Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Matrix

victorc's picture
"Pada waktu itu akan tampak tanda Anak Manusia di langit dan semua bangsa di bumi akan meratap dan mereka akan melihat Anak Manusia itu datang di atas awan-awan di langit dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya." Mat. 24:30

Shalom, selamat pagi saudaraku. Para pembaca yang mengalami masa remaja atau beranjak dewasa sekitar tahun 2000an, pasti suka dengan aksi keren Keanu Reeves dan Lawrence Fishburne dalam The Matrix karya Wachowski bersaudara. Dan, hari minggu malam yang lalu saya baru menyelesaikan satu buku baru yang idenya antara lain berasal dari trilogi The Matrix. Nah, buku saya ini mengadopsi judul film tersebut, hanya bedanya tokoh utamanya bukan Neo tapi Yesus. Judul buku tersebut adalah "Christology Reloaded." Lihat (1).

Padat
Memang, seperti diulas dalam buku Chris Seay dan Gregg Barrett (2), The Matrix adalah film yang padat (dense) dengan metafora. Kita seperti dibenturkan begitu saja dengan berbagai mitologi, kisah spiritual, teologi, filsafat, bahkan posmodernisme. Ada nama-nama eksotis seperti Neo, Nebuchadnezar, Trinity, Oracle dll. 
Inti cerita film The Matrix adalah bahwa kehidupan yang dialami tokoh-tokohnya sebenarnya hanyalah suatu simulasi komputer belaka, yang disebut The Matrix. Idenya mirip dengan konsep "simulacra" yang bisa kita temukan dengan mudah dalam literatur posmodernisme. Persoalannya adalah bahwa realitas virtual atau simulakra itu begitu memukau dan membius, sehingga orang lupa bahwa keadaan manusia yang sebenarnya jauh lebih buruk dari itu. Mereka harus berjuang antara hidup dan mati melawan mesin-mesin. 

Singularitas teknologi
Ya, gambaran masa depan yang ditawarkan oleh Wachowski bersaudara ini boleh disebut sebagai distopia, lawan kata dari utopia. Distopia berarti gambaran yang suram tentang masa depan, misalnya dilukiskan bahwa manusia mesti berjuang melawan mesin-mesin yang mengontrol. Tema ini juga kita jumpai dalam film-film populer lain seperti "Terminator" dan "I Robot."
Memang banyak di antara para futuris (para pemikir masa depan manusia) yang meramalkan bahwa suatu saat nanti kecerdasan mesin-mesin akan melampaui kecerdasan manusia. Titik ini disebut sebagai singularitas teknologi. Dan hal ini terjadi karena kecerdasan buatan (artificial intelligence) cenderung berkembang pesat dalam beberapa dekade terakhir, sementara kecerdasan manusia cenderung statis sejak puluhan abad yang silam. 
Artinya, mesin-mesin cenderung makin pintar. Salah satu buktinya, saat ini para pembaca yang berusia di atas 40 tahun mungkin sekali merasa kewalahan untuk menggunakan ponsel yang makin cerdas. Bagi para futuris, itu salah satu tanda-tanda awal menuju titik singularitas teknologi.
Memang tentang mesin-mesin yang menjadi makin pintar tampaknya tidak terelakkan, dan tampaknya hanya ada 3 pilihan bagi manusia: (a) konflik dengan mesin dan akhirnya kalah, (b) mengalahkan mesin, (c) berdamai dengan mesin. The Matrix tampaknya berusaha meyakinkan kita bahwa berdamai dengan mesin adalah pilihan yang paling rasional.
Namun ada juga yang optimis dan mengatakan bahwa bagaimanapun juga, mesin tidak akan mampu melampaui kecerdasan manusia, seperti kemampuan berpikir kreatif dsb. Salah satu pemikir yang berpendapat seperti ini adalah Roger Penrose, seorang matematikawan asal Inggris.
Pembaca yang tertarik untuk terlibat dalam diskusi seputar pertanyaan: apakah kecerdasan mesin akan dapat melampaui kecerdasan manusia, dipersilakan melihat artikel saya di Scientific God Journal (4).

Perbedaan
Namun memang ada pesan yang berbeda antara trilogi The Matrix dengan buku saya tersebut. Kalau dalam Matrix, pesannya adalah kita mesti berani menghadapi realitas, seburuk apapun itu. Sementara dalam buku saya ini, pesannya adalah bahwa memang mungkin mengembangkan model kosmologi yang terinspirasi dari Kristologi kosmik, dan bahwa Yesus Kristus adalah raja atas alam semesta.(3) 

Filipi 2:10
"supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi,"

Versi 1.0: 25 juli 2016, pk.22:01
VC

Referensi:
(1) Victor Christianto. Christology Reloaded. Url: http://vixra.org/abs/1607.0449
(2) Chris Seay and Gregg Barrett. The Gospel Reloaded. Pinon book, 2003
(3) Victor Christianto. Http://sabdaspace.org/kosmik
(4) Victor Christianto. Godel's incompleteness theorem, artificial intelligence, and human mind. Scientific God Journal, vol. 4 no. 8 (2013). Url: http://scigod.com/index.php/sgj/article/view/286/328
__________________

Dari hamba yang tidak berguna (Lih. Lukas 17:10)

Prepare for the Second Coming of Jesus Christ.