Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Christmas zaman now

victorc's picture

 

Sabtu petang ini (13/2/2018) di gereja kami ada perayaan natal komisi pemuda dan remaja. Acara cukup meriah dihadiri sekitar 35an pemuda, termasuk ada beberapa pemuda tamu dari beberapa gereja lain.

 

Perayaan Natal ini mengambil tema Christmas zaman now, dan renungan Natal dilayankan oleh Ibu Dr. Rini Handayani dari GKJW.[1]

 

Bu Rini membuka renungan dengan menyatakan bahwa kita sebagai pemuda Kristen sudah sering merayakan Natal, namun dengan cara kids zaman now. Jadinya ya Christmas zaman now, artinya memperingati kelahiran Kristus dengan sibuk main gawai dan update status.

 

Bahkan ketika menyalakan lilin Natal dan menyanyikan Malam Kudus, sering kids zaman now masih menyempatkan untuk eksis dengan cara “Nih gue lagi nyalakan lilin Natal..”

 

Jadinya ya kita tidak dapat apa-apa dengan Natal itu, meski kita sudah berpuluh kali Natalan.

 

Beliau mengajak semua peserta merenungkan kembali makna tema Natal PGI tahun 2017, terambil dari Kolose 3:15 [1]:

 

Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.

 

Beliau lalu mengajak kami, para peserta, untuk merenungkan apakah kita pernah mengalami damai sejahtera Kristus dalam hati ketika merayakan Natal?

 

 

 

Perenungan saya

 

Saya juga merasa tercenung dengan pertanyaan tersebut, memang seringkali kita merayakan Natal sebagai sesuatu yang memang merupakan acara rutin umat Kristen setiap tahun.

 

Namun puji syukur ke hadirat Bapa yang Maha Baik, sepanjang tahun 2017 saya memperoleh beberapa kesempatan untuk mengenal kasih Tuhan Yesus dalam berbagai kesempatan, misalnya dalam acara IDMC awal tahun lalu, saya berkesempatan mendengar sendiri dari Rev. Edmund Chan dan Rev. Joey Bonifacio [2][3].

 

Lalu sekitar November, ada serial seminar dari Rev. Jan Friso dari Kingdom Impact, dan tgl 1 Desember ada seminar tentang Gereja yang cair (liquid church) oleh Pdt. Dr. Robby Chandra.

 

Awal desember saya juga sempat berdiskusi cukup lama dengan Pak Robby Chandra.

 

Namun di antara berbagai acara menarik itu, saya sungguh mengucap syukur atas teguran dari Roh Kudus sekitar akhir Oktober, ketika itu saya mengalami sakit selama sekitar seminggu. Ternyata itu cara Tuhan mengingatkan saya akan panggilan saya sebagai hamba-Nya sejak 2009, namun dalam hal ini saya jauh lebih buruk dari kisah Nabi Yunus. Saya sering abai terhadap tugas tersebut, dan seringkali hanya ingin melarikan diri ke “Tarsis.” (Yun. 1:3). [6]

 

Puji syukur ke hadirat Bapa di sorga. Dia berkenan membarui panggilan-Nya, dan sejak tgl 21 oktober itulah saya mulai memahami makna sebenarnya dari lahir baru dari Roh Tuhan, seperti yang Yesus coba jelaskan kepada Nikodemus yang gagal untuk mengerti.

 

Sejak saat itu, saya sungguh mulai menekuni tugas panggilan saya, dan menyelesaikan sebuah buku berjudul: Apakah engkau mengasihi AKU?[4], lalu menyiapkan jurnal teologi di STT almamater saya.[7] Dan awal januari ini saya diperkenankan Tuhan Yesus yang Maha Baik untuk merampungkan sebuah buku lagi berjudul: Let the wind blow.[5]

 

 

 

Terpujilah Bapa di surga yang telah mengutus Putra Tunggal-Nya untuk mengangkut dosa manusia dan mengembalikan damai sejahtera ke bumi. Itulah makna Kolose 3:15 bagi saya. Sudahkah Anda mengalami damai sejahtera Natal yang sejati?

 

 

 

Versi 1.0: 13 januari 2018, pk. 23:05

 

VC

 

 

 

Referensi:

 

[1] http://alkitab.mobi/tb/Kol/3/15/

 

[2] http://sabdaspace.org/IDMC

 

[3] http://sabdaspace.org/perissos

 

[4] V. Christianto. Apakah engkau mengasihi AKU? Sebuah buku spiritualitas Kristen di era digital. (Desember 2017). Bisa diunduh secara cuma-cuma dari apps: TokoBuku.id (Mahoni) 

 

[5] V. Christianto. Let the Wind blow: Physics of Wave and Only Wave. (January 2018). Bisa diunduh secara cuma-cuma dari url: http://www.academia.edu/35627925/Let_The_Wind_Blows_PHYSICS_OF_WAVE_AND_ONLY_WAVE 

 

[6] http://www.golgothaministry.org/yunus/yunus-1_1-17.htm

 

[7] Jurnal Teologi Amreta, Edisi perdana, vol. 1, No. 1. Tema: Pentecostalism & Demonology. (Desember 2017). Bisa diunduh secara cuma-cuma dari url: https://www.academia.edu/35444374/Jurnal_Teologi_Amreta_vol.1_no.1_dec2017 

 

  

[1] Terimakasih kepada Ibu Dr. Rini Handayani, MPsi.

      

__________________

Dari hamba yang tidak berguna (Lih. Lukas 17:10)

Prepare for the Second Coming of Jesus Christ.