Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Mimpi yang Tak Pernah Mati

Lily Ika Loesita's picture

 

Siang tadi mantan guru Mandarin saya datang mengunjungi saya. Dia datang spesial untuk membawakan oleh-oleh dari China untuk saya. Selain untuk membawakan oleh-oleh, dia juga dengan penuh semangat bercerita tentang pejalanannya ke China, serta menunjukan foto-fotonya saat dia berada di China. Dia sangat mengagumi pemandangan yang dia lihat di China, dan sambil bercanda dia berkata: "Latar belakang pemandangannya cantik sekali, sayang orangnya tidak cantik". Tetapi memang benar apa yang dikatakan guru saya itu, karena yang menjadi "model" di foto-foto tersebut adalah guru saya yang sudah berusia 75 tahun, dengan 2 orang temannya yang usianya sebaya dengan dia. 3 orang nenek dari Indonesia yang berfose dengan latar belakang pemandangan China yang indah.

 

Mungkin bagi kebanyakan orang pergi ke luar negeri adalah suatu hal yang biasa. Tetapi bagi guru saya dan saya, kepergiaannya ke China selama 2 minggu ini adalah sesuatu yang luar biasa. Bagi guru saya, kepergiaan ke China ini adalah penggenapan dari impian seumur hidupnya. Sedangkan bagi saya, kepergian guru saya ke China ini adalah sebagai bukti kasih Tuhan, bahwa Tuhan sanggup menjadikan mimpi kita menjadi kenyataan, betapapun mustahilnya itu, dan betapa lamanya kita harus menanti, namun pada saatnya Tuhan akan menjadikan segala sesuatunya indah.

 

 

Sejak saya mengenal guru Mandarin saya 14 tahun yang lalu, dia selalu mengatakan bahwa dia ingin mengunjungi China. Dia ingin melihat desa kelahiran orang tuanya di propinsi Fujian, serta ingin bertemu dengan keluarga di sana. Tapi karena masalah ekonomi, guru saya belum bisa mewujudkan keinginannya untuk pergi ke China. Setiap kali dia selalu berkata: "Mungkin tahun depan laoshi* akan ke China". Tetapi tahun demi tahun berlalu, tapi guru saya ini tidak juga berangkat ke China. Meskipun saya yakin dia pasti menabung untuk mewujudkan impiannya itu.

*laoshi berarti guru

 

Tetapi seperti kata pribahasa "malang tak dapat ditolak". Pada tahun 2008, adik perempuan guru saya tiba-tiba sakit. Diagnosa dokter bermacam-macam, mulai dari pengentalan darah, batu empedu, sampai strok. Bermacam-macam pengobatan dan terapi pun dilakukan, tapi keadaannya tidak membaik, bahkan semakin lama bertambah buruk. Guru saya hanya hidup berdua dengan adiknya ini, karena mereka dua kakak beradik yang sama-sama tidak menikah. Karena itu, guru saya yang harus menanggung semua biaya pengobatannya. Lebih parahnya, akhirnya dokter mendiagnosa penyakitnya sebagai kanker pankreas dan harus dioperasi. Maka guru saya yang harus menjaga adiknya selama di rumah sakit, dan setelah kembali ke rumah. Akibatnya guru saya terpaksa harus melepas semua muridnya, karena dia tidak bisa mengajar lagi, sebab harus merawat adiknya yang sakit. Biaya pengobatan harus terus berjalan, namun tidak ada lagi penghasilan, akibatnya guru saya terpaksa berhutang. Pada tahun 2011 adiknya akhirnya meninggal dunia. Meninggalkan guru saya seorang diri menanggung hutang. Dan bersama kematian adiknya, mati pula impian guru saya untuk melihat China.

 

Sejak saat itu guru saya tidak pernah lagi menyinggung tentang pergi ke China. Hari-harinya hanya berisi kesedihan dan air mata. Kata-katanya hanya berisi keputusasaan. Dia merasa kesepian, dan takut menghadapi hari esok, karena tidak ada lagi yang bisa diharapkannya untuk merawatnya jika kelak dia sudah tidak kuat lagi. Tapi hidup harus terus berjalan. Dan seberapa pun sulitnya, kita harus terus menjalani hidup ini.

 

Di awal tahun ini, tiba-tiba suatu hari dia menelpon saya. Dengan penuh semangat dia berkata bahwa temannya mengajaknya ke China, dan menyuruhnya untuk mengurus paspor. Temannya yang akan menanggung semua biayanya. Dan karena temannya akan tinggal di rumah keluarganya di China, maka tidak diperlukan biaya untuk hotel. Akhirnya, berangkatlah guru saya ke China. Mimpinya yang seolah-olah telah mati, ternyata tidak pernah mati. Di waktu yang tidak terduga, mimpi yang tampaknya telah mati itu pada akhirnya menjadi kenyataan.

 

Kesaksian yang sederhana ini menguatkan juga mengingatkan saya, bahwa Tuhan peduli bahkan sampai mimpi-mimpi kita yang terkecil sekalipun. Mungkin saat ini ada diantara kita yang memiliki impian yang rasanya mustahil untuk terjadi. Mungkin kita sudah bertahun-tahun mengharapkan sesuatu, tetapi sampai saat ini hal tersebut belum kita dapatkan, bahkan rasanya semakin jauh dari jangkauan kita. Mungkin yang menjadi mimpi kita adalah pasangan hidup yang tepat. Mungkin yang menjadi mimpi kita adalah keluarga yang harmonis dan saling mengasihi. Mungkin yang menjadi mimpi kita adalah sekolah yang lebih tinggi lagi. Mungkin yang menjadi mimpi kita adalah kesembuhan. Mungkin yang menjadi mimpi kita adalah perbaikan secara ekonomi. Atau bahkan yang menjadi mimpi kita hanyalah sekedar pergi ke luar negeri seperti guru saya. Dan makin lama kita merasa semakin sulit untuk mewujudkan impian tersebut. Namun, tetaplah bermimpi, karena Tuhan sanggup untuk membuat mimpi-mimpi kita menjadi kenyataan.

 

Pada saat Yesus mati di kayu salib, harapan semua murid-muridNya seolah juga mati bersamaNya. Mesias yang akan membebaskan bangsa Israel telah mati. Tidak ada lagi harapan bagi bangsa Israel. Namun, Mesias yang dikira telah mati itu, ternyata bangkit pada hari ke 3, dan kebangkitan Kristus bukan hanya membawa harapan baru bagi bangsa Israel, tetapi juga bagi seluru dunia. Impian yang sudah kita kira mati, akan Tuhan bangkitkan untuk membawa kemuliaan bagi namaNya.

 

Alkitab berkata: Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang. (Amsal 23:18)

Sungguh sebuah janji Tuhan yang luar biasa bagi kita anak-anakNya. Dan janji Tuhan adalah Ya dan Amin. Tuhan tidak pernah gagal dalam menepati janjiNya. Apa yang Tuhan firmankan pasti akan digenapi. Karena itu, jangan pernah lepaskan impian dan harapan kita. Sebab pada waktunya, Tuhan akan mewujudkan impian kita dengan cara yang luar biasa. Bermimpilah setinggi langit, agar Tuhan dapat menangkapnya dan menjadikannya kenyataan!

 

Tuhan Yesus Memberkati

 

jesusfreaks's picture

@lily Ika : Saya juga masih terus memegang impian saya.

Selama saya masih bernafas mudah mudahan saya masih memegang impian saya. untuk sekolah teologi, sekolah hukum, jadi pendeta suatu gereja (mungkin bangun gereja sendiri), jadi pengacara, Jadi penyanyi suatu band, jadi WL, jadi aktor, dan masih banyak impian lainnya, termasuk impian saya buat orang orang lain. Kelihatannya sih rakus, tapi mudah mudahan itu menjadi bahan bakar motivasi hidup saya.

Tapi impian impian itu saya anggap kuk dan beban yang ringan, artinya kalaupun nanti tidak jadi kenyataan, TIDAK APA APA. TIDAK APA APA. (sambil menyilangkan kedua tangan dan mengoyangkannya ke kanan dan kekiri)Laughing

Terima kasih atas tulisannya yang kembali mengingatkan saya soal impian impian.

__________________

Jesus Freaks,

"Live X4J, Die As A Martyr"

-SEMBAHLAH BAPA DALAM ROH KUDUS & DALAM YESUS KRISTUS- 

Lily Ika Loesita's picture

Semoga Tuhan mewujudkan apa yang menjadi impian Anda.... Saya ju

Semoga Tuhan mewujudkan apa yang menjadi impian Anda.... Saya juga terus memegang impian saya bahwa suatu hari saya akan sembuh dan dapat berjalan kembali... Lebih baik kita terus berharap, meskipun pada akhirnya tidak mendapatkan apa yang kita harapkan, daripada tidak pernah berharap sama sekali... maju terus, dan Tuhan memberkati