Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

BFF

victorc's picture
Teks: Ulangan 6:6-7
    6  Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan,  
    7  haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.  

Shalom, selamat pagi saudaraku. Banyak orang, khususnya para pria, rindu untuk menemukan sahabat sejati. Istilah populer mungkin: "best friend forever." Namun, setelah dewasa, apakah mereka juga rindu untuk menjadi ayah dan sahabat sejati bagi anak-anak mereka? ("best father forever").
Beberapa pria yang saya kenal agaknya lebih mengutamakan karir, jabatan, profesi atau apa pun namanya itu daripada keluarga. Bagi mereka, lebih penting jika mereka mengupayakan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, sampai mereka sering lupa memberikan waktu dan perhatian kepada anak-anak mereka. Bahkan saya mengenal seorang profesor matematika di Amerika yang saking asyiknya menulis bermacam buku, akhirnya istrinya minta bercerai. Dia juga kehilangan hubungan dengan anak-anaknya. 
Bahkan kabarnya ada semacam guyonan atau sindiran di Amerika, bahwa kalau Anda belum bercerai, itu tandanya Anda belum layak untuk dipromosi. Benarkah bahwa karir yang melesat berbanding terbalik dengan keutuhan keluarga?

Jobs
Beberapa waktu lalu saya menonton film "Steve Jobs." Tokoh Jobs yang karismatik diperankan oleh Michael Fassbender. Dalam film itu dilukiskan bagaimana Jobs yang begitu perfeksionis dan berkarir sebagai CEO perusahaan yang sedang menanjak bernama Apple, malah tidak mau mengakui putrinya sendiri sampai dewasa. Baru setelah dewasa, ia mengajak putrinya untuk mengikuti salah satu presentasinya yang fenomenal, dan dia menjanjikan untuk mengemas sekian ribu file musik dalam satu perangkat kecil. Itulah cikal bakal iPod.

Hubungan atau pencapaian?
Dalam konteks parenting, figur ibu biasanya lebih mengutamakan relasi (hubungan), sementara figur ayah lebih menekankan pencapaian (achievement). Namun benarkah stereotip tersebut?
Saya kira ayah pun bisa mengembangkan hubungan yang baik dengan anak-anak, jadi bukan sekadar menjadi sosok "breadwinner" yang serba misterius dan selalu absen dalam kehidupan anak. 
Beberapa hari terakhir ini, ada sahabat saya dan istrinya yang berkunjung ke kota kami. Istrinya yang bernama Elizabeth juga telah menjadi sahabat lama saya, dan dia kebetulan juga sedang studi pasca sarjana dalam bidang psikologi dan konseling. Lalu saya meminta Elizabeth untuk menuliskan beberapa tips dasar untuk mendidik anak, khususnya dari sudut pandang seorang psikolog dan konselor.

***
Berikut ini adalah beberapa tips dari Elizabeth, kiranya berguna bagi kita semua:

Merupakan mandat bagi setiap orangtua, namun peran orangtua dalam mendidik jaman ini bergeser. Tugas mendidik dioutsource kepada guru, guru les, pembantu, baby sitter, supir, tukang kebun bahkan satpam. Dengan pergeseran peran tsb dapat diperkirakan kualitas pendidikan yang dihasilkan tidak seperti yang diinginkan. Hal ini tidak dimaksudkan meremehkan siapa yang mendidik tsb. 
Orangtua cenderung menyerahkan pendidikan anak yang merupakan kewajibannya kepada orang lain. Mendidik anak menjadi hal yang tidak penting dan dianggap remeh sehingga tidak heran kemudian anak tidak melihat orangtua sebagai sosok yang dihormati, diteladani. Apa yang sedang terjadi? Mengapa mendidik menjadi sangat sulit bahkan di kota-kota metropolitan menjadi trend menjual seminar bagaimana menjadi orangtua... 
Apa yang perlu kita ketahui tentang mendidik itu sendiri?

Pertama yang perlu kita pahami yakni perintah mendidik anak diberikan oleh Allah dalam Ulangan 6:6-7 'mendidik dilakukan secara terus menerus, berulang-ulang dan berkesinambungan. Ini yang perlu dipahami bahwa mendidik membutuhkan teladan, kesabaran, waktu yang tidak sedikit serta konsistensi.

Dalam mendidik juga seyogyanya pertimbangan usia anak menjadi penting. Misal terhadap anak usia 0-6 tahun cara medidik yakni komunikasi satu arah. Anak membutuhkan instruksi sederhana dan jelas, membutuhkan instruksi dalam bentuk simbol atau gambar dan belum memahami konsekuensi dari sebuah tindakan sehingga teladan menjadi isyu penting. 
Berbeda dengan anak 7-11 th, mereka sudah mulai dapat diajak komunikasi dua arah. Ketika orangtua memberikan instruksi, anak mulai bertanya untuk apa, mengapa begini, mengapa begitu. Maka ketika orangtua menyediakan diri menjawab pertanyaan anak, menjelaskan apa yang ingin diketahui anak, kemampuan kognitif anak semakin berkembang. Simbol dan gambar tidak lagi dibutuhkan dalam fase ini. Dan menjadi pendorong yang baik bagi anak dalam usia selanjutnya. 
Diskusi orangtua-anak menjadi kekuatan dalam usia 11-17. Ini adalah masa anak melakukan uji coba. Peran orangtua bergeser, mendampingi anak dalam memberikan alternatif, opsi sekaligus menggambarkan konsekuensi yang dapat timbul dari setiap tindakan. Pada fase ini pula orangtua wajib menyediakan ruang untuk anak melakukan kesalahan. Dari pelajaran demi pelajaran yang dilalui anak, timbul pengalaman yang membentuk anak menjadi lebih bijak dalam mengambil setiap tindakan yang mengantar anak untuk mampu menghadapi tantangan kehidupan kedepannya.

Pada akhirnya 3 hal penting yang merupakan kunci bagi orangtua dalam mendidik yakni cinta, penerimaan dan penghargaan. Ketika ketiganya mampu dilakukan secara proporsional, konsisten dan bersama-sama oleh orangtua sebagai satu tim, mendidik bukan lagi beban namun pencapaian terbaik dalam hidup setiap orangtua.

versi 1.0: 9 januari 2017 pk. 20:37
VC

Bacaan lanjutan:
(1) Y. Singgih Gunarsa. Psikologi untuk keluarga. Jakarta: Gunung Mulia, 2000. Lihat: http://library.um.ac.id/free-contents/index.php/buku/detail/psikologi-untuk-keluarga-oleh-y-singgih-d-sunarsa-dan-singgih-d-sunarsa-19513.html
(2) H. Norman Wright & Gary J. Oliver. Raising kids to love Jesus. Vol. 2. Yogyakarta: Gloria Graffa, 2003
__________________

Publikasi buku yang dapat dipesan secara online:
1. Sangkakala Sudah Ditiup: Apa yang akan Anda lakukan? (Sept. 2016). Dapat dipesan melalui: http://nulisbuku.com/books/view_book/9035/sangkakala-sudah-ditiup
2. Menggugat Eisenman (Nov. 2016). Dapat dipesan melalui email: admin@nulisbuku.com
3. NEW! Teologi Yesus Sobat kita: 10 artikel dialog antara teologi dan sains (Juni 2017). URL: http://nulisbuku.com/books/view_book/9661/teologi-yesus-sobat-kita-10-ar...
4. E-book gratis: Christology Reloaded (2016). url: http://www.unesco.chair.network.uevora.pt/media/kunena/attachments/731/C...
5. 5 books published by Germany publisher: https://www.morebooks.de/gb/search?utf8=?&q=Christianto