Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Natal

victorc's picture
"Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima." - Kis. 20:35

Shalom, selamat pagi saudaraku. Selagi masih masa Advent, izinkan saya berbagi sedikit cerita tentang kelas yang saya asuh semester ini. 
Terinspirasi kisah yang saya baca beberapa tahun lalu tentang seorang ibu yang mengikuti matakuliah sosiologi di sebuah kampus di Jerman, lalu profesornya memberi tugas untuk tersenyum kepada orang-orang yang ia jumpai, maka saya terdorong untuk memotivasi mahasiswa di kelas Agama Kristen untuk mulai lebih peduli kepada orang-orang yang memerlukan.

Tugas
Lalu saya memberi suatu tugas sederhana kepada para mahasiswa di kelas saya, dengan tujuan agar mereka berani berinteraksi dengan orang lain. Bukankah kekristenan adalah tentang kepedulian dan kasih kepada sesama? Jadi saya berharap mahasiswa belajar mempraktekkannya di luar kelas.
Tugas yang saya berikan sederhana saja: "buatlah hadiah sederhana senilai rp. 20.000,- dan berikanlah sebagai kado Natal kepada orang yang paling memerlukan yang kalian temui."
Tentu ada imbalan yang saya janjikan supaya mereka termotivasi, yaitu saya akan memberikan nilai A untuk UAS mahasiswa yang melakukan tugas ini dengan baik.
Setelah seminggu, ada beberapa kertas laporan yang masuk. Memang tidak banyak mahasiswa yang melakukan tugas ini, tapi tidak apa. Berikut ini saya bagikan salah satu laporan dari mahasiswa saya.

Percakapan
Salah satu kertas laporan yang masuk berisi dialog menarik sebagai berikut:
Pengemis kecil (P): "Kak, sedekahnya kak. Saya seharian belum makan." - Anak tersebut mengatakan begitu.
Saya (S): "Adek belum makan seharian ya?" 
P: "Iya kak, seharian saya belum makan. Laparrr!" - dengan muka yang menunduk.
S: "Ini dek, kakak ada sedikit makanan dan juga uang 20.000 buat adek tapi ga banyak." Dan kelihatan anak tersebut benar-benar lapar dan belum makan.
P: "Iya kak, gak apa-apa. Terimakasih banyak ya kak. Semoga dengan kedatangan hari raya Natal ini, kakak selalu mendapat rido dari Tuhan yang Maha Esa dan mendapat rezeki yang melimpah."
S: "Iya dek, sama-sama. Oh ya, adek tinggal di mana ya?"
P: "Saya tidak punya rumah kak. Saya tinggal di bawah kolong jembatan."
S: "Apa orangtua adek masih ada?"
P: "Ayah saya sudah tiada kak, dan ibu saya bekerja sebagai pemulung di jalanan."
S: "Kasihan sekali nasib adek? Apa adek masih punya saudara-saudara yang lain?"
P: "Saya tidak punya saudara yang lain kak, saya hidup cuma dengan ibu saja kak. Dan saya sangat menyayangi ibu saya, kak."
S: "Oh begitu ya dek."
P: "Mungkin sudah begitu nasib saya kak. Ya sudah kak, terimakasih ya kak atas kebaikannya."
S: "Iya adek, oh ya sampai di rumah salam buat ibu ya?"
P: "Iya kak, nanti aku sampaikan."
S: "Iya adek."
P: "Kalau begitu aku permisi ya kak?"
S: "Iya adek, hati-hati di jalan ya?"
P: "Iya kak, selamat sore."

Penutup
Demikianlah percakapan singkat ini kiranya memberi inspirasi untuk memaknai Natal tahun ini dengan mulai lebih peduli kepada orang-orang yang memerlukan pertolongan di mana pun Tuhan mempertemukan kita dengan mereka. Marilah kita belajar menjumpai wajah Yesus di antara orang-orang yang paling terlupakan dalam masyarakat. Itulah ibadah Natal yang sejati.
Selamat merayakan hari kelahiran Yesus Kristus. 
Tuhan menyertai Anda semua. Amin.

Versi 1.0: 16 desember 2016, pk. 12:45
VC

Referensi:
(1) Jurgen Moltmann. The way of Jesus Christ: Christology in the Messianic dimension. London: SCM Press Ltd., 1990
__________________

Publikasi:
a. Sangkakala Sudah Ditiup (sept. 2016). Dapat dipesan melalui: http://nulisbuku.com/books/view_book/9035/sangkakala-sudah-ditiup
b. Menggugat Eisenman (Nov. 2016). Dapat dipesan melalui email: admin@nulisbuku.com
c. Http://independent.academia.edu/VChristianto