Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Suatu permenungan: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.”

victorc's picture

Suatu permenungan: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.” 

 Victor Christianto

  

Teks: Yohanes 14:6-7a

Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku.

  

Shalom aleikhem,

Bapak ibu dan para sahabat yang terkasih dalam Tuhan Yesus, menyambung artikel sebelumnya mengenai Yohanes 14, pagi ini penulis juga diingatkan akan teks ini: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.” Demikianlah sabda dari Tuhan Yesus kepada para murid-Nya dan juga kepada kita sekalian di abad-21 ini.

Tentu ini suatu hal yang agak sulit diterima, bagi mereka yang percaya bahwa tidak ada kebenaran yang absolut, karena mereka berpendapat bahwa segala sesuatu adalah relatif.

Namun, mari kita cermati satu demi satu kalimat tersebut.

 

“Akulah jalan.”

Pertama-tama, tidak dikatakan “Akulah (penunjuk) jalan.”

Memang banyak orang yang mengaku telah menemukan jalan ke surga, dan memberikan pedoman atau panduan.

Sekalipun mungkin memang ada orang yang menemukan jalan kepada Sang Khalik, namun mereka paling hanya bisa memberikan petanya. Selebihnya ya, para pengikut yang mesti menempuh apa yang tertera di situ, dengan risiko akan tersasar tentunya.

Tidak demikian dengan Yesus Kristus, Dia bukan saja memberikan petunjuk jalan ke negeri yang antah berantah, namun Ia sendiri adalah “JALAN’ itu.

 

Mengapa demikian?

Karena semua manusia pada dasarnya telah berdosa yang artinya memberontak kepada Sang Bapa, artinya semua manusia telah jatuh dari keadaan mulia yang semula saat mereka masih di Taman Firdaus. Hubungan yang karib dengan Allah Bapa itu telah putus, dan semua manusia menghadapi hukuman kekal.

Dan ini dapat diketahui dengan mudah yakni begitu sulitnya kita menjalin komunikasi lagi dengan Bapa. Kalaupun kita berseru dengan doa-doa kita, paling-paling tidak akan digubris.

Justru karena itu, dalam kebesaran kasihNya, Sang Bapa mengutus Putra Allah untuk menjadi manusia, turun ke bumi dan hidup sebagaimana manusia biasa, namun tidak berdosa, sehingga Ia layak menjadi Perantara bagi Perjanjian Damai antara Bapa dan manusia. Dan ini dilakukan oleh Yesus, yang telah menjadi manusia dan masuk dalam sejarah manusia sekitar 2000 tahun lalu.

 

Demikian firman Tuhan:

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yoh. 3:16)

Dengan kata lain, dengan cara menjadi korban (sebagai Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia), dan sekaligus sebagai Imam Besar menurut peraturan Melkisedek (lihat di Surat Ibrani), Yesus telah menjadi jalan pendamaian antara Bapa dan manusia.

Hukuman atas dosa-dosa umat manusia yang seharusnya kita pikul, telah ditumpahkan kepada Yesus di atas kayu salib, dan Alkitab menyaksikan bahwa saat wafat-Nya, tirai di Bait Suci terbelah dari atas ke bawah. Makna spiritualnya adalah Tuhan bersedia untuk kembali didekati oleh umatNya, tanpa perantaraan imam besar dan tanpa harus membawa korban persembahan dan korban tahunan berupa hewan. Karena Yesus Kristus telah menjadi Sang Korban Pendamaian tersebut.

Itulah makna  nubuat nabi Yesaya : “…oleh bilur-bilurNya kita menjadi sembuh.”

 

“Akulah hidup.” 

Dengan cara itu, Yesus juga adalah Sang Hidup dan Sang Pembawa Kehidupan. Karena melalui pengorbananNya di atas kayu salib, Dia membawa kembali hubungan yang akrab dengan Bapa kepada manusia. Dan di mana ada hubungan spiritual yang karib dengan Bapa, di situlah ada kehidupan.

 

“Akulah kebenaran.” 

Dalam teks ini juga tidak dikatakan: “Akulah penunjuk kebenaran.”

Artinya, Yesus tidak hanya menunjukkan kepada murid-muridNya jalan untuk hidup benar, namun Ialah kebenaran Allah itu. Dan hanya melalui dan di dalam Dialah, manusia dapat dibenarkan di hadapan Bapa. (Lihat Surat Roma 1:17).

Bahwa Tuhan Sang Pemilik dunia ternyata pernah turun dan berjalan di muka bumi, memang merupakan hal yang menakjubkan. Namun tragisnya, Ia justru dibunuh oleh manusia, yang merupakan ciptaanNya sendiri.

 

Demikianlah kesaksian Firman Tuhan:

Ia datang kepada milik kepunyaanNya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya.” (Yoh. 1:11)

 

Mengapa sebegitu buruk perlakuan manusia kepada Sang Khalik, Sang Pencipta yang Mahakuasa? Inilah kebenarannya:

Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan daripada terang.” (Yoh. 3:19).

 

Inilah pokok persoalan sebenarnya, orang terlalu mencintai kegelapan dan segala macam dusta, sampai-sampai mereka menolak ketika Sang Terang itu datang untuk menolong mereka.

 

Ibaratnya, ketika seorang tenggelam dan ada seorang yang terjun untuk menolongnya keluar dari situ, malah si penolong itu yang dia tolak.

 

Bukankah ini hal yang sangat ironis?

 

Ya memang demikiankah halnya. Dan sampai saat ini, sebenarnya dunia ini penuh dengan berbagai lapisan demi lapisan dusta. Kita pun kerap kali terpaksa menelan lapisan-lapisan dusta itu.

 

Namun inilah pesan yang patut disampaikan kepada semua orang yang rindu akan kebenaran:

Teruslah mencari kebenaran dengan segenap hatimu, maka suatu hari kelak Kebenaran itu sendiri akan menampakkan diri kepadamu.”

 

Karena demikianlah tertulis:

 

Berbahagialah mereka yang haus dan lapar akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.” (Khotbah di atas bukit, Matius 5).

 

 

Penutup 

Demikian permenungan singkat akan teks Yoh. 14:6 tersebut, semoga menguatkan bagi para pembaca sekalian.

Ijinkan penulis menutup artikel ini dengan suatu kalimat dari Alexander Solszhenitsyn:

One man who stopped lying could bring down a tyranny.” (Kutipan dari The Gulag Archipelago)*

 

Gulag writer

Aleksandr Solzhenitsyn

 

Versi 1.0: 25 September 2021, pk. 15:31

Versi 1.1: 25 September 2021, pk. 21:09

VC

 

*sumber: Quote by Aleksandr Solzhenitsyn: “One man who stopped lying could bring down a ty...” (goodreads.com)

__________________

Dari hamba yang tidak berguna (Lih. Lukas 17:10)

Prepare for the Second Coming of Jesus Christ.