Orang tua saya bukanlah orang tua memble dengan kemanjaannya terhadap anak. Orang tua saya cukup tegas, dan tidak selalu memanjakan anaknya dengan mainan dan handphone atau mungkin apalah gitu........
Orang tua saya juga bukanlah orang yang sangat kejam terhadap anaknya. Mungkin dibilang agak keras, tapi bukanlah sebagai monster bagi anak-anak, (tidak termasuk kalau sedang marah) dan saya cukup berpengalaman tentang jenis marahan dari yang cuma bentakan hingga yang paling keras.
Saya bisa bilang kalau hidup saya terlalu singkat rasanya, berhubung dalam waktu semuda ini banyak yang saya alami sama seperti yang biasa orang yang lebih dewasa mengalaminya. Ini kala pertama saya mengalami yang namanya kehilangan seorang yang saya kasihi sedemikian, yang saya anggap sebagai kakak saya sendiri. Ini bukan kala pertama saya mencoba bunuh diri. Dan saya hampir melakukannya ketika saya berumur kurang dari umur 10 tahun. Ini bukan kala pertama saya beurusan dengan pikiran-pikiran menjatuhkan, bukan kala pertama saya mengalami banyak hal yang menyebalkan dan membingungkan, walau saya belum pernah berurusan dengan kepolisian.
Namun, tetap saja saya adalah seorang yang polos dan lugu selayaknya anak umur enam tahun yang tidak bisa apapun dan menghindari apa yang dibilang orang tua saya.
Apakah saya yang menjadi wakil dari semua anak yang berpikir, apakah orang tua turun dari langit dan tidak mengalami masa kanak-kanak?
Mungkin ya.
Jika, dan memang iya, pasti, pertanyaan itu konyol, pikirkanlah sekali lagi, atau kalau mungkin, copy ke word, print it, dan tempel menjadi pembatas alkitab, oh, itu tidak perlu. Saya cuma minta anda semua berpikir tentang hal diatas.
Banyak arti yang menjadikan orang tua 'sedikit' ditakuti anak-anak, karena kekerasan yang dialaminya. Dan lagipula, kebanyakan orang tua yang 'keras' tampaknya dilihat dari sudut pandang anak adalah seseorang yang tidak pengertian terhadap anak-anaknya. Mungkin demikian.
Karena itu, sebagai orang tua (yang bukan saya pastinya) sebelum marah, sempatkah berpikir bernostalgia sebentar dan mengerti perasaan anak. Pukulan kayu yangn menerpa tubuh muda yang berkembang hingga darah mengumpul membentuk kumpulan yang dilihat dari luar sebagai warna biru tua( Saya mengalami hal itu sebelum umur 10 tahun dibanyak tempat di tubuh saya) tidak akan mengubah rasa sayang anak terhadap orang tua, yang ada hanyalah trauma yang mendalam dan kalaupun merubahnya, bersiaplah menjadi orang yang benar-benar terjahat didunia.
Terjahat? Benar, bagi seorang anak dan sekitarnya. Pikirkanlah anak anda (bukan anak saya, jelas) berjalan menurut langkahnya dengan biru di tubuhnya dan sakit menjadi teman hidupnya dan 'orang tua' lain melihat, penderitaan tersebut dan menggerutu kepada orang tua si anak, atau pilihan kedua, mencontohnya.
Belum cukup. Penderitaan kayu bukan hanya merusak tubuh, tapi jiwa si anak. Mujizat aja deh anak itu bisa lepas dari penderitaan psikologis yang disebabkan orang tuanya. Anak (karena saya juga seorang anak) akan mengalami minder, tidak mau bergaul sama sekali, menyimpan semuanya, pendiam, dan lama-lama jiwanya tertekan dan si anak menjadi anak yang agresif dan pemarah.
Ini lebih daripada itu. Hal ini akan terulang kembali pada generasi berikutnya, dan menjadi kutuk keluarga.
Kutuk keluarga ini nggak cuma sebagai orang tua yang ganas. Tetapi orang tua yang super duper sayang sama anaknya membuat anak menjadi liar dan itulah akhir hidup anda bila ini terjadi pada anda.
Mungkin saya termasuk orang yang beruntung saat ini ketika saya tidak sampai mendekam di neraka ketika "eksperimen" saya berhasil merasakan kematian.
Dan mungkin saya orang yang beruntung bisa bebas dari tekanan psikologis yang membuat saya menjadi orang yang sensitif.
Mungkin kayu adalah cara terbaik membuat anak anda berlaku benar, dan juga cara terbaik membuat anak anda adalah orang gila lebih awal.
Mungkin tongkat adalah jalan terbaik membuat anak anda menjadi orang yang menjauhi kesalahan, dan jalan terbaik menuju rasa frustasi dan kematian dini.
Tuhan menghajar kita dengan tongkat, sama seperti orang tua saya. Tetapi yang membuat berbeda adalah Ia menghajar, lalu menyembuhkan, Ia memukul dengan keras, tetapi sedetik kemudian Ia memeluk anda dan menangis dan berkata ribuan kali, "I love you, my darling." Orang tua saat ini bila keras lalu membiarkannya merasakan sakit adalah orang tua yang tidak berpengalaman menjadi seorang anak.
Saya bisa bilang begini berdasarkan hasil pikiran saya, bukan contekan, hasil pengamatan saya, dan kesimpulan yang saya ambil dari semuanya.
Saya bukan orang yang berpengalaman menjadi seorang orang tua, tetapi saya sedang menambah pengalaman menjadi seorang anak.
Orang tua memukul anak dengan tujuan sayang, kurasa itu salah sama sekali.
Sebelum saya mendapat jutaan komentar para orang tua, dengarkanlah penjelasan saya.
Orang tua memukul anak menimbulkan dua kesakitan, sakit di tangan dan sakit di anak. Anak merasakan dua kesakitan lagi, sakit di tubuh yang dipukul dan sakit hati yang menerima perlakuan tersebut.. Sakit hati menimbulkan dua kesakitan lagi, sakit hati yang menjadikan trauma dan sakit yang membuat mereka merasa diri tidak berharga. Sakit yang membuat anak tidak berharga membuat dua sakit bagi si anak. Sakit itu membuat anak, pertama, mengasihani diri sendiri, dan kedua, membuat anak membenci dirinya sendiri. Jadi, anak tidak mengalami sakit satu, tetapi, enam rasa sakit yang secara tidak sadar anak mengalami semuanya.
Kesimpulan, orang tua memukul anak itu adalah hal yang manusiawi sekali, tapi orang tua yang merasa dirinya milik Tuhan Yesus Kristus memukul anak, sedetik kemudian memeluk anak dan menangis serta ribuan kali mengatakan, "I love you, my darling, I love you so much"