Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Pemikiran Saya Tentang Cinta Manusia

manusia biru's picture

Baru-baru ini berita tentang Ade Sara ramai dibicarakan. Seorang cewek yang meninggal karena dibunuh oleh sepasang kekasih, yang konon mereka pernah menimba ilmu di bawah atap sekolah yang sama (semasa SMU). Zaman sekarang ini, kejadian semacam ini hampir-hampir tidak mengagetkan karena entahlah ... mungkin salah satunya karena sudah terlalu sering mendengar berita tentang kematian seseorang karena dimutilasi/dibunuh dengan cara yang lainnya. 



Sebenarnya saya tidak akan membahas tentang hal bunuh-membunuh. Saya cuma heran saja kenapa CINTA seseorang bisa membuatnya melakukan hal yang sadis seperti itu. Padahal kalau kita berkaca kembali dari CINTA Allah kepada umat-Nya, yang notabene penuh dengan dosa ini, Allah masih memberikan kasih terbesarnya bagi umat-Nya,  dengan memberikan anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus. Sayang sekali kata yang cantik dan romantis ini "CINTA" harus dihiasi dengan bermacam-macam sikap yang tidak menyenangkan.

Memang, tidak bisa dipungkiri bahwa cinta manusia itu memang hanya sebatas mata memandang, hati terpikat, dan sikap yang penuh gairah (entah gairah positif atau negatif) ... teoriku sih ... hehehehehe. Kecuali kalau memang seseorang sudah benar-benar memiliki konsep bagaimana seharusnya ia mengasihi/mencintai seseorang sesuai dengan yang ia dapatkan dari firman Tuhan.

Bicara soal CINTA memang agak sedikit rumit, bagi yang suka merumitkannya. :D Lalu, bagaimana denganc cinta Allah kepada umat-Nya? Apakah ini bisa dianggap rumit juga. Menurutku, bukan masalah rumit atau tidak, tetapi masalah kualitas hubungan. Yesus rela dan taat pada Allah agar hubungan manusia dan Allah menjadi pulih kembali. Kalau ini dibilang rumit atau tidak, wah tentu akan sangat rumit sekali di hati Yesus ... hehehe ... bayangin saja Ia harus menebus dosa sekian banyak orang, Ia harus minum cawan yang sebenarnya sangat sulit untuk Ia lakukan. Ya .... Yesus sangat taat pada Allah hingga Ia mau melakukannya. Jadi, ini masalah taat atau tidak dan untuk tujuan mulia.

Saya pikir cinta manusia pun harus seperti ini: taat dan untuk tujuan mulia, memuliakan Allah. Taat firman Tuhan dan untuk memuliakan Allah, yang memberikan bahkan mencurahkan rasa cinta itu kepada manusia. Kembali lagi kepada manusia, yang notabene punya kehendak bebas untuk menentukan/mengambil keputusan. Kalau memang seseorang tidak bisa mengambil keputusan yang tepat sesuai keinginan-Nya, yah ... pastilah keinginan diri sendiri yang diambil dan dilakukan, dan biasanya akan berakibat tidak baik.

Sekilas pemikiran dan perenungan saya tentang cinta ... saya sangat bersyukur karena Allah mengasihi/mencintai saya.