Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Ikutlah

victorc's picture
Teks: Efesus 1:18
"... Agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya."

Shalom, selamat pagi saudaraku. Pagi ini, saya bersaat teduh menggunakan renungan Oswald Chambers dalam versi app. Hari itu renungannya adalah mengenai panggilan kita sebagai pengikut Kristus (Ef. 1:18). Pokok yang disampaikan adalah menghadapi kesukaran. 
Kalau kita mencari kata "panggilan" dalam seluruh PL dan PB, hanya ada 12 ayat di mana terdapat kata itu. Semuanya menarik, namun terutama yang menarik adalah ayat Ef. 1:18. Apakah maksudnya frase "pengharapan dalam panggilan-Nya"? Dan bagaimana pengharapan itu berhubungan dengan cara kita menghadapi kesukaran sebagai umat percaya?
Oswald Chambers menulis bahwa kesukaran bagi umat percaya mestilah dilihat sebagai kesempatan untuk memanifestasikan hidup Yesus dalam hidupnya (lih. 2 Kor. 4:10). Dalam kalimat lain, kesukaran yang kita alami menjadikan kita bersinar sebagai murid Kristus, dan dengan cara itulah Tuhan dipermuliakan. Lalu bagaimana caranya agar kita dapat tetap bertahan sebagai murid Yesus? Dalam hubungan ini saya teringat dengan sesi penutup IDMC 2017 bulan april lalu, yang disampaikan oleh Rev. Edmund Chan.*

Penutup Injil Yohanes
Rev. Edmund mengatakan, bahwa secara struktur sastra, Injil Yohanes sangat baik jika diakhiri di Yohanes 20.(1) Jika saya penulisnya pun, saya akan memilih klimaks pada Yohanes 20:30-31sebagai tempat yang bagus untuk mengakhiri Injil tercinta ini:

    30  Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini,  
    31  tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.  

Jadi mengapa Injil itu tidak berakhir di sana saja?
Rev. Edmund menawarkan suatu penafsiran yang luar biasa: Itu karena Injil tidak ditulis agar menjadi luar biasa dalam struktur tulisan harafiahnya, melainkan agar menjadi luhur dalam wahyu ilahinya.(1) Tentu ada tujuan luar biasa untuk penulisan Yoh. 21.
Bagi Rev. Edmund, Yoh. 21 merupakan kunci untuk memahami tidak saja pemulihan dan panggilan kerasulan bagi Petrus, namun juga kunci untuk memahami tujuan kemuridan yang sejati.

Panggilan kemuridan sejati
Mari kita lihat cuplikan percakapan Yesus dan Petrus dalam Yohanes 21: 

    18  Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki."  
    19  Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: "Ikutlah Aku."  
    20  Ketika Petrus berpaling, ia melihat bahwa murid yang dikasihi Yesus sedang mengikuti mereka, yaitu murid yang pada waktu mereka sedang makan bersama duduk dekat Yesus dan yang berkata: "Tuhan, siapakah dia yang akan menyerahkan Engkau?"  
    21  Ketika Petrus melihat murid itu, ia berkata kepada Yesus: "Tuhan, apakah yang akan terjadi dengan dia ini?"  
    22  Jawab Yesus: "Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku."  

Dalam percakapan dengan Petrus, Yesus menguraikan bagaimana Petrus akan mati secara menderita dan dengan demikian memuliakan Tuhan. Mungkin Petrus tidak berani lagi membusungkan dada dan mengatakan bahwa ia akan membela Yesus mati-matian, seperti saat sebelum Yesus ditangkap. Ia paham akan kegagalannya. Ia juga paham bahwa ia sungguh-sungguh mengasihi Yesus, dan bahwa perkataan Yesus bernuansa profetik. 
Kini ia menjadi gundah, lalu dalam kegundahannya ia menoleh kepada murid yang dikasihi itu (Yohanes), lalu bertanya: "bagaimana dengan dia ini nanti?"
Seolah Petrus ingin mencari "penghiburan" jika saja ia tahu bahwa nasib murid-murid yang lain juga akan sama susahnya dengan dirinya.
Namun apa jawab Yesus? Yesus yang ahli dalam menyelidiki isi hati manusia tidak ingin berdebat tentang nasib murid-murid yang lain. Ia hanya berkata: "Bagaimana nasib orang lain, itu bukan urusanmu Petrus, yang penting adalah satu hal saja: Ikutlah Aku."
Apakah pelajaran yang bisa kita petik dari sini? Bukankah kita juga sering membanding-bandingkan hidup kita dengan hidup para murid Kristus yang lain? Jika hidup kita menderita dan melayani di gereja yang terpencil di desa, kita membanding-bandingkan dengan hidup para hamba Tuhan yang makmur di kota-kota besar dan seterusnya.
Tapi ayat hari ini mengingatkan kita, bahwa tugas kita adalah mengikut Yesus dengan setia, apapun yang terjadi. 

Jadi teringat sebuah lagu lawas:

Mengikut Yesus keputusanku...
Mengikut Yesus keputusanku...
Mengikut Yesus keputusanku...
Ku tak ingkar, ku tak ingkar

Tetap kuikut walau sendiri...
Tetap kuikut walau sendiri...
Tetap kuikut walau sendiri...
Ku tak ingkar, ku tak ingkar

Lagu ini konon ditulis untuk mengenang ungkapan iman sekelompok umat percaya di suatu daerah di Asia selatan. Mereka menolak untuk menyangkali Yesus, sekalipun dengan demikian mesti kehilangan nyawa mereka.
Itulah panggilan Yesus kepada semua murid-Nya, termasuk Anda dan saya: untuk setia mengikut Yesus, seberapapun terjal jalan yang harus ditempuh.

Penutup
Pada saat kita menyadari cara menghadapi kesukaran dengan ketekunan, Dia akan menjadikan kita sebagai roti yang dipecah-pecahkan dan anggur yang dicurahkan yang dengannya menjadi berkat bagi banyak orang. Panggilan kita sebagai murid adalah meneladan kehidupan sang Guru Agung kita, Yesus Kristus.

"Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah." (Yohanes 12:24)

Bagaimana pendapat Anda?

Versi 1.0: 15 mei 2017, pk. 10:38
VC

*Note: thank you so much for Rev. Edmund Chan for starting IDMC.

Referensi:
(1) Edmund Chan. Cultivating your inner life. Singapore: Covenant Evangelical Free Church, 2017. Hal. 177-185.
(2) John F. MacArthur. The Gospel according to Jesus. Grand Rapids: Zondervan, 2008, p. 25-37
__________________

"If You Want to Walk on Water, You've Got to Get Out of the Boat‎." - J. Ortberg

The Second Coming Institute