Shalom, selamat pagi saudaraku. Ada yang menanyakan tentang mengapa kita tidak boleh mengkritik segala hal? Di mana batas-batasnya?* Artikel ini ditulis untuk menjawab pertanyaan tersebut, namun dengan membatasi diri dalam ranah studi biblika dan hermeneutik. Batasan ini saja sebenarnya sudah sangat luas cakupannya.
Keterbatasan rasio
Suatu kritik biasanya adalah hasil dari olah pikir atau rasio. Menurut para ahli, fungsi kritik biasanya didominasi otak kiri, sementara otak kanan lebih berorientasi ke pemikiran kreatif / holistik. Selain itu, dalam ilmu hermeneutik, rasio berfungsi dengan mengandaikan serangkaian dalil yang disebut pra-anggapan. Jadi alurnya adalah sebagai berikut:
Pra-anggapan --> rasio --> kritik
Dari alur di atas kiranya jelas bahwa suatu kritik senantiasa bertolak dari pra-anggapan atau asumsi tertentu. Dan hal ini bisa dikonfrontir dengan data, misalnya dengan merujuk pada dokumen-dokumen sejarah primer. Misalnya, banyak orang khususnya kalangan non-kristen berpraduga bahwa Alkitab sudah diubah (dipalsukan), dan tidak ada lagi naskah Alkitab yang asli.
Namun, temuan-temuan arkeologis telah menunjukkan bahwa: a. Naskah PL tetap sama walaupun berselang waktu hampir 1000 tahun (lihat Naskah Laut Mati tentang kitab Yesaya dll), b. Naskah-naskah tertua PB sudah ditemukan, dan tarikhnya berselang hanya belasan tahun dibandingkan dengan tahun penulisannya. Artinya naskah-naskah tertua PB sangat dekat dengan dokumen aslinya. Jadi tidaklah benar tuduhan bahwa naskah-naskah Alkitab telah dipalsukan (forgery), seperti sering dituduhkan misalnya oleh Bart Ehrman dalam buku-bukunya. (3)
Dengan kata lain, kritik-kritik yang liar cenderung menghasilkan pemikiran-pemikiran yang ahistoris dan tidak berdasar.
Namun, jika kritik diletakkan pada proporsinya, misalnya pada metode kritik historis, maka metode ini cukup berguna untuk memperoleh pemahaman akan teks-teks Alkitab yang sulit (Verstehen). Tentunya, metode kritik historis mengandaikan bahwa Alkitab cukup bisa diandalkan dan dipercaya. Lihat artikel Prof. Ian Howard Marshall. (1) dan juga buku Eldon Epp & Gordon Fee tentang kritik teks (textual criticism). (5)
Sebaliknya, jika kritik ditujukan bukan untuk memperoleh pemahaman, namun hanya kritik untuk membongkar segala hal secara radikal, itu yang disebut "radical criticism." Misalnya jika Anda beranggapan bahwa Yesus tidak pernah ada dalam sejarah, seperti pandangan Marx & Engels. Itu sebabnya kaum Marxis mengambil posisi sebagai ateis.
Jika Anda dengan sengaja mengambil posisi seperti itu, maka itu berarti Anda tidak termasuk sebagai orang Kristen lagi.
Namun, jika Anda ingin sedikit mempelajari tentang teori kritis atau Mazhab Frankfurt, silakan lihat misalnya (4).
Ilustrasi
Izinkan saya menyampaikan sebuah ilustrasi kuno yang mungkin berguna dalam konteks ini:
Seorang anak muda sedang berburu di hutan, tapi tiba-tiba dada kirinya terkena peluru dari pemburu yang lain. Ia jatuh rebah dan merasa hampir mati. Lalu seorang pertapa menemukan dia, dan bermaksud menolongnya. Namun pemuda itu berkata: "Tolong cari siapa orang yang menembak saya, dan apa maksudnya?"
Pertapa itu lalu menjawab, "Anakku, kamu hampir mati tapi kamu menolak untuk ditolong sebelum kamu tahu berbagai jawaban: siapa yang menembakmu, dengan peluru apa kamu ditembak, dan kenapa dia menembakmu. Bukankah lebih baik kamu membiarkan saya mengobatimu, supaya lukamu tidak membawamu pada kematian?"
Demikianlah, kiranya ilustrasi di atas dapat berguna. Pesannya adalah bahwa Yesus Kristus datang ke bumi untuk menyelamatkan manusia berdosa, dan bukan untuk beradu argumentasi. Lagipula hati memiliki logikanya sendiri, yang akal tidak dapat menjangkaunya. Artinya fenomena spiritual seperti iman dan keselamatan berada di luar jangkauan rasio.
Versi 1.0: 25 juni 2016, pk. 12.18
VC
* artikel ini ditulis untuk dan-dan
Referensi:
(1) Ian Howard Marshall. Historical criticism. Url: http://www.biblicalstudies.org.uk/pdf/nt-interpretation/nti_7_historical-criticism_marshall.pdf
(2) https://en.m.wikipedia.org/wiki/Verstehen
(3) Bart D. Ehrman. Forged. HarperCollins ebooks.
(4) Bob Cannon. Rethinking the normative content of the critical theory. New York, Palgrave, 2001.
(5) Eldon J. Epp & Gordon D. Fee. Studies in the Theory and Method of New Testament Textual Criticism. Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans Publ. Co., 1993.