya mungkin disebut: bio-data breach).


Penulis mengira munculnya kemungkinan agama mahadata ini tidak lain akan memimpin umat manusia pada masyarakat techno-cracy yang cenderung totalitarian sebagaimana pernah ditulis oleh George Orwell dalam novel klasiknya: 1984.

 

Penutup 

Demikianlah uraian singkat mengenai kecenderungan munculnya Agama Mahadata, terutama dalam 1-2 dekade terakhir ini.

Salah satu hal yang menarik dicatat adalah, dalam suatu acara di Silicon Valley (Google Talk, 2015), Harari menyampaikan pandangannya dan rangkuman buku tersebut selama sekitar 1.20 jam [2]. Jika para pembaca memerhatikan tayangan lecture tersebut, di bagian akhir lecture dalam sesi tanya jawab, ada seorang peserta lecture yang menyatakan kira-kira begini (dalam bahasa Indonesia):

“Saya bekerja di Google, di bagian yang fokus menangani aspek privasi data. Saya (atau kami) akan memastikan bahwa apa yang Anda (Harari) sampaikan tidak akan terjadi.”

Lalu peserta tersebut meninggalkan ruangan. Benarkah bahwa ada tim di Google yang sedang berupaya agar masa depan Internet khususnya berkaitan dengan penggunaan dan abuse dari Mahadata dapat dihindarkan dari totalitarianisme ala 1984, atas nama agama Mahadata? Semoga demikian halnya.

Pada akhirnya, jika memang agama mahadata akan menjadi primadona, maka penulis akan menjadi yang pertama untuk menyatakan apostasi.[4]

 

Versi 1.0: 10 maret 2021

Versi 1.1: 20 Maret 2021, pk. 16:07

VC

 

Bacaan:

[1] Yuval Harari. Sapiens. 2015

[2] Yuval Harari. Talk at Google, Silicon Valley, 2015. url: https://www.youtube.com/watch?v=g6BK5Q_Dblo

[3] Casey S. Greene et al. Big Data Bioinformatics. url: Big Data Bioinformatics (nih.gov)

[4] makna apostasi: Arti kata apostasi - Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online

__________________

Dari hamba yang tidak berguna (Lih. Lukas 17:10)

Prepare for the Second Coming of Jesus Christ.