Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

KUE GANJEL REL dan ES KOMBOR

Purnomo's picture

           Suatu ketika di toko kue aku melihat kemasan roti bertuliskan “Koewih Tempo Doeloe Ganjelrel”. Astaganaga, kue masa kecilku masih ada sampai sekarang. Melihat price tag-nya, ternyata kue ini harus dimasukkan ke kategori bakery karena di atas 30 ribu rph. Padahal dulu ini adalah kue termurah di pasar tradisional, bahkan harganya di bawah jajan pasar. Tetapi demi nostalgia aku beli satu kotak.



 

          Roti yang ditaburi biji wijen ini teksturnya lembut karena ada rongga2 kecil di dalamnya yang menandakan dipakainya tepung terigu, baking soda dan telur. Yang dulu kerasnya bukan kepalang, sekarang empuk-puk. Yang masih sama adalah aroma gula aren, cengkeh dan kayu manis.

         Menelusuri rimba internet aku melihat adanya PEMBOHONGAN PUBLIK tentang Kue Ganjel Rel yang muncul karena ketidaktahuan saja.

         Pertama, kue Ganjel Rel adalah peninggalan Belanda karena nonik Belanda menggemarinya. Ini salah! Mana ada nonik Belanda makan kue ini kecuali yang tinggal di panti asuhan (Dulu Panti Asuhan di Semarang banyak nonik dan sinyonya lho). Tidak ada yang berani menulis, inilah kue yang menengarai jaman kemiskinan rakyat Indonesia karena semula dibuat dari GAPLEK. Kue ini dicetak di loyang berukuran 30 x 20 x 4 cm. Di lapak2 pasar tradisional lembar kue ini ditumpuk seperti kalau pedagang menumpuk lembar lilin untuk batik. Jika kita mau membeli, pedagang tanya berapa rupiah, baru kemudian dia ambil satu lembar, diletakkan di atas selembar papan dan memotongnya dengan pisau yang sisi tajamnya melengkung (untuk mengantisipasi kerasnya kue ini) dengan ukuran sesuai uang yang kita sodorkan. Sisi atasnya saat itu tidak ditaburi biji wijen sehingga potongan2 coklat tua empat persegi panjang itu betul2 mirip bantalan rel kereta api. Dari bentuk inilah kue itu mendapat namanya, kue GANJEL REL.

 

 

       Kedua, kue ini dulunya bernama Kue GAMBANG karena bentuknya seperti gambang. Ini juga salah. Dulu kue ini dicetak dengan loyang lebar. Mengapa tidak disebut Kue Ubin saja? Lagi pula mana ada nama yang sudah bagus (Gambang) diganti dengan nama jelek (Ganjel Rel)? Yang terjadi adalah, setelah dimodifikasi, khususnya mengganti gaplek dengan terigu dan diperkaya rasanya, roti ini dipasarkan di Jakarta dan Bandung dengan nama apik, Kue Gambang. Kalau tetap pakai nama Ganjel Rel pasti ‘not salesable’ apalagi harganya sudah kelas bakery.

             Aku ingat dulu mamaku berpesan, “Kalau makan ganjel rel sedikit2 saja sambil diselingi minum air. Pernah ada anak yang makan kue itu sekenyang-kenyangnya baru kemudian minum air. Kuenya mekar dalam perutnya sehingga perutnya meletus. Mati dia.”

            Ada satu postingan di internet yang bercerita tentang kue ini: -
          “Kenikmatan menikmati Ganjel Rel juga diungkapkan oleh Sarimah Shodiq (64) warga Kampung Pungkuran. Saat ia masih remaja, makan Ganjel Rel dicampur dengan es kombor menjadi kebiasaannya setiap hari saat jam istirahat ataupun pulang sekolah. ‘Roti Ganjel Rel dicelupkan ke dalam segelas es kombor, rasanya sangat nikmat. Kalau sekarang, dicelupkan kedalam susu coklat atau putih. Karena, es kombor sudah tidak ada lagi yang jualan,' ceritanya”.

           Embah puteri ini betul. Dulu aku tinggal dekat Pasar Dargo dan sering ke pasar itu membawa uang jajanku yang tidak seberapa. Aku beli sepotong Ganjel Rel lalu pergi ke pedagang Es Kombor yang pakai pikulan. Di ujung pikulan yang satu dia menggantungkan kaleng silinder yang diisi air ledeng (pasti tidak direbus terlebih dahulu) dicampur es batu, air kelapa dan sirup serta bubuk pewangi. Di sebelah mulut silinder seng itu dia letakkan panci berisi serutan kelapa. Di ujung lain pikulannya ada keranjang besar tempat persediaan es batu. Jadi Es Kombor itu adalah es sirup air mentah campur serutan kelapa. Murah, perihal sehat tidaknya itu tidak pernah terpikir olehku, yang penting bisa minum yang dingin karena jaman itu belum ada kulkas.

          So? Kue Ganjel Rel Edisi Perdana dan Es Kombor sudah tidak ada lagi, bahkan gambar2nya juga tidak berhasil aku temui di internet, sudah jadi sejarah.

 

         Seperti juga halnya dengan Gereja Edisi Boksu¹) yang sudah lama berlalu, walau masih ada yang merindukan bisa menikmatinya kembali saat ini.


         “Duluuuuu, menjelang Perjamuan Kudus (PK) para penatua mendatangi rumah anggota jemaatnya. Tidak hanya untuk mengantar kartu undangan PK, tetapi bertanya kepada ybs apa punya masalah yang perlu didoakan. Kemudian bertanya apa di rumahnya ada yang belum terima Yesus. Lalu meminta seisi rumah berkumpul, kemudian dia membacakan catatan renungan singkat dan menutupnya dengan doa untuk ybs dan seisi rumahnya. Mengapa sekarang kegiatan yang bagus itu tidak dilakukan?”


        “Kalau itu dipraktekkan kembali mana ada orang yang mau jadi penatua?”tanyaku.
        “Tapi ‘kan bisa dimulai pelan-pelan?” dia ‘ngeyel’.
        “Daripada menyuruh orang lain, mulailah dari dirimu sendiri,” jawabku. “Tidak dilarang kok kalau kamu mengunjungi anggota gereja ini untuk mendoakan masalah2 mereka. Aku dulu pernah melakukannya walau sendirian.”

        “Dulu? Berarti sekarang tidak lagi? Mengapa?”
        Aku tak ingat apa jawabanku. Tetapi walau dulu aku sangat menggemarinya, apakah bila Ganjel Rel Edisi Perdana dan Es Kombor Original Version-nya hari ini disodorkan kepadaku, aku bisa menyantapnya tanpa kuatir kena muntaber?

       

¹) boksu = panggilan kepada pendeta di gereja etnis Tionghoa di jaman dulu.


              ** Semarang, 16.05.2016

 

DAN-DAN's picture

es kombor

Hahaha. Waktu baca judulnya aja sudah tau ini pasti Semarang. Dulu waktu kecil sya sering beli es kombor di gang baru, sambil menemani Mama belanja di pasar gang baru. Laughing

__________________

Saya Suka Bebek Panggang...