Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Mistisisme

victorc's picture
Teks: Roma 12:1
"Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati."

Shalom, selamat pagi saudaraku. Beberapa waktu yang lalu, ada seorang rekan di gereja yang bertanya: "Bolehkah seorang Kristen melakukan meditasi, yoga, atau teknik-teknik spiritualitas Timur semacam itu?" Jawaban sederhana saya waktu itu adalah: "boleh saja jika memang melakukan meditasi dll untuk alasan kesehatan atau relaksasi, dan bukan untuk mendalaminya sebagai alternatif terhadap doa dan cara-cara Kristen yang lazim."
Namun akhir-akhir ini saya mencoba merenungkan ulang perihal hubungan antara Kekristenan dan mistisisme yang kerap dihubungkan dengan spiritualitas Timur: Apakah dapat dibenarkan bagi seorang percaya untuk "melakoni" mistisisme Kristiani?

Apakah itu mistisisme?
Baiklah saya memperjelas sedikit diskusi ini dengan menyajikan suatu definisi dari Wikipedia: "istilah mistisisme berasal dari Yunani Kuno dengan beragam makna. Diturunkan dari akar kata muo, mistisisme mengacu pada dimensi-dimensi spiritual, liturgis, dan kontemplatif dari Kekristenan perdana dan abad pertengahan" (1).
Dalam hubungan ini, beberapa hari lalu saya bepergian naik kereta ke Jakarta, dan dalam perjalanan itulah saya melewatkan waktu untuk membaca buku yang sangat inspiratif karya Pdt. Joas Adiprasetya.(2) Dalam buku tersebut, beliau memberikan beberapa kosa kata baru yang sungguh segar dan menggelitik dalam konteks spiritualitas sehari-hari:
a. Sakramen dan sakramentali
b. liturgi ritual dan liturgi kehidupan
c. Kronologi dan kairologi
Saya tidak berpretensi telah memahami secara tuntas kedalaman pandangan beliau. Namun satu hal yang saya pelajari adalah bahwa liturgi yang kita jalani dalam ibadah setiap hari minggu itu sebenarnya baru menemukan makna sebenarnya dalam liturgi kehidupan, yakni seluruh aktivitas kita dari hari senin sampai sabtu. Itulah makna sesungguhnya dari persembahan yang hidup dalam Roma 12:1. Artinya seluruh hidup dan karya kita hendaknya menjadi persembahan syukur yang harum ke hadirat Bapa yang Maha Kasih.
Namun memang makna spiritualitas atau mistisisme sehari-hari itu tidak mudah dipahami, mari kita lihat alasannya.

Von Harnack
Meskipun dalam sejarah Calvinisme dapat ditelusuri tentang spiritualitas yang diwariskan oleh Johannis Calvin (3), namun dalam perkembangannya para teolog besar abad ke-19 seperti von Harnack menganggap mistisisme itu sebagai suatu "dilettante."(5) Saya mencoba mencari makna dari istilah itu, dan hanya menemukan padanan sebagai berikut: - penggemar
- pencinta kesenian
- amateurish
Dengan kata lain, para teolog besar itu menganggap minat akan aspek mistis dari Kekristenan itu bagaikan minat para amatir akan seni rupa atau seni lukis, yang tidak akan dipersoalkan oleh para pelukis dan perupa yang sebenarnya.
Namun, kita pantas berhenti sejenak dan bertanya: benarkah tuduhan amatir kepada orang-orang yang menggumuli mistisisme Kristen tersebut?

Teresa dari Avila
Pertanyaan ini membawa saya dan beberapa teman untuk mengunjungi pertapaan Karmel, dua hari lalu.* Kami berempat meluangkan waktu untuk melihat sendiri dari dekat suasana mistis dan kontemplatif di pertapaan yang berlokasi di desa Ngadireso, Tumpang, sekitar 20 kilometer dari kota kami. 
Pertapaan yang dirintis oleh Romo Johannes sejak tahun 1980an itu, tampaknya mencerminkan kesungguhan para suster yang menjadi biarawati di situ untuk menerapkan olah spiritualitas yang mendalam. Saya mendapat kesan bahwa Romo Johannes agaknya cukup terpengaruh oleh mistikus bernama Teresa dari Avila, yang terkenal karena karyanya Puri Batin. Buku-buku terjemahan Puri Batin tersedia di toko buku di pertapaan tersebut, dan saya sempat memperoleh satu buku tentang tahapan doa menurut Puri Batin.(4) Saya juga mendengar bahwa di situ ada ladang pertanian yang disebut "Padang Gurun," di mana para biarawati menanam sayur-mayur, kentang dan buah-buahan. Yang unik di sini adalah, setiap kali mereka mengayunkan cangkul, mereka menyebut nama Yesus dalam satu tarikan nafas. Sehingga karya pertanian mereka menyatu dengan olah spiritual mereka.
Meskipun kami tidak sempat berdialog langsung dengan para suster di situ, kami menyempatkan untuk berdoa syafaat di kapel utama di situ. Sangat terasa suasana hening yang menyejukkan saat kami berdoa dalam kapel.

Penerapan dan penutup
Jika kita merangkum diskusi kita mulai dari karya pak Joas, pemikiran von Harnack, dan juga Teresa dari Avila, tampaknya mistisisme Kristen tidak perlu dijauhi sebagai suatu upaya amatiran. Malah ia merupakan bagian dari spiritualitas yang hidup dan menyatu dengan lakon hidup sehari-hari.
Saya belajar untuk lebih menghayati bagaimana menjumpai wajah Yesus melalui berbagai kegiatan yang sekilas nampaknya tidak berhubungan, seperti:
- melayankan ibadah di lapas
- mendoakan pemuda yang bertengkar dengan ortunya
- rapat penatua
- mengajar anak-anak sekolah minggu
- berdialog tentang akhir zaman melalui grup online
- berdiskusi tentang matematika dan kosmologi dengan rekan sejawat melalui email**
- belajar menyanyikan pujian baru bersama ibu-ibu lansia.
Bahkan saya mesti mengakui, bahwa berlatih lagu baru itu tidak kalah sulitnya dengan berkhotbah. Apalagi suara para lansia tersebut terdengar jauh lebih merdu dibandingkan suara saya. Namun dari situlah saya belajar setahap-demi setahap dalam olah mistis-spiritual melalui liturgi kehidupan sehari-hari....

Bagaimana pendapat Anda?

Versi 1.0: 24 Maret 2017, pk. 23:19
VC

Note: 
*trimakasih kepada Ardy, Chung Pao, Ling Ling.
**Jika Anda berminat membaca paper terbaru kami tentang interpretasi akustik terhadap ruang dan jagad raya, lihat (6)(7).

Referensi:
(1) https://en.m.wikipedia.org/wiki/Mysticism
(2) Joas Adiprasetya. Labirin Kehidupan: Spiritualitas sehari-hari bagi peziarah iman. Jakarta: BPK, 2016
(3) Irwan Pranoto. Relevansi konsep spiritualitas Calvin dalam konteks masa kini. Jurnal Veritas Vol. 6 No. 1, 2005, p. 57-72
(4) Arsenius Viccar. Tahap-tahap doa didasarkan pada buku Puri Batin karya Teresa dari Avila. Pertapaan Shanti Bhuana, 2016
(5) B. McGinn. Mysticism and the Reformation: a brief survey. Acta Theologica 2015 35(2):50-65
(6) Victor Christianto. Prespacetime Journal. 2017. Url:  http://prespacetime.com/index.php/pst/article/view/1198/1182
(7) Victor Christianto. url: http://www.vixra.org/abs/1703.0067
__________________

Publikasi:
1. Sangkakala Sudah Ditiup (sept. 2016). Dapat dipesan melalui: http://nulisbuku.com/books/view_book/9035/sangkakala-sudah-ditiup
2. Menggugat Eisenman (Nov. 2016). Dapat dipesan melalui email: admin@nulisbuku.com