Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Barongsai

victorc's picture
Teks: Efesus 6:12
"...karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara."

Shalom, selamat malam saudaraku. Mungkin telah menjadi rahasia umum, bahwa beberapa tradisi budaya lokal di negeri ini amat kental dengan unsur-unsur okultisme dan pemujaan roh-roh (spiritisme), misalnya bisa disebut permainan jailangkung di Jawa atau tarian leak di Bali dll. Meskipun jarang dibahas, tradisi barongsai juga tampaknya kental dengan okultisme/spiritisme kuno semacam itu. Lihat (1).
Untuk lebih jelasnya, berikut ini adalah penuturan seorang teman yang pernah ikut dalam tarian. Barongsai, sebelum dia insyaf dari praktek okultisme/spiritisme  tersebut. Sebut saja namanya K.

Kisah K:
"Pada waktu itu saya tertarik dengan barongsai, namun saya awalnya tidak tahu it apa? Hanya dengan menonton. 
Waktu itu papa saya ketua panitia di gereja paroki ratu Rosari, terus awalnya suka dengan barongsai karena saya suka dengan alunan musik yang begitu meriah. Dengan penuh semangat akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke klenteng dengan teman saya yang bernama Remon. Akhirnya kami sampai di klenteng, dan kami latihan dari jam 19-21.
Sampai 5 kali datang saya belajar kuda-kuda dan latihan fisik. Kemudian saya di hari kelima sudah diperbolehkan untuk memainkan tari barongsai. 
Memang setiap barongsai ada nama dan rohnya. Ketika saya di dalam barongsai itu yang saya rasakan ketakutan yang luar biasa seakan diriku yang paling kuat dan hebat. 
Dan saya mulai belajar yang disebut trim segitiga kepala barongsai dan bujursangkar. Ada teorinya pak. Setelah sudah bisa itu, baru saya diajarkan lompat tinggi dengan cara kepala teman saya itu saya duduki ha ha ha. 
Saya masih semangat.
Ketika mulai down selanjutnya latihan berjalan dengan cara melihat bunga tapi yang melihat bukan saya melainkan mata barongsainya. Di situ saya tambah pusing dan berat seakan tubuhku ini ada yang pakai.  Aku mulai ketakutan dan lalu memutuskan berhenti mengikuti barongsai. Caranya ya melarikan diri padahal sudah ada janji buat ikutan kirab budaya Cina di Kediri, tapi saya menolak.
Itu pak cerita saya mengikuti Barongsai."

Penutup
Demikian sekelumit cerita dari K, kiranya kita semua khususnya para ortu lebih bijaksana dalam mengikutkan anak-anak untuk ikut tarian atau olahraga tradisional yang melibatkan okultisme.
Tentu ini tidak hanya terjadi dalam budaya asal negeri Tiongkok. Budaya lokal juga banyak yang melibatkan unsur okultisme dan pemujaan roh-roh dan kuasa-kuasa gelap, dan praktek ini masih melekat dalam hidup keseharian masyarakat, tidak terkecuali umat Kristen.(2)(3)(4)(5)
Pada akhirnya, kita perlu menyadari bahwa ada tradisi-tradisi kuno yang berjejalin erat dengan okultisme dan kuasa-kuasa gelap. Tentu sebagai umat percaya kita mesti bijak dan menjauhkan diri untuk tidak terlibat di dalamnya.

Versi 1.0: 17 april 2017, pk. 20:38
Versi 1.1: 19 april 2017, pk. 20:20
Versi 1.2: 21 april 2017, pk. 22:36
VC

Referensi:
(1) https://ntprasetyo.wordpress.com/tag/barongsai/
(2) http://sahabat-gembala.blogspot.co.id/2014/03/praktek-sihirokultisme-dan-kuasa-gelap.html
(3) http://silomth.blogspot.co.id/
(4) http://sahabat-gembala.blogspot.co.id/2009/10/kuasa-gelap-di-balik-praktek-spiritisme.html
(5) http://stanleyrambitan.blogspot.co.id/2011/07/okultisme-dan-agama-suku.html
__________________

Dari hamba yang tidak berguna (Lih. Lukas 17:10)

Prepare for the Second Coming of Jesus Christ.